Breaking News

DARI LUMPUR, PUISI HARUS TUMBUH

Mampukah Seniman Aceh Bangkit Setelah Dilanda Bencana?

L K Ara

Setelah banjir surut,
yang tinggal bukan hanya lumpur.

Ada kesunyian.

Kesunyian yang duduk
di depan rumah-rumah
yang kehilangan pintu.

Kesunyian yang memandangi
jalan-jalan patah,
jembatan putus,
dan pohon-pohon
yang tercerabut dari akarnya.

Lalu seseorang bertanya:

mampukah Aceh bangkit?

Aku ingin segera menjawab:

Aceh sudah terlalu sering
belajar bangkit.

Tetapi kemudian
aku teringat kepada para seniman.

Aku teringat kepada penyair
yang kehilangan buku-bukunya.

Kepada pelukis
yang kanvasnya hanyut bersama air.

Kepada pemusik
yang alat musiknya
diam di bawah lumpur.

Kepada penari
yang kehilangan sanggar.

Kepada seniman tua
yang selama hidupnya
barangkali hanya memiliki
satu kekayaan:

kenangan.

Maka pertanyaannya
menjadi lebih sunyi:

mampukah seniman Aceh bangkit?

Aku tidak segera menjawab.

Sebab bangkit
bukan sekadar perkara berdiri.

Bangkit kadang-kadang
adalah keberanian
untuk membuka mata
ketika dunia
yang kita kenal
telah berubah.

BENCANA TIDAK HANYA MEROBOHKAN RUMAH

Kita sering menghitung bencana
dengan angka.

Berapa rumah hanyut.

Berapa jembatan putus.

Berapa hektare sawah tertimbun.

Berapa orang mengungsi.

Tetapi ada sesuatu
yang tidak dapat dimasukkan
ke dalam tabel:

sebuah lagu
yang tidak sempat diwariskan.

Sebuah naskah
yang habis dimakan air.

Sebuah alat musik
yang diwariskan seorang ayah
kepada anaknya.

Sebuah hikayat
yang hanya tinggal
di dalam ingatan
seorang lelaki tua.

Ketika ia pergi,

siapa yang akan mengingatnya?

Di situlah
bencana menjadi lebih besar
daripada yang dapat kita lihat.

Sebab rumah
mungkin dapat dibangun kembali.

Jembatan
mungkin dapat disambung kembali.

Jalan
mungkin dapat dibuka kembali.

Tetapi sebuah ingatan
yang hilang
tidak selalu menemukan
jalan pulang.

Dan seniman,
sering kali,
adalah orang terakhir
yang berdiri
di depan pintu ingatan.

Ia menjaga
apa yang hampir kita lupakan.

Ia menyimpan
suara-suara kecil
yang tidak pernah masuk
ke dalam pidato resmi.

Ia menulis nama kampung
yang mungkin suatu hari
hanya tinggal alamat
di dalam arsip.

Ia mendengar
tangisan seorang ibu
yang tidak pernah masuk
ke dalam berita.

Ia melihat
sebatang pohon tumbang,

lalu tahu:

yang tumbang
bukan hanya pohon.

SENIMAN DAN LUKA

Aku percaya,
seorang seniman
tidak pernah benar-benar
bebas dari lukanya.

Ia membawa luka
ke dalam puisi.

Ia menyembunyikannya
di balik warna.

Ia memukulnya
menjadi bunyi.

Ia menggerakkannya
menjadi tarian.

Dan kadang-kadang,
ketika tidak ada lagi
yang dapat dikatakan,

ia hanya duduk
di hadapan selembar kertas
yang kosong.

Tetapi kertas kosong itu
pun telah berbicara.

Setelah bencana,
barangkali tugas pertama seniman
bukan menciptakan karya besar.

Tugas pertamanya
adalah mendengarkan.

Mendengarkan sungai
yang berubah suaranya.

Mendengarkan tanah
yang seperti sedang mengeluh.

Mendengarkan anak-anak
yang tidur dengan ketakutan.

Mendengarkan seorang ibu
yang masih menunggu
seseorang pulang.

Mendengarkan kampung
yang kehilangan sebagian
dari dirinya.

Sebab puisi
kadang-kadang
tidak lahir dari kata.

Puisi lahir
ketika kita cukup lama
mendengarkan kesunyian.

