Oleh: L K Ara
Ada kalanya manusia ingin pergi bukan untuk melihat tempat, melainkan untuk mendengar dirinya sendiri. Dan bagi saya, salah satu tempat itu adalah makam Sultanah Nahrasiyah di tanah tua Samudera Pasai.
Sudah lama saya ingin datang ke sana.
Bukan sebagai wisatawan sejarah yang sibuk memotret batu nisan, tetapi sebagai seorang pengembara batin yang ingin belajar tentang sunyi. Sebab makam orang-orang besar selalu menyimpan pelajaran yang tidak diajarkan sekolah: tentang waktu, tentang kefanaan, dan tentang bagaimana nama seseorang bisa tetap hidup meski tubuhnya telah lama menjadi tanah.
Saya membayangkan sore yang redup ketika tiba di Pasai. Angin laut bergerak perlahan membawa aroma garam dan usia. Rumput-rumput tua tumbuh diam di sekitar makam. Burung-burung melintas rendah seperti sedang menjaga sesuatu yang sakral. Lalu di hadapan pusara itu, saya mungkin hanya akan berdiri lama tanpa kata.
Kadang sejarah paling dalam memang tidak berbicara dengan suara keras.
Ia hanya hadir sebagai getaran kecil di dada.
Tentang Sultanah Nahrasiyah, saya selalu merasa Aceh pernah memiliki cahaya yang sangat anggun. Seorang perempuan yang hidup pada masa ketika dunia belum ramah kepada perempuan, tetapi namanya tetap berdiri tegak di tengah sejarah. Ia bukan sekadar penguasa. Ia adalah tanda bahwa peradaban besar lahir bukan hanya dari pedang dan kekuasaan, melainkan juga dari ilmu, martabat, dan kebijaksanaan.
Konon, nisannya dipahat sangat indah. Kaligrafinya seperti doa yang dibekukan di atas batu. Setiap ukiran seakan sedang berkata bahwa waktu boleh berjalan jauh, tetapi kemuliaan tidak selalu ikut hilang.
Saya sering berpikir: mengapa manusia modern begitu takut kepada kesunyian?
Kita memenuhi hidup dengan kebisingan—berita, pujian, pertengkaran, ambisi, dan perlombaan menjadi penting. Padahal pada akhirnya, semua manusia akan sampai pada tempat yang sama: sebuah liang sunyi di bawah tanah. Di makam seperti makam Sultanah itu, saya kira manusia akan lebih mudah memahami bahwa hidup sesungguhnya amat pendek.
Mahkota bisa hilang.
Istana bisa runtuh.
Kekuasaan bisa berpindah tangan.
Tetapi nama baik akan tinggal lebih lama daripada usia tubuh manusia.
Mungkin karena itulah saya ingin datang ke sana. Saya ingin duduk sejenak di dekat pusara tua itu sambil membaca Al-Fatihah perlahan. Saya ingin membiarkan hati saya berbicara dengan sejarah. Saya ingin belajar bahwa kebesaran sejati tidak selalu bersuara keras.
Sebab bunga yang paling harum justru tumbuh dalam diam.
Aceh hari ini sering sibuk mengejar masa depan hingga lupa menoleh kepada jejak masa lalunya sendiri. Padahal di makam-makam tua itulah sesungguhnya tersimpan wajah asli sebuah bangsa. Di sana ada ingatan tentang adab. Tentang ilmu. Tentang bagaimana manusia dahulu membangun peradaban tanpa kehilangan jiwa.
Dan saya percaya, orang yang datang berziarah dengan hati yang jernih tidak akan pulang dengan jiwa yang sama.
Ada sesuatu dari makam orang saleh dan orang besar yang diam-diam mengubah batin kita. Mungkin bukan karena batu nisannya. Bukan pula karena kisah sejarahnya semata. Tetapi karena di hadapan kematian, manusia akhirnya dipaksa jujur kepada dirinya sendiri.
Kelak bila saya benar-benar tiba di pusara Sultanah Nahrasiyah, saya kira saya tidak akan meminta apa-apa selain hati yang lebih tenang.
Karena di tempat sunyi seperti itu, saya ingin belajar menjadi manusia yang tidak terlalu bising di dunia.









