Breaking News

Bukan Mahkota, Melainkan Titipan

(Untuk Penerimaan Anugerah Adiluhung)

L K Ara

1

Aku datang
bukan membawa kemenangan.
Hanya sepasang tangan
yang lama belajar
menengadah.

2

Penghargaan ini
bukan mahkota
yang mengangkat kepalaku
lebih tinggi
daripada rumput.

3

Ia hanyalah titipan,
seperti embun
yang singgah
di ujung daun
sebelum kembali kepada langit.

4

Aku tahu,
tak ada penyair
yang selesai
menjadi penyair.

Setiap puisi
selalu memulai
perjalanan baru.

5

Aku memilih
jalan yang sunyi.

Di sana
kata-kata
lebih fasih berzikir
daripada tepuk tangan.

6

Puisi bukan
hiasan bahasa.

Ia adalah
air mata
yang belajar
menjadi cahaya.

7

Kadang
ia lahir
dari sepotong roti
yang tak sempat dibeli,

kadang
dari doa
yang tak selesai
diucapkan.

8

Jika hari ini
namaku dipanggil,

sesungguhnya
yang berdiri
bukan hanya aku.

9

Bersamaku
berjalan
para guru,

yang mengajariku
mencintai
huruf-huruf
seperti mencintai
tanah kelahiran.

10

Bersamaku
hadir
para pembaca,

yang menjaga
agar puisi
tetap bernapas
di tengah zaman
yang tergesa.

11

Dan bersamaku
berdiri
para penyair
yang telah lebih dahulu
pulang,

namun bait-baitnya
masih menyalakan
malam.

12

Mereka
tak sempat
menerima piagam,

tetapi Tuhan
telah lebih dahulu
menuliskan
nama mereka
di kitab keikhlasan.

13

Aku belajar
dari mereka,

bahwa kemuliaan
tidak pernah
diukur
oleh bingkai penghargaan.

14

Puisi
tetap puisi,

meski tanpa medali,
tanpa panggung,
tanpa sorak
dan lampu-lampu.

15

Yang membuatnya hidup
bukan tinta,

melainkan
kejujuran
yang tak dapat
dipalsukan.

16

Karena itu
aku tidak menolak.

Bukan sebab
aku merasa pantas,

melainkan
karena amanah
tak layak
diabaikan.

17

Yang harus kutolak
adalah
kesombongan,

sebab ia
adalah debu
yang menutup
mata hati.

18

Usiaku
telah senja.

Namun senja
bukan akhir,

ia hanya
cara matahari
mengajarkan
kerendahan cahaya.

19

Selama napas
masih dititipkan,

aku ingin
tetap menulis

nama-Mu
di sela-sela
nama manusia.

20

Aku ingin
Aceh tetap bersuara,

Gayo tetap bernyanyi,

dan hutan,
danau,
gunung,
tetap menjadi
kitab yang terbuka.

21

Selama
masih ada
air mata,

masih ada
puisi
yang harus dilahirkan.

22

Selama
masih ada
ketidakadilan,

kata-kata
belum boleh
beristirahat.

23

Anugerah ini
bukan penutup,

melainkan
pintu
menuju tanggung jawab
yang lebih sunyi.

24

Maka
aku menerima

bukan untuk
meninggikan
namaku,

tetapi
agar semakin
rendah
di hadapan-Mu.

25

Ya Allah,

jika penghargaan ini
adalah titipan,

jadikanlah aku
penjaga
yang tak mengkhianatinya.

Biarlah
kata-kataku
tetap jujur,

hatiku
tetap tawaduk,

dan langkahku
tetap istiqamah,

hingga ketika
Engkau memanggil,

yang kembali
bukan seorang
pemilik mahkota,

melainkan
seorang hamba
yang selesai
menjaga titipan.

Jakarta, Juli 2026 ‎


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca