Oleh: LK Ara
Pagi itu tidak benar-benar pagi—
ia hanya cahaya yang dipaksa lahir
di atas sungai yang keruh,
di antara suara air
yang seperti membaca doa tanpa huruf.
Anak-anak itu
tidak sedang berangkat sekolah—
mereka sedang menyeberangi nasib
yang belum selesai ditulis.
Sangkar besi itu berderit pelan,
seperti ingatan tua
yang dipaksa mengingat masa depan.
Di dalamnya, tubuh-tubuh kecil duduk diam,
bukan karena tak takut—
tapi karena takut telah mereka jinakkan
menjadi keberanian.
Angin menampar pipi mereka,
air menggertak di bawah kaki,
dan dunia—
entah sedang melihat
atau pura-pura lupa.
Di mana letak harapan?
Bukan di kota yang sibuk merias diri,
bukan di jalan-jalan yang halus seperti janji,
bukan di kendaraan yang melaju
tanpa sempat memahami arti sampai.
Harapan—
ternyata memilih tempat yang sunyi.
Ia bersembunyi
di tangan kecil yang menggenggam jeruji,
di mata yang menatap seberang
seperti menatap masa depan
yang tak pernah benar-benar pasti.
Ia tumbuh
di antara rasa takut yang ditelan,
di antara doa yang tidak diucapkan,
di antara langkah yang tak punya pilihan
selain terus berjalan.
Barangkali,
harapan bukan sesuatu yang menunggu di ujung—
melainkan sesuatu yang lahir
setiap kali mereka tidak berhenti.
Dan sungai itu—
yang kita kira memisahkan—
diam-diam justru mengajarkan:
bahwa harapan
tidak pernah tinggal di tempat yang aman,
ia selalu berpindah—
mengikuti mereka
yang berani menyeberang.










