L K Ara
Saya menulis puisi ini bukan semata untuk merekam sebuah peristiwa, tetapi untuk menangkap getar yang tak selalu bisa dijelaskan oleh berita atau laporan resmi. Malam itu, di Taman Ismail Marzuki, saya menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi: seorang kepala daerah berdiri bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penjaga kata.
Illiza tidak datang membawa kekuasaan. Ia datang membawa suara. Dan suara itu tidak keras, tidak meledak-ledak—justru tenang, seperti air yang mengalir dari pegunungan Aceh menuju laut yang luas. Dalam ketenangan itu, saya melihat kekuatan yang lain: kekuatan puisi.
Mengapa saya menulisnya?
Karena saya percaya bahwa tidak semua cahaya lahir dari api besar. Ada cahaya yang kecil, yang tampak sederhana, tetapi mampu bertahan lama dan menerangi banyak jiwa. Malam itu, saya melihat cahaya itu—seperti lilin yang tidak memaksa terang, tetapi cukup untuk membuat orang tidak tersesat.
Puisi ini adalah usaha saya untuk menyebut cahaya itu.
Saya juga menulis karena ada jarak—jarak antara Aceh dan Jakarta, antara sejarah dan masa depan, antara luka dan harapan. Puisi menjadi jembatan yang bisa menyeberangi semua itu tanpa suara gaduh. Ketika Illiza berbicara tentang cinta yang murni dan kata yang bersih, saya merasa itu bukan hanya pesan untuk penyair, tetapi juga untuk bangsa.
Di situlah puisi bekerja: ia tidak mengubah dunia secara langsung, tetapi ia mengubah cara kita memandang dunia. Dan dari cara pandang itulah perubahan perlahan lahir.
Puisi ini juga saya tulis sebagai bentuk penghormatan. Bukan hanya kepada seorang tokoh, tetapi kepada kemungkinan—bahwa kekuasaan bisa bersanding dengan kebudayaan, bahwa pemimpin bisa berbicara dengan bahasa hati, bukan hanya bahasa kebijakan.
Saya ingin merekam momen ketika Aceh hadir bukan sebagai daerah konflik, bukan sebagai berita duka, tetapi sebagai sumber cahaya. Sebagai wilayah yang mengirimkan kelembutan melalui kata-kata.
Dan lebih dari itu, saya menulis karena ada harapan.
Harapan bahwa suatu hari, panggung seperti PPN tidak hanya menjadi tempat bertemu, tetapi juga tempat kembali. Kembali ke akar, ke tanah yang melahirkan kata-kata itu sendiri. Banda Aceh bukan sekadar lokasi geografis, tetapi ruang batin yang menunggu untuk dihidupkan kembali oleh puisi.
Jika puisi ini saya sebut sebagai lilin, maka saya berharap ia tidak padam di halaman kertas. Ia harus berpindah—dari mata ke hati, dari hati ke tindakan.
Karena pada akhirnya, saya menulis puisi bukan untuk dikenang, tetapi untuk menyalakan sesuatu—sekecil apa pun itu—di dalam diri pembacanya.
Dan malam itu, di panggung TIM, saya melihat sebuah lilin dinyalakan.
Saya hanya menuliskannya, agar cahayanya tidak hilang.










