Breaking News

SIAPA MENULIS LUKA INDONESIA?

L K Ara

Siapa
menulis luka
Indonesia?

Bukan luka
yang tampak
di wajah kota,

bukan hanya
jalan berlubang,
jembatan patah,
rumah yang hanyut
dibawa banjir.

Ada luka
yang lebih dalam:

ketika orang kecil
belajar menerima
kemiskinan
sebagai takdir.

Ketika petani
menanam padi
tetapi tidak
menentukan harga.

Ketika nelayan
menguasai laut
tetapi tidak
menguasai nasibnya.

Ketika hutan
ditebang
dan sungai
disuruh menanggung
kesalahannya.

Siapa
menulis semua itu?

Angka-angka
mungkin mencatat
berapa rupiah
yang dibelanjakan.

Laporan
mungkin mencatat
berapa proyek
yang selesai.

Tetapi
siapa mencatat
air mata
yang tidak masuk
ke dalam laporan?

Di gedung-gedung
orang berbicara
tentang kemajuan.

Di televisi
negeri terlihat
baik-baik saja.

Tetapi di sebuah desa
seorang ibu
menghitung uang
sebelum membeli beras.

Di sudut lain
seorang anak
menghitung hari
menunggu ayahnya pulang
dari negeri orang.

Indonesia
tidak selalu terluka
karena perang.

Kadang
ia terluka
karena ketidakpedulian.

Kadang
karena keserakahan.

Kadang
karena kita
terlalu lama
diam.

Maka penyair
datang bukan
untuk memperindah luka.

Ia datang
untuk membuka
perban.

Agar luka
terlihat.

Agar luka
dikenali.

Agar seseorang
bertanya:

mengapa ini terjadi?

Penyair
tidak memiliki
kekuasaan.

Ia hanya memiliki
kata.

Tetapi kata
yang jujur
kadang lebih tajam
daripada pedang.

Sebab kata
dapat menembus
ruang yang tidak dapat
ditembus suara.

Ia masuk
ke dalam ingatan.

Ia tinggal
di dalam hati.

Dan suatu hari
ia dapat bangun
menjadi kesadaran.

Karena itu
jangan bertanya
apa gunanya penyair.

Tanyakanlah:

apa jadinya
sebuah bangsa
yang tidak lagi
memiliki orang
yang berani
menuliskan lukanya?

Mungkin
sejarah tetap ditulis.

Tetapi sejarah
bisa kehilangan
air mata.

Mungkin
kemajuan tetap diumumkan.

Tetapi manusia
bisa kehilangan
kemanusiaannya.

Mungkin
bendera tetap berkibar.

Tetapi merahnya
tak lagi mengingat
darah para leluhur,

dan putihnya
tak lagi mengingat
kesucian cita-cita.

Maka aku menulis.

Bukan karena
Indonesia tidak indah.

Justru karena
aku mencintainya.

Sebab cinta
tidak selalu
berupa pujian.

Kadang cinta
adalah keberanian
mengatakan:

Indonesia,
engkau sedang terluka.

Dan sebelum
luka itu
menjadi sejarah,

sebelum
air mata
mengering tanpa nama,

sebelum
orang-orang kecil
dilupakan,

izinkan penyair
menulis.

Biar puisi
menjadi saksi.

Biar kata
menjadi cahaya.

Biar luka
mempunyai nama.

Dan bila kelak
anak cucu bertanya:

“Siapa yang menulis
luka Indonesia?”

Jawabannya
semoga bukan:

“Tidak ada.”

Tetapi:

“Ada.

Mereka menulis
dengan air mata,
dengan keberanian,
dengan cinta—

agar Indonesia
tidak lupa
kepada dirinya sendiri.”

Jambi, Agustus 2026


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca