Syair Epos, Sejarah, dan Tafsir
L K Ara
PROLOG
NEGERI YANG MENUNGGU LAYAR
Sebelum nama Aceh
menjadi sebuah kerajaan besar,
sebelum Iskandar Muda
menunggang sejarahnya
dengan kebesaran yang panjang,
di sebelah timur
sebuah negeri kecil
telah membuka pintunya
kepada angin.
Namanya Perlak.
Negeri di tepi laut
yang mengenal manusia
dari arah datangnya kapal.
Dari barat
angin membawa cerita.
Dari timur
perahu membawa rempah.
Dari jauh
datang pedagang
dengan kain,
wewangian,
logam,
dan bahasa-bahasa asing.
Tetapi sejarah
kadang datang membawa sesuatu
yang tidak dapat ditimbang
di atas neraca pelabuhan.
Ia membawa keyakinan.
Ia membawa kalimat
tentang Tuhan Yang Esa.
Dan di sebuah negeri
yang sebelumnya mengenal
langit, laut, gunung,
hujan, dan matahari
sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya,
datanglah sebuah ajaran
yang mengajarkan manusia
untuk melihat
bahwa di balik segala tanda
ada Yang Menandatangani.
Maka Perlak
bukan sekadar pelabuhan.
Ia menjadi
sebuah pintu.
⸻
I
SEBELUM SULTAN
Jangan buru-buru
mencari sultan.
Sebelum istana berdiri,
ada rakyat.
Sebelum mahkota dikenakan,
ada nelayan
yang menantang gelombang.
Ada petani
yang membungkuk
di bawah matahari.
Ada perempuan
yang menunggu
suaminya pulang
dari laut.
Ada anak-anak
yang belajar mengenal dunia
dari suara ombak.
Sebuah negeri
tidak lahir
dari sebuah mahkota.
Sebuah negeri lahir
dari manusia
yang bertahan
di atas tanahnya.
Perlak tumbuh
dari kehidupan itu.
Pelabuhan menjadi ramai.
Pasar menjadi tempat
orang bertukar barang
dan bertukar kabar.
Orang asing datang
tidak selalu membawa perang.
Kadang mereka membawa
cerita tentang negeri
yang belum pernah didengar.
Kadang mereka membawa
sebutir benih.
Kadang membawa
sebuah kitab.
Dan kadang,
mereka membawa
sebuah cara baru
memandang Tuhan.
⸻
II
KAPAL-KAPAL DARI JAUH
Layar-layar putih
muncul di cakrawala.
Orang-orang Perlak
memandangnya
dari kejauhan.
Kapal itu datang
seperti burung besar
yang kehilangan sarangnya.
Tetapi ia tidak tersesat.
Ia mengikuti angin.
Ia mengikuti bintang.
Ia mengikuti jalur laut
yang sejak dahulu
menghubungkan manusia
dengan manusia.
Di dalam kapal
ada pedagang.
Ada pelaut.
Ada orang-orang
yang mencari keuntungan.
Tetapi sejarah
sering menyimpan kejutan.
Seseorang datang
untuk menjual barang,
namun pulang
setelah meninggalkan
sebuah keyakinan.
Seseorang datang
membawa kain,
tetapi meninggalkan
sebuah kitab.
Seseorang datang
mencari keuntungan,
tetapi akhirnya
menemukan dirinya sendiri.
Begitulah kadang
peradaban bekerja.
Tidak dengan pedang.
Tidak dengan teriakan.
Tetapi melalui
perjumpaan manusia.
⸻
III
ABDUL AZIZ SYAH
Dalam tradisi sejarah Perlak
disebut sebuah nama:
Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah.
Nama itu kemudian
menjadi bagian dari ingatan
tentang awal Kesultanan Perlak.
Tetapi seorang sultan
tidak pernah berdiri
sendirian.
Di belakangnya
ada masyarakat.
Ada keluarga bangsawan.
Ada ulama.
Ada pedagang.
Ada rakyat.
Ada pula
pertemuan dua dunia:
pendatang
dan penduduk setempat.
Dalam riwayat tradisional,
Abdul Aziz dikaitkan
dengan keturunan Arab
yang datang ke Perlak
dan kemudian menikah
dengan perempuan
dari lingkungan bangsawan setempat.
Dari perkawinan itu
sejarah menemukan
sebuah jalan baru.
Islam tidak lagi
sekadar agama
yang datang dari seberang laut.
Ia mulai menjadi
bagian dari tanah.
Menjadi keluarga.
Menjadi masyarakat.
Menjadi kerajaan.
Dan Perlak pun
perlahan belajar
menyebut nama Tuhan
dalam bahasa sejarahnya sendiri.
⸻
IV
APAKAH ISLAM DATANG DENGAN KAPAL?
Pertanyaan itu
terdengar sederhana.
Tetapi jawabannya panjang.
Apakah Islam datang
bersama pedagang?
Mungkin.
Bersama ulama?
Mungkin.
Bersama perkawinan?
Mungkin.
Bersama jaringan perdagangan
yang menghubungkan
Arab, India, Persia,
Selat Malaka
dan Nusantara?
Sangat mungkin.
Sejarah tidak selalu
berjalan melalui satu pintu.
Kadang ia datang
melalui banyak pintu
sekaligus.
Karena itu
jangan kita bayangkan
Perlak sebagai negeri
yang tiba-tiba berubah
dalam satu malam.
Tidak.
Perubahan besar
sering bermula
dari hal-hal kecil:
seorang tamu,
sebuah percakapan,
sebuah perkawinan,
sebuah kitab,
sebuah doa,
sebuah masjid,
dan seorang manusia
yang berkata kepada manusia lain:
Tuhan itu satu.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










