Breaking News

Syair Riwayat Malikul Saleh

Bab I: Cahaya dari Pesisir
(Bait 1–50)

1.

Bismillah mula pena berjalan,
menyusun kisah jadi ingatan,
riwayat raja penuh kebajikan,
termasyhur nama sepanjang zaman.

2.

Di tanah utara ujung Sumatra,
ombak berzikir siang dan senja,
lahir seorang pembawa cahaya,
kelak jadi suluh seluruh desa.

3.

Hutan rimba masih merimbun,
burung bernyanyi di dahan raun,
angin membawa khabar berdaun,
akan lahir insan berhati santun.

4.

Bukan dari megah ia dikenal,
bukan kerana emas yang tebal,
tetapi budi yang amat kekal,
serta hati jernih tiada gundal.

5.

Masa kecilnya tekun belajar,
memandang langit mencari kabar,
pada fakir ia ringan sabar,
pada sengketa jadi penawar.

6.

Air sungai jernih mengalir tenang,
ia menatap dalam berbilang,
katanya hidup janganlah garang,
sebab manusia singgah sebentar pulang.

7.

Orang tua kampung sangat memuji,
anak muda sopan berbudi tinggi,
tak suka dusta tak gemar janji,
perkataan lurus bagai besi.

8.

Saat dewasa akalnya terang,
ramai mendekat meminta timbang,
yang bermusuhan dibuat senang,
yang resah pulang hati lapang.

9.

Di pasar ramai ia berjalan,
menyapa pedagang dengan senyuman,
tak memilih miskin atau bangsawan,
semua dipandang sama ciptaan Tuhan.

10.

Malam pun tiba berbintang banyak,
ia bertafakur dada terenyak,
mencari makna hidup yang layak,
agar langkah tiada terjerat jebak.

11.

Dengar khabar dari negeri jauh,
para saudagar datang berlabuh,
membawa ilmu bening dan teduh,
tentang agama yang amat kukuh.

12.

Duduk ia lama di tepi pelita,
mendengar kisah penuh berita,
tentang Yang Esa Maha Pencipta,
yang rahmat-Nya luas tiada nyata.

13.

Hatinya bergetar halus sekali,
bagai disentuh embun pagi,
segala sombong luruh sendiri,
tinggal rindu kepada Ilahi.

14.

Ia bertanya dengan santun,
apa jalan hati berdaun sejukun,
jawab musafir dengan tekun,
ikhlaslah diri sebelum uzur turun.

15.

Malam panjang menjadi saksi,
jiwa resah mencari isi,
bintang di langit bagai bersaksi,
bahwa cahaya sedang menghampiri.

16.

Subuh datang lembut berseri,
burung memecah sunyi pagi,
ia merasa baru sekali,
dunia dekat akhirat di hati.

17.

Maka dipeluk jalan kebenaran,
dengan syukur dan penuh kesadaran,
bukan kerana takut hukuman,
melainkan cinta pada Tuhan.

18.

Nama harum mulai disebut,
dari muara sampai ke bukit,
seorang pemimpin sedang terbit,
membawa damai bagi yang rumit.

19.

Kala sengketa datang melanda,
dua kampung hampir berdarah lada,
ia hadir menahan amarah,
air mata jatuh, perang pun reda.

20.

Katanya marah api membakar,
menang sesaat hati terbakar,
lebih utama sabar yang benar,
sebab dendam hanya menukar pagar.

21.

Rakyat mendengar kata berhikmah,
bagai hujan turun ke tanah gersah,
yang keras luluh yang kusut cerah,
yang luka perlahan sembuh basah.

22.

Lalu para tua bermusyawarah,
siapa layak memegang amanah,
nama dirinya disebut marah?
tidak—semua setuju tanpa bantah.

23.

Ia menunduk tanda rendah,
jabatan berat bukanlah mudah,
jika zalim jiwa akan rebah,
jika adil jadi jalan berkah.

24.

Namun rakyat datang beramai,
membawa harap tak putus damai,
wahai tuan pimpinlah kami,
agar negeri teguh kembali.

25.

Maka diterima amanah besar,
dengan air mata hati bergetar,
katanya aku insan yang fakir,
jika salah tegurlah hadir.

26.

Naiklah ia ke singgasana,
bukan mencari megah dunia,
tetapi hendak menjaga manusia,
serta hukum dengan saksama.

27.

Nama Samudera Pasai mulai bercahaya,
pelabuhan ramai siang dan maya,
kapal datang dari mana-mana,
membawa rempah dan kisah dunia.

28.

Di balai istana dibuka pintu,
orang miskin boleh mengadu,
yang teraniaya jangan membisu,
raja mendengar dengan syahdu.

29.

Hakim dipilih orang amanah,
tidak tamak tidak mudah goyah,
hukum ditegak lurus terarah,
agar rakyat hidup berkah.

30.

Sawah dibuka ladang disiram,
jalan dibina titian ditanam,
yang malas diingat dengan salam,
yang rajin dipuji siang malam.

31.

Para ulama dimuliakan,
guru-guru diberi tempatkan,
anak kecil diajar bacakan,
ilmu jadi pelita kehidupan.

32.

Masjid dibangun di tengah kota,
azan berkumandang menyentuh jiwa,
pedagang berhenti menunduk serta,
ingat rezeki datang dari-Nya.

33.

Bukan sahaja ibadah dijaga,
niaga pun diatur penuh tenaga,
timbang dan ukur jangan berdusta,
curang sedikit rusak negara.

34.

Datang saudagar dari seberang,
takjub melihat negeri gemilang,
raja sederhana tiada garang,
namun hukum tegas terbilang.

35.

Mereka berkata alangkah elok,
pemimpin begini jarang cocok,
harta tak dibawa masuk ke pokok,
tetapi dipakai menolong banyak.

36.

Malam-malam raja sering menyamar,
melihat rakyat hidup yang benar,
siapa lapar siapa yang gusar,
agar esok cepat disebar.

37.

Pernah didapat janda menangis,
anak kecil tidur teriris,
gudang penuh namun dapur habis,
pagi bantuan datang manis.

38.

Tak seorang tahu siapa pemberi,
hanya jejak kaki di tepi negeri,
namun rakyat mengerti sendiri,
raja berjalan saat sunyi.

39.

Begitulah harum nama baginda,
bukan sebab tombak dan kuda,
tetapi rahmat yang nyata ada,
pada lidah tua dan muda.

40.

Jika perang datang mengancam,
ia siaga menjaga alam,
namun damai lebih ia tanam,
daripada darah memenuhi malam.

41.

Katanya pedang ada waktunya,
tetapi maaf lebih mulianya,
jika lawan tunduk insaf jiwa,
bukakan pintu persaudaraan pula.

42.

Musim berganti tahun berjalan,
negeri makmur penuh tanaman,
laut memberi ikan berlimpahan,
pasar riuh oleh dagangan.

43.

Anak-anak bermain riang,
wanita menenun hingga petang,
orang tua duduk sembahyang,
memuji zaman aman datang.

44.

Namun raja tetap merendah,
tak mahu puji melimpah-limpah,
katanya manusia hanya singgah,
kubur kelak tempat berpindah.

45.

Sering ia ziarah tanah pekuburan,
mengingat akhir segala urusan,
agar kuasa tak jadi racun,
dan hati tetap dalam tuntunan.

46.

Para penulis mulai mencatat,
riwayat baik jangan terlambat,
supaya anak cucu kelak ingat,
adil itu mahal amat.

47.

Nama Malikul Saleh makin berseri,
bagai bulan empat belas hari,
sinarnya sampai ke negeri-negeri,
dibawa kapal dan para pelari.

48.

Tetapi hidup bukan selamanya,
setiap puncak ada turunnya,
setiap jumpa ada pisahnya,
demikian hukum dari Yang Esa.

49.

Maka dengarlah bab berikut nanti,
tentang ujian datang silih ganti,
bagaimana raja menjaga hati,
saat badai mengetuk negeri.

50.

Tamatlah dulu bab pertama,
tentang cahaya mula menyala,
jika tuan berkenan membaca,
kan kusambung bab kedua segera. ‎