Breaking News

Mengapa Hujan Es Terjadi?

Hujan es di perkebunan kopi Aceh Tengah. Foto: Fathan Muhammad Taufiq

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq 

Hari Sabtu sore (4/4/2026) warga kecamatan Atu Lintang, dikejutkan dengan adanya fenomena alam berupa hujan es yang kembali terjadi di wilayah kecamatan Atu Lintang. 

Ratusan warga di beberapa kampung di kecamatan tersebut seperti Gayo Murni, Damar Mulyo, Merah Muyang, Kepala Akal dan Atu Lintang serta beberapa kampung di sekitarnya, merasakan dampak langsung dari kejadian langka tersebut. 

Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, tetiba saja mereka dikejutkan oleh turunnya hujan deras disertai angin kencang yang disusul berjatuhannya butiran-butiran es dengan ukuran lumayan besar dalam jumlah sangat banyak menimpa rumah, pekarangan dan kebun mereka. 

Atap rumah warga yang sebagian besar terbuat dari seng seperti dijatuhi ribuan batu kerikil dari langit dengan suara gemeretak mengemuruh yang membuat warga panik luar biasa. Rumah-rumah dengan atap seng yang sudah agak tua, bahkan jebol tidak mampu menahan “serbuan” ribuan butiran es berukuran rata-rata sebesar kelereng itu, bahkan ada yang lebih besar lagi.

Kejadian itu sebenarnya bukanlah yang pertama terjadi di daerah dengan ketinggian sekitar 1.500 mdpl ini, pada tahun 2015, 2019 dan 2023 yang lalu, daerah ini juga pernah mengalami kejadian serupa.

Namun kejadian hari Sabtu sore ini terhitung lebih dahsyat dari kejadian terakhir 3 tahun yang lalu, selain cakupan wilayahnya lebih luas dan butiran es yang lebih besar, hujan es yang terjadi kemarin juga telah berdampak kerusakan pada puluhan hektare lahan pertanian di wilayah ini serta merusak puluhan rumah warga, terutama pada bagian atap yang terbuat dari seng, ini yang membuat warga setempat trauma.

*Mengapa Hujan Es terjadi?

Menurut teori klimatologi, hujan es sebenarnya merupakan fenomena alam biasa yang bisa terjadi kapan dan dimana saja. Hujan es terjadi akibat proses presipitasi hujan yang terjadi tidak sempurna akibat perbedaan suhu permukaan dengan suhu atmosfer yang cukup signifikan. Pada proses normal, presipitasi terjadi ketika gumpalan awan yang berisi uap air yang sudah membeku berubah menjadi titik-titik air ketika memasuki atmosfer bumi.

Namun dalam peristiwa hujan es, karena suhu atmosfer yang sangat rendah, menyebabkan presipitasi tidak terjadi secara sempurna, akibatnya butiran-butiran uap air beku turun masih dalam bentuk gumpalan atau butiran-butiran es dengan ukuran bervariasi. 

Gesekan dengan udara dingin di atmorfer, tidak mampu memecah butiran-butiran es tersebut menjadi titik titik air hujan, sehingga ketika sampai ke permukaan bumi masih berbentuk butiran-butiran es, fenomena inilah yang kemudian disebut sebagai hujan es. Kerusakan lingkungan dan dampak perubahan iklim global, ditengarai menyebabkan intensitas kejadian seperti ini lebih sering terjadi.

*Merusak rumah dan tanaman pertanian

Menurut beberapa warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, hujan es itu terjadi secara tiba-tiba sekitar jam 16.30 waktu setempat. 

“Awalnya cuma hujan biasa disertai angin kencang, tapi lama² hujannya berubah jadi butiran-butiran es dengan ukuran cukup besar” ungkap warga. Ini yang membuat warga panik dan berlarian menyelamatkan diri.

Meski kejadian tersebut hanya sebentar tapi cukup banyak bitiran es yang menutupi beberapa kampung di kecamatan Atu Lintang.

Dari hasil pengecekan ke beberapa tempat, butiran es yang sangat banyak itu menutupi puluhan hektar lahan pertanian, khususnya kebun kopi dan rata-rata tanaman yang terdampak mengalami kerusakan. Butiran-butiran es itu juga sangat keras, sampai bisa menembus seng, sehingga beberapa rumah warga mengalami kerusakan di bagian  atap. Beberapa jenis tanaman hortikultura seperti cabe, tomat, bawang merah, langsung menampakkan kerusakan pasca terjadinya hujan es tersebut, begitu juga tanaman tahunan seperti kopi juga mengalami kerusakan terutama pada bagian daun dan cabang.

Tapi sejatinya kerusakan pada tanaman bukan hanya terjadi ketika berlangsungnya hujan es, ada efek kimiawi yang ditimbulkan oleh hujan es dan baru terlihat gejalanya beberapa hari setelah terjadinya hujan es.

Kalau pada saat terjadinya hujan es, kerusakan tanaman hanya berupa kerusakan fisik, tapi yang lebih berbahaya adalah dampak kimia pasca hujan es, kenapa demikian?

Pada saat terjadi hujan es tahun 2015 yang lalu, penulis sempat melakukan pengamatan terhadap fisik butiran es dan dampaknya terhadap tanah atau lahan pertanian. Dari pengamatan yang penulis lakukan, ternyata hujan es ini bersifat sangat asam, pH (tingkat keasaman)nya cukup tinggi yaitu sekitar 3,0 sementara pH tanah yang terkena hujan es berkisar antara 3,5 sampai 4,0. Tingkat keasaman yang tinggi ini tentu tidak baik bagi tanaman, karena bisa membuat tanaman menguning, kering kemudian mati. Ini bisa terjadi beberapa hari setelah terjadinya hujan es, tanaman kopi atau tanaman lainnya yang lahannya terkena langsung hujan es, akan mati dalam beberapa hari. Ini pernah penulis amati secara langsung di lapangan selama beberapa hari pasca hujan es. Apakah bisa diantisipasi? tentu saja bisa, tapi membutuhkan tenaga ekstra, karena semua tanaman dan lahan yang terkena hujan es harus disiram dengan air bersih dalam jumlah banyak untuk menetralisir tingkat keasaman tanah sampai pH nya normal kembali (mendekati 7,0).

Dari catatan penulis, wilayah kecamatan Atu Lintang dan Jagong Jeget merupakan wilayah yang sering dilanda fenomena hujan es ini. Dalam sebelan tahun terakhir, tercatat sudah terjadi empat kali hujan es dengan skala cukup besar di wilayah ini, yaitu pada tahun 2015, 2019, 2023 dan tahun 2026 ini. Kenapa ini bisa terjadi? Wilayah ini merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian rata² diatas 1.500 MDPL. Dengan ketinggian seperti ini, suhu udara di wilayah ini relatif lebih dingin dibandingkan dengan wilayah lainnya. 

Pada waktu-waktu tertentu, suhu udara di wilayah ini terasa sangat dingin, ini yang kemudian memicu terjadinya hujan es.

Ini yang kemudian membuat wilayah ini lebih sering terjadi fenomena hujan es ini.