L K Ara
Di antara hiruk kata-kata
yang berjatuhan seperti daun kering
di musim yang lupa arah,
kita sering lupa—
bahwa lidah
bukan sekadar alat bicara,
melainkan pintu
antara jiwa dan langit.
Ada kata yang lahir
tanpa wudhu,
tanpa niat,
tanpa ingat
ke mana ia akan kembali.
Padahal,
setiap huruf yang kita lepaskan
adalah benih—
ia bisa tumbuh menjadi pohon cahaya,
atau semak gelap
yang melukai langkah sendiri.
Maka seorang tua pernah berbisik
di sudut sunyi hatiku:
“Jadikan lidahmu taman.”
Bukan taman biasa—
tetapi taman zikir,
tempat nama Allah
bersemi tanpa musim,
berbunga tanpa lelah,
dan mengalir seperti air
yang tak pernah keruh.
Di taman itu,
kata-kata tidak liar,
ia tertata seperti tasbih
yang jatuh satu per satu
ke dalam kesadaran.
Subhanallah—
angin menjadi lembut.
Alhamdulillah—
luka menjadi ringan.
Allahu Akbar—
dunia terasa kecil,
dan akhirat mendekat
seperti cahaya subuh
di kaki gunung yang sabar.
Namun di luar taman itu,
kata-kata bisa menjadi api—
membakar tanpa sadar,
menghanguskan tanpa suara.
Betapa banyak manusia
tersesat bukan karena jalan,
tetapi karena lidahnya sendiri
yang berjalan tanpa penjaga.
Ia berkata
hanya untuk didengar,
bukan untuk dimaknai.
Ia bicara
hanya untuk menang,
bukan untuk benar.
Padahal,
diam pun punya bahasa—
bahasa yang tidak melukai,
bahasa yang mengendapkan hikmah
di dasar jiwa.
Ada diam
yang lebih lantang
dari ribuan pidato.
Ada sunyi
yang lebih jernih
dari seribu nasihat.
Jika kata-katamu
tidak menuju langit,
tidak menjadi cahaya
bagi perjalanan pulang,
maka diamlah—
sebab diam
adalah taman yang belum rusak,
adalah doa
yang belum tercemar,
adalah cermin
yang masih jujur
menyimpan wajahmu sendiri.
Dan di ujung usia,
ketika napas tinggal hitungan,
kita akan tahu—
kata mana yang menjadi pelita,
dan kata mana
yang hanya menjadi bayang-bayang
yang menakutkan.
Maka sebelum senja
menutup halaman hidup,
rawatlah lidahmu
seperti merawat iman:
tanami ia dengan zikir,
sirami dengan niat,
dan biarkan ia berbunga
hanya untuk Allah.
Karena pada akhirnya,
kita tidak akan ditanya
berapa banyak kita bicara—
tetapi
seberapa dekat
kata-kata itu
membawa kita
kepada-Nya.
Kalanareh, Mei 2026










