Breaking News

PANTASKAH BUKU WASIAT REJE LINGE DIDISKUSIKAN SECARA LUAS?

Ada buku yang cukup dibaca.

Ada buku yang perlu dibicarakan.

Dan ada buku yang, karena menyentuh ingatan sebuah masyarakat, harus didiskusikan secara luas.

Wasiat Reje Linge: Syair Epos Gayo termasuk yang terakhir.

Bukan semata-mata karena ia berbicara tentang Reje Linge. Bukan pula karena ia ditulis dalam bentuk syair epos. Tetapi karena di dalamnya bertemu tiga hal penting: sejarah, ingatan budaya, dan masa depan identitas Gayo.

Kerajaan Linge dan sosok Reje Linge menempati ruang penting dalam ingatan masyarakat Gayo. Namun sejarah Linge bukanlah wilayah yang seluruhnya sudah terang. Banyak kisah hidup dalam tradisi lisan, cerita rakyat, adat, syair, didong, serta berbagai catatan yang belum selalu dapat dipertemukan menjadi satu sejarah yang tunggal. Bahkan penelitian mengenai situs makam Reje Linge sendiri menyebutnya sebagai warisan leluhur dan bagian dari identitas masyarakat Gayo.

Di situlah pentingnya sebuah buku seperti Wasiat Reje Linge.

Ia tidak harus diperlakukan hanya sebagai buku sejarah.

Ia dapat dibaca sebagai karya sastra yang menghidupkan kembali ingatan sejarah.

Dari sejarah menjadi syair

Yang menarik dari buku ini adalah pilihan bentuknya: syair epos Gayo.

Epos sejak dahulu bukan sekadar cerita panjang. Epos adalah cara manusia menyimpan ingatan tentang asal-usul, kepahlawanan, perjalanan, konflik, nilai, dan cita-cita sebuah masyarakat.

Ketika sejarah ditulis dalam bentuk syair, sejarah tidak lagi hanya menjadi tanggal dan nama.

Ia menjadi suara.

Ia menjadi ingatan.

Ia menjadi perasaan.

Dan dalam masyarakat yang mempunyai tradisi lisan yang kuat, pilihan bentuk semacam ini mempunyai makna tersendiri.

Sejarah Linge memang sejak lama beredar melalui berbagai bentuk cerita dan bahasa adat Gayo. Ada yang dikisahkan sebagai kekeberen, ada yang hadir dalam saer, didong, melengkan, dongeng, dan tradisi tutur lainnya.

Karena itu, menulis kembali kisah Linge dalam bentuk syair bukanlah usaha membawa masa lalu ke museum.

Sebaliknya, ia adalah usaha membawa masa lalu kembali berbicara kepada generasi sekarang.

Tetapi justru karena itu, buku ini harus didiskusikan

Jawabannya: ya, sangat pantas. Bahkan perlu.

Namun diskusi itu jangan berhenti pada pujian.

Jangan pula berubah menjadi penghakiman.

Yang diperlukan adalah dialog antara sastra dan sejarah.

Sebab ada perbedaan antara fakta sejarah, tradisi lisan, legenda, mitos, tafsir budaya, dan imajinasi puitik.

Semua itu boleh hadir dalam sebuah karya sastra.

Tetapi pembaca perlu mengetahui batas-batasnya.

Justru di sinilah diskusi menjadi penting.

Misalnya, berbagai sumber mengenai Linge memberikan penjelasan yang berbeda mengenai asal-usul, masa berdiri kerajaan, silsilah para Reje, serta hubungan Linge dengan kerajaan-kerajaan lain. Ada sumber yang menempatkan awal Linge sekitar abad ke-11, sementara sumber lain menawarkan kronologi berbeda.

Perbedaan itu tidak perlu ditakuti.

Perbedaan adalah alasan untuk berdiskusi.

Sebuah bangsa yang matang bukan bangsa yang memiliki satu cerita tanpa perbedaan.

Bangsa yang matang adalah bangsa yang mampu mengatakan:

Inilah yang kami yakini.
Inilah yang kami warisi.
Inilah yang telah diteliti.
Dan inilah yang masih harus kami cari.

Wasiat yang lebih besar daripada seorang Reje

Judul buku ini juga menarik.

Wasiat Reje Linge.

Wasiat bukan sekadar pesan seseorang menjelang kematian.

Wasiat adalah sesuatu yang diserahkan kepada generasi berikutnya.

Kalau demikian, pertanyaan yang lebih besar bukan hanya:

Apa wasiat Reje Linge?

Tetapi:

Apa yang diwariskan Linge kepada kita?

Mungkin jawabannya bukan sekadar kerajaan.

Bukan pula sekadar silsilah.

Melainkan marwah, adat, tanah, bahasa, ingatan, persaudaraan, dan tanggung jawab menjaga negeri.

Dalam kehidupan masyarakat Gayo sekarang, istilah reje sendiri masih mempunyai resonansi sosial dan budaya. Penelitian tentang arsitektur dan kehidupan masyarakat Gayo mencatat bahwa sistem sosial budaya masih berpegang pada pemerintahan tradisional Gayo, dengan reje sebagai sosok yang dihormati.

Maka membaca Wasiat Reje Linge berarti juga bertanya:

Apa arti kepemimpinan bagi kita hari ini?

Apakah pemimpin hanya orang yang duduk di kursi kekuasaan?

Ataukah pemimpin adalah orang yang mampu menjaga tanah, rakyat, adat, bahasa, dan masa depan?

Di sinilah sastra sejarah menjadi relevan dengan kehidupan kontemporer.

Jangan biarkan Linge hanya menjadi legenda

Ada bahaya yang lebih besar daripada perbedaan versi sejarah.

Yaitu hilangnya ingatan.

Jika generasi muda tidak lagi mengenal Linge, maka perdebatan tentang benar dan salah menjadi tidak ada gunanya.

Karena yang hilang bukan hanya sebuah cerita.

Yang hilang adalah hubungan manusia dengan masa lalunya.

Penelitian tentang pelestarian situs makam Reje Linge menunjukkan bahwa peninggalan tersebut dipandang sebagai bagian dari warisan leluhur dan identitas masyarakat Gayo.

Karena itu, buku Wasiat Reje Linge dapat menjadi pintu masuk.

Dari buku menuju diskusi.

Dari diskusi menuju penelitian.

Dari penelitian menuju dokumentasi.

Dari dokumentasi menuju pelestarian.

Dan dari pelestarian menuju pendidikan generasi muda.

Dari meja diskusi menuju sekolah

Saya membayangkan buku ini tidak hanya dibedah di ruang seminar.

Ia dapat dibicarakan di sekolah.

Di kampus.

Di perpustakaan.

Di rumah-rumah budaya.

Di tengah masyarakat Linge.

Bahkan dalam forum-forum kebudayaan Aceh dan Indonesia.

Sejarawan dapat membicarakan sumbernya.

Sastrawan membicarakan estetikanya.

Budayawan membicarakan nilai adatnya.

Antropolog membicarakan ingatan kolektifnya.

Guru membicarakan manfaatnya bagi pendidikan.

Dan generasi muda bertanya:

Mengapa saya harus mengenal Linge?

Pertanyaan itu justru harus dibiarkan tumbuh.

Sebab buku yang baik bukan buku yang menutup pertanyaan.

Buku yang baik adalah buku yang melahirkan pertanyaan baru.

L K Ara dan tugas sastra

Dalam konteks itu, Wasiat Reje Linge dapat dibaca sebagai bagian dari usaha lebih besar menghidupkan kembali sejarah dan kebudayaan Gayo melalui sastra.

Sastra tidak mengambil alih tugas sejarah.

Sastra juga tidak menggantikan penelitian ilmiah.

Tetapi sastra mempunyai kemampuan yang tidak selalu dimiliki buku sejarah:

membuat manusia merasa dekat dengan masa lalu.

Nama Reje Linge yang mungkin bagi sebagian orang hanya tinggal nama dalam buku sejarah, melalui syair dapat berubah menjadi suara seorang leluhur yang seakan-akan bertanya kepada kita:

Apa yang sudah kau lakukan terhadap negeri yang kutinggalkan?

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui siapa Reje Linge.

Maka, pantaskah didiskusikan secara luas?

Pantaskah?

Saya kira bukan hanya pantas.

Perlu.

Tetapi dengan satu syarat:

Jangan mendiskusikannya hanya untuk mencari siapa yang paling benar.

Diskusikanlah untuk mencari apa yang paling berharga bagi masa depan.

Jika ada bagian yang perlu diverifikasi, verifikasilah.

Jika ada legenda, tandailah sebagai legenda.

Jika ada tradisi lisan, dokumentasikan sumbernya.

Jika ada fakta sejarah, telusuri bukti-buktinya.

Jika ada tafsir penyair, hormati sebagai tafsir puitik.

Dengan demikian, Wasiat Reje Linge tidak berhenti sebagai sebuah buku.

Ia menjadi ruang pertemuan antara penyair, sejarawan, budayawan, masyarakat adat, akademisi, dan generasi muda.

Dan mungkin, pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa yang paling penting dari sebuah wasiat bukanlah siapa yang mengucapkannya.

Melainkan:

apakah generasi sesudahnya masih mau mendengarkan.

Linge telah lama berbicara melalui kabut sejarah.

Kini syair mencoba mendengarkannya.

Maka, mari kita diskusikan.

Bukan untuk menguburkan masa lalu,

tetapi untuk menemukan jalan

agar masa lalu

tetap mempunyai masa depan.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca