Breaking News

Mengapa Saya Menulis Puisi:Tawaf Sunyi di Wih Kanis

Oleh: LK Ara

Saya menulis puisi ini bukan untuk menggambarkan sebuah jembatan yang rapuh,
tetapi untuk memahami mengapa manusia sering merasa paling rapuh
justru ketika ia sedang paling dekat dengan Tuhannya.

Di Wih Kanis, saya tidak hanya melihat kayu yang nyaris patah,
atau sungai yang membawa sisa-sisa luka—
saya melihat diri saya sendiri,
yang berjalan di atas ketidakpastian
dengan iman yang kadang goyah, kadang tegak tanpa suara.

Puisi ini lahir dari langkah yang pelan,
dari rasa takut yang jujur,
dan dari kesadaran bahwa
tidak semua perjalanan harus kuat di luar
untuk menjadi utuh di dalam.

Saya menyebutnya “tawaf sunyi”
karena saya merasakan sesuatu yang berputar—
bukan tubuh mengelilingi bangunan,
melainkan jiwa yang mengitari pusat rindu: Tuhan.

Di tempat yang nyaris runtuh itu,
saya justru menemukan sesuatu yang tidak bisa runtuh—
sebuah jembatan batin
yang dibangun dari sabar dan tawakal,
yang tidak terlihat, tetapi selalu bisa dilalui.

Saya menulis ini
karena saya percaya:
setiap musibah menyimpan arah,
dan setiap ketakutan menyimpan pintu
menuju penyerahan yang lebih utuh.

Wih Kanis menangis—
dan dalam tangis itu, saya mendengar panggilan.
Bukan panggilan untuk lari dari luka,
tetapi untuk masuk ke dalamnya
dan menemukan bahwa Tuhan tidak pernah jauh.

Puisi ini adalah cara saya berjalan,
cara saya bertahan,
dan cara saya pulang—
meski jalan itu sempit, goyah, dan sunyi.

Sebab pada akhirnya,
yang kita seberangi bukan hanya sungai di luar sana,
tetapi jarak di dalam diri kita sendiri
menuju-Nya.

InsyaAllah.