(Untuk guru, seniman, dan penjaga ruh bangsa di segala zaman)
Guru berjalan menyalakan api,
di lorong sunyi yang hampir padam,
menanam iman di relung hati,
mengajak umat menuju salam.
O, cahaya penjaga ruh bangsa,
berpendar di dada setiap jiwa.
Seniman bersyair di tengah bencana,
mengukir makna di atas debu,
menjaga rasa dari nestapa dunia,
melantunkan harap dalam syair syahdu.
O, cahaya penjaga ruh bangsa,
berpendar di dada setiap jiwa.
Budaya bukan barang pasar,
bukan perhiasan yang mudah digadai;
ia darah, ia nadi yang mengakar,
warisan suci yang tak boleh lalai.
O, cahaya penjaga ruh bangsa,
berpendar di dada setiap jiwa.
Teknologi berlari secepat cahaya,
namun iman jangan sampai terbakar;
di balik layar dan mesin dunia,
ruh suci harus tetap mengakar.
O, cahaya penjaga ruh bangsa,
berpendar di dada setiap jiwa.
Kami bersumpah di hadapan langit,
mengangkat guru sebagai panutan,
menghormati seniman penjaga batin,
membela budaya sepanjang zaman.
O, cahaya penjaga ruh bangsa,
berpendar di dada setiap jiwa.
Kami berjalan membawa dzikir,
melangkah di jalan ridha Ilahi,
menjadi penjaga ruh yang hadir,
di antara zaman dan badai ini.
O, cahaya penjaga ruh bangsa,
abadi dalam pelukan Tuhan Yang Esa.
Di tengah badai zaman yang menggoda ruh bangsa,
guru dan seniman berdiri tegak —
seperti pelita yang tak pernah padam,
seperti doa yang berbisik dalam relung hati,
menghidupkan kembali makna,
menjaga marwah budaya dan iman.
Kita adalah saksi dan penerus sumpah mereka.









