Breaking News

SURAT TERBUKA KEPADA ILLIZA

JANGAN BIARKAN PENGARANG ACEH MENJADI PATUNG

L K Ara

Ibu Illiza,

Izinkan seorang pengarang tua

menulis surat

kepada seorang perempuan

yang sedang memegang

sebagian amanah sejarah.

Saya tidak menulis surat ini

untuk meminta jabatan.

Bukan pula

untuk meminta kursi.

Saya hanya ingin berbicara

tentang orang-orang

yang sepanjang hidupnya

memelihara kata,

tetapi sering lupa

dipelihara oleh negerinya.

Mereka adalah

pengarang Aceh.

I

KAMI SELALU DATANG KETIKA NEGERI MEMBUTUHKAN KATA

Ibu Illiza,

setiap kali Aceh

membutuhkan kata-kata,

kami dipanggil.

Ketika hari besar datang,

kami diminta membuat puisi.

Ketika tamu penting datang,

kami diminta membaca syair.

Ketika sejarah diperingati,

kami diminta mengingat.

Ketika sebuah kota

ingin disebut berbudaya,

kami diminta hadir

di atas panggung.

Kami datang.

Kami selalu datang.

Dengan kemeja yang mungkin

sudah beberapa kali dijahit.

Dengan sepatu

yang telah berjalan

dari satu acara

ke acara yang lain.

Dengan buku

yang belum tentu

mampu membayar

harga beras sebulan.

Kami datang.

Kami membaca.

Orang bertepuk tangan.

Lampu padam.

Acara selesai.

Lalu—

kami pulang.

II

SETELAH TEPUK TANGAN

Di sinilah, Ibu,

persoalannya.

Tepuk tangan

tidak dapat dibawa

ke pasar.

Piagam

tidak dapat dimasak

menjadi nasi.

Piala

tidak dapat membayar

tagihan listrik.

Dan kata Maestro

kadang terdengar

begitu indah,

tetapi begitu sunyi

ketika seorang pengarang

sedang memikirkan

bagaimana hidup

sampai akhir bulan.

Saya tidak mengatakan

pengarang harus kaya.

Tidak.

Tetapi jangan pula

kemiskinan

dijadikan syarat

untuk menjadi penyair.

Jangan kita terlalu lama

meromantiskan

pengarang yang susah.

Sebab orang yang lapar

memang dapat menulis puisi.

Tetapi sebuah bangsa

tidak berhak

membiarkan penyairnya lapar

demi mendapatkan

puisi yang indah.

III

ACEH PERNAH MEMILIKI ZAMAN KATA

Ibu Illiza,

Aceh pernah besar.

Dan kebesaran itu

bukan hanya karena

meriam.

Bukan hanya karena

kapal.

Bukan hanya karena

pedang.

Aceh pernah menjadi

tempat bertemunya

ilmu.

Ulama.

Kitab.

Bahasa.

Pemikiran.

Dan kata.

Pada zaman Sultanah Safiatuddin,

peradaban bukan sekadar

bangunan.

Peradaban adalah

apa yang dipikirkan manusia.

Apa yang ditulisnya.

Apa yang diwariskannya

kepada anak cucu.

Hari ini,

kita sering berbicara

tentang kejayaan Aceh.

Kita mengucapkannya

dalam pidato.

Kita mencetaknya

di spanduk.

Kita menjadikannya

tema seminar.

Tetapi saya ingin bertanya:

apakah kita sungguh-sungguh sedang membangun kembali kejayaan itu?

Ataukah kita hanya

terlalu sering

memperingatinya?

IV

SEJARAH TIDAK HIDUP DI DALAM SPANDUK

Sejarah tidak hidup

di dalam baliho.

Sejarah tidak tinggal

di dalam slogan.

Sejarah tidak akan panjang umur

karena foto bersama.

Sejarah hidup

karena ada yang menulisnya.

Karena ada yang menyimpannya.

