L. K. Ara
Merdeka di mulut.
Utang menggunung,
bunganya berbunga.
Rakyat disuruh
mengencangkan ikat pinggang.
Merdeka di mulut.
Anak negeri
menjadi babu di negeri orang.
Pulang membawa koper,
kadang membawa luka.
Kita punya Garuda,
tetapi anak bangsa
terbang mencari makan.
Merdeka di mulut.
Bumi penuh emas,
minyak, gas, hutan, laut.
Aneh sekali—
tanahnya Indonesia,
hasilnya entah ke mana,
rakyatnya tetap antre
mencari kerja.
Merdeka di mulut.
Harga naik.
Pajak naik.
Kemiskinan naik.
Yang belum naik
barangkali hanya
upah rakyat.
Merdeka di mulut.
Korupsi tumbuh subur.
Uang rakyat
dipanen dengan jabatan.
Kolusi berjabat tangan.
Hukum menunduk
kepada yang berkuasa.
Merdeka di mulut.
Tanah air
katanya milik rakyat.
Rakyat boleh melihatnya
dari balik pagar.
Pagarnya tinggi.
Tanahnya luas.
Rakyatnya semakin sempit.
Merdeka di mulut.
Punya laut,
masih membeli garam.
Punya tanah subur,
masih membeli pangan.
Punya kekayaan alam,
rakyat masih menjadi
penonton di negerinya sendiri.
Merdeka macam apa?
Malu kita.
Tetapi jangan malu
kepada bendera.
Bendera tidak salah.
Yang perlu malu
adalah kita—
yang setiap tahun
berteriak merdeka,
tetapi belum selesai
memerdekakan rakyat.
Sebab penjajah hari ini
tak selalu membawa senjata.
Kadang datang
membawa kontrak.
Kadang membawa utang.
Kadang membawa investasi.
Dan kita sendiri
yang membukakan pintu.
Merdeka di mulut.
Belum tentu
merdeka di tanah.
Belum tentu
merdeka di perut.
Belum tentu
merdeka di hati.
Maka sebelum berteriak
MERDEKA!
diam sebentar.
Lihat rakyat.
Lihat tanah.
Lihat laut.
Lihat negeri.
Kalau semua itu
belum benar-benar merdeka,
jangan terlalu keras
berteriak.
Kerjakan dahulu.
Baru bicara.
Sebab kemerdekaan
bukan bunyi di mulut.
Kemerdekaan
harus terasa
sampai ke perut rakyat.
Jakarta, Agustus 2026
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












