Di bawah Gunongan
yang lebih tua dari janji politik,
para penyair berdiri
membawa luka
dan mikrofon yang kadang lebih jujur
daripada rapat-rapat resmi.
Malam itu
Banda Aceh tampak sopan,
lampu-lampu menyala
seperti senyum pejabat
saat kamera dinyalakan.
Penyair membaca puisi—
bukan puisi cinta
yang bisa dibacakan sambil minum kopi,
tetapi puisi tentang tanah
yang dijual
dengan stempel basah
dan hati yang sudah kering.
“Sobekan Perca Tanah Gayo,”
katanya,
dan beberapa orang bertepuk tangan
tanpa tahu
mereka sedang menepuki
kuburan masa depan.
“Kencing Cukong,”
katanya lagi,
dan sebagian wajah tersenyum tipis—
barangkali merasa
judul itu terlalu jujur
untuk acara yang dibiayai negara.
Di sudut sana
Gunongan diam saja,
sebab bangunan tua
tak suka berdebat
dengan manusia yang gemar
menjual gunung
lalu menanam seminar.
Katanya: pembangunan.
Katanya: investasi.
Katanya: demi rakyat.
Rakyat yang mana?
Barangkali rakyat
yang tinggal di brosur-brosur.
Hutan ditebang
dengan doa pembukaan.
Sungai diracun
dengan sambutan kehormatan.
Ikan mati
tetapi proposal hidup abadi.
Betapa salehnya negeri ini—
korupsi dibuka dengan basmalah,
perusakan alam ditutup
dengan foto bersama.
Penyair hanya bisa membaca puisi,
karena bila membaca laporan keuangan
barangkali mikrofon pun
akan ikut ditangkap.
Dan Gunongan,
malam itu,
tertawa pelan
dengan lumut di bibirnya:
“Manusia memang lucu—
mereka menanam beton
lalu mencari burung
untuk dijadikan logo wisata.”
Sementara tanah
terus menunggu
seseorang yang cukup waras
untuk mencintainya
tanpa proposal.
Banda Aceh, April 2026