Karena ada yang membacanya.

Karena ada generasi muda

yang kembali bertanya:

siapakah kami?

Dan di situlah

pengarang bekerja.

Ketika pemerintah

menghitung pembangunan

dalam angka,

pengarang menghitungnya

dalam nasib manusia.

Ketika laporan mengatakan:

berhasil,

pengarang bertanya:

siapa yang belum berhasil?

Ketika kota mengatakan:

maju,

pengarang bertanya:

siapa yang tertinggal?

Itulah pekerjaan kami.

Kadang tidak menyenangkan.

Tetapi perlu.

Karena pengarang

bukan pengeras suara.

Pengarang adalah

hati nurani

yang sering membuat

ruangan menjadi tidak nyaman.

V

JANGAN TAKUT PADA PENYAIR

Ibu Illiza,

jangan takut

kepada penyair.

Penyair memang kadang

berbicara keras.

Kadang puisinya

seperti angin.

Kadang seperti api.

Kadang seperti hujan

yang turun

di tengah upacara.

Tetapi penyair

yang mencintai negerinya

tidak sedang menghancurkan.

Ia sedang mengingatkan.

Sebab cinta

yang hanya memuji

adalah cinta

yang tidak lengkap.

Ada cinta

yang harus berkata:

Ibu, ada yang salah.

Ada cinta

yang harus berteriak:

Jangan teruskan!

Ada cinta

yang harus menangis:

Lihatlah mereka yang tertinggal!

Pengarang tidak selalu

berdiri di belakang pemerintah.

Kadang ia harus berdiri

di depannya.

Agar pemerintah

tidak salah jalan.

VI

BANDA ACEH MEMBUTUHKAN RUMAH KATA

Ibu Illiza,

Banda Aceh membutuhkan

lebih banyak

daripada gedung.

Lebih banyak

daripada jalan.

Lebih banyak

daripada taman.

Banda Aceh membutuhkan

Rumah Kata.

Sebuah rumah

untuk pengarang.

Untuk penyair.

Untuk naskah.

Untuk buku.

Untuk arsip.

Untuk anak-anak

yang suatu hari nanti

ingin menjadi penulis.

Saya membayangkan

sebuah tempat

di Banda Aceh

di mana manuskrip-manuskrip

Aceh diselamatkan.

Di mana karya pengarang

didokumentasikan.

Di mana penyair muda

bertemu penyair tua.

Di mana seorang anak

dapat masuk

dan berkata:

Aku ingin menulis tentang Aceh.

Dan seseorang menjawab:

Duduklah.

Di sini tersedia tempat untukmu.

VII

JANGAN HANYA MEMBERI PANGGUNG

Panggung itu penting.

Festival itu penting.

Penghargaan itu penting.

Lomba itu penting.

Tetapi pengarang

tidak dapat hidup

hanya dari panggung.

Kami membutuhkan

ekosistem.

Bukan sekadar seremoni.

Kami membutuhkan

perpustakaan yang hidup.

Program penerbitan.

Dana kreatif.

Dokumentasi karya.

Pelatihan menulis.

Penerjemahan sastra Aceh

ke bahasa dunia.

Ruang diskusi.

Rumah residensi.

Dan kebijakan

yang menganggap kebudayaan

bukan sebagai hiasan

di pinggir pembangunan.

Kebudayaan adalah

jantung pembangunan.

Sebab apa gunanya

kota yang semakin indah,

jika manusianya

semakin kehilangan ingatan?

VIII

JANGAN TUNGGU KAMI MENJADI ALMARHUM

Ini yang paling ingin

saya katakan, Ibu.

Jangan tunggu

pengarang Aceh

meninggal.

Jangan tunggu

kami menjadi berita duka.

Jangan tunggu

foto kami

dipasang di depan gedung.

Jangan tunggu

orang-orang datang

membawa bunga.

Jangan tunggu

seminar digelar

untuk mengatakan:

“Beliau adalah tokoh besar.”

Tokoh besar

tidak lahir

pada hari kematiannya.

Ia telah bekerja

puluhan tahun

sebelum kita menyadarinya.

Ia telah menulis

ketika orang lain tidur.

Ia telah menjaga kata

ketika orang lain

sibuk mencari kekuasaan.

Ia telah mencatat

apa yang kita lupakan.

Maka,

jangan tunggu

pengarang menjadi patung.

Patung tidak membutuhkan

bantuan.

Patung tidak membutuhkan

rumah.

Patung tidak membutuhkan

buku.

Tetapi pengarang yang hidup

membutuhkan kehidupan.

IX

DARI SAFIATUDDIN KE ILLIZA

Ibu Illiza,

sejarah telah memberikan Aceh

sebuah keistimewaan.

Di masa lalu,

Aceh pernah dipimpin

oleh seorang Sultanah.

Hari ini,

perempuan Aceh kembali

memegang kepemimpinan

dalam ruang demokrasi.

Tentu zaman telah berubah.

Mahkota telah menjadi

mandat rakyat.

Istana telah menjadi

balai kota.

Surat telah menjadi

pesan digital.

Kapal layar

telah menjadi pesawat.

Tetapi ada satu pertanyaan

yang tidak berubah:

apakah kekuasaan mampu menjaga peradaban?

Safiatuddin adalah

bagian dari sejarah.

Illiza adalah

bagian dari sejarah

yang sedang ditulis.

Dan sejarah

yang sedang ditulis

selalu memiliki kesempatan

untuk menjadi lebih baik.

X

KEPADA WALI KOTA

Maka surat ini,

Ibu,

bukan gugatan

untuk menjatuhkan.

Ini adalah panggilan

untuk mengangkat.

Mengangkat kembali

martabat pengarang.

Mengangkat kembali

buku.

Mengangkat kembali

sastra.

Mengangkat kembali

ingatan.

Sebab suatu hari nanti,

masa jabatan akan selesai.

Nama pejabat

akan berganti.

Foto-foto

akan diturunkan.

Spanduk-spanduk

akan hilang.

Tetapi sebuah buku

dapat tetap tinggal

di rak

dan berkata kepada

generasi yang belum lahir:

Inilah Banda Aceh pada zamanku.

Dan mungkin

seorang anak

seratus tahun kemudian

akan membuka buku itu

lalu mengenal

kota yang pernah kita cintai.

EPILOG

JANGAN BIARKAN KATA MENJADI GELANDANG

Ibu Illiza,

jangan biarkan

pengarang Aceh

menjadi tamu

di rumahnya sendiri.

Jangan biarkan

penyair hanya dicari

ketika mikrofon

membutuhkan suara.

Jangan biarkan

budayawan hanya dipanggil

ketika pemerintah

membutuhkan dekorasi.

Berilah kata

sebuah rumah.

Berilah buku

sebuah masa depan.

Berilah pengarang

kesempatan

untuk hidup

dengan martabat.

Sebab kota

yang memelihara pengarangnya

sedang memelihara

ingatannya sendiri.

Dan negeri

yang menghormati penyairnya

sedang menghormati

jiwanya sendiri.

Dari Safiatuddin

hingga Illiza,

Aceh telah berjalan

melintasi berabad-abad.

Jangan biarkan

perjalanan panjang itu

berakhir

dengan satu kesalahan:

kita membangun

terlalu banyak gedung,

tetapi lupa

membangun rumah

untuk kata.

HIDUP PENGARANG ACEH!

Bukan sesudah mati.

Bukan setelah menjadi patung.

Bukan setelah menjadi nama

di sebuah jalan.

Tetapi—

sekarang.

Ketika ia masih hidup.

Ketika ia masih menulis.

Ketika tangannya

masih gemetar

memegang pena.

Banda Aceh, Sept 2026 ‎


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca