L K Ara
Saya menulis puisi ini
di sebuah zaman
di mana kata-kata tampak sangat sopan—
hingga kebenaran pun
dipersilakan menunggu di luar.
Di sini,
semua orang pandai memilih diksi,
terutama untuk tidak mengatakan apa-apa.
Kata “jujur”
dipakai dengan sangat hati-hati—
agar tidak melukai kebiasaan.
Kata “amanah”
diucapkan berulang-ulang,
seperti doa,
yang entah kepada siapa
ia sebenarnya ditujukan.
Saya melihat kata-kata
berpakaian rapi,
berjalan tegak di depan umum,
lalu diam-diam
berbelok di tikungan makna.
Tidak ada yang salah, katanya.
Semua hanya “penyesuaian”.
Semua hanya “strategi”.
Semua hanya “kepentingan bersama”
yang kebetulan
tidak pernah benar-benar bersama.
Di ruang-ruang penting,
kata disusun begitu indah—
hingga luka tampak seperti keberhasilan,
dan kegagalan
diberi nama baru:
“proses yang belum selesai.”
Betapa santunnya zaman ini.
Orang tidak lagi berbohong,
mereka hanya “mengelola narasi”.
Tidak lagi menutup-nutupi,
hanya “menyederhanakan fakta”.
Tidak lagi mengingkari,
hanya “meluruskan persepsi.”
Dan kami pun belajar—
mengangguk dengan bijak,
meski hati diam-diam bertanya:
sejak kapan cahaya
butuh izin untuk bersinar?
Saya menulis puisi ini
bukan untuk melawan mereka—
itu terlalu besar untuk kata sekecil ini.
Saya hanya ingin mengingatkan,
barangkali pada diri sendiri:
bahwa kata yang terlalu sering dibengkokkan
akan lupa
bagaimana caranya lurus.
Bahwa suatu hari nanti,
kita mungkin masih bisa berbicara,
tetapi tidak lagi tahu
mana yang benar-benar kita maksud.
Dan saat itu tiba,
kita akan sangat fasih—
namun sepenuhnya gelap.
Maka biarlah puisi ini
menjadi catatan kecil:
bahwa pernah ada keganjilan
yang kita anggap biasa.
Bahwa pernah ada cahaya
yang kita redupkan perlahan—
bukan karena ia padam,
tetapi karena kita
terlalu nyaman
dengan terang yang pura-pura.
Kalanareh, April 2026