ACEH TELAH BERKALI-KALI TERLUKA

Aceh bukan tanah
yang tidak mengenal luka.

Di tanah ini,
sejarah pernah berjalan
dengan kaki berdarah.

Perang pernah datang.

Perpisahan pernah datang.

Gempa pernah datang.

Air laut pernah datang
dengan wajah
yang tidak dapat dilupakan.

Dan kini,
air kembali datang.

Tanah kembali bergerak.

Bukit kembali runtuh.

Sungai kembali membawa
sesuatu yang tidak kita undang.

Tetapi lihatlah.

Di antara puing-puing,
selalu ada seseorang
yang mulai menyapu halaman.

Ada ibu-ibu
yang kembali memasak.

Ada anak-anak
yang kembali berlari.

Ada seorang tua
yang duduk di bawah pohon,
lalu mulai bercerita.

Dan mungkin,
di sebuah sudut kampung,
seorang seniman
mulai mencari
selembar kertas.

Di situlah
kebangkitan dimulai.

Bukan di panggung besar.

Bukan di gedung megah.

Bukan dalam pidato panjang.

Tetapi ketika seseorang berkata:

aku masih ingin membuat sesuatu.

JANGAN BIARKAN SENIMAN BANGKIT SENDIRI

Kita terlalu sering
meminta seniman
untuk menjadi kuat.

Kita berkata:

seniman harus kreatif.

Seniman harus bertahan.

Seniman harus bangkit.

Tetapi jarang kita bertanya:

dengan apa mereka bertahan?

Seorang penyair
tidak dapat makan
hanya dengan tepuk tangan.

Seorang pemain musik
tidak dapat mengganti alatnya
dengan pujian.

Seorang pelukis
tidak dapat membeli kanvas
dengan penghargaan.

Seorang seniman tradisi
tidak dapat mewariskan kesenian
jika anak-anak muda
tidak lagi memiliki ruang
untuk belajar.

Karena itu,
jangan hanya memanggil seniman
ketika ada peresmian.

Jangan hanya mencari mereka
ketika ada festival.

Jangan hanya menampilkan mereka
ketika kita ingin berkata:

“inilah kebudayaan Aceh.”

Carilah mereka
ketika rumah mereka rusak.

Datanglah
ketika alat kesenian mereka hilang.

Duduklah bersama mereka
ketika mereka tidak tahu
harus memulai dari mana.

Sebab kebudayaan
bukan hiasan
di dinding pembangunan.

Kebudayaan adalah napas.

Dan seniman
adalah sebagian
dari paru-paru
yang membuatnya
tetap hidup.

SENI ADALAH JALAN PULANG

Setelah bencana,
manusia membutuhkan rumah.

Tetapi ada rumah lain
yang juga harus dibangun:

rumah di dalam jiwa.

Di situlah seni
menemukan tugasnya.

Sebuah lagu
dapat membawa seseorang pulang
kepada masa kecilnya.

Sebuah puisi
dapat membuat seseorang
berani menangis.

Sebuah tarian
dapat mengajarkan tubuh
untuk kembali percaya
kepada kehidupan.

Sebuah pertunjukan seni
dapat mempertemukan kembali
orang-orang
yang sebelumnya sibuk
menghitung kehilangan.

Seni tidak menghapus luka.

Tetapi seni
mengajarkan manusia
bagaimana hidup
bersama luka.

Barangkali,
itulah salah satu
bentuk tertinggi
dari kebudayaan:

bukan mengajarkan kita
untuk melupakan kesedihan,

tetapi memberi bahasa
kepada kesedihan,

agar ia tidak berubah
menjadi keputusasaan.

DARI LUMPUR, PUISI HARUS TUMBUH

Aku membayangkan
suatu pagi.

Banjir telah surut.

Matahari pelan-pelan
menyentuh tanah
yang masih basah.

Di antara lumpur,
seorang anak
menemukan sepotong kayu.

Ia tidak tahu
dari mana kayu itu datang.

Mungkin dari rumah.

Mungkin dari jembatan.

Mungkin dari pohon
yang telah berumur puluhan tahun.

Anak itu
mengangkatnya.

Memegangnya.

Lalu tersenyum.

Aku ingin percaya,
dari kayu itu
ia akan membuat sesuatu.

Mungkin sebuah mainan.

Mungkin sebuah alat bunyi.

Mungkin sebuah patung kecil.

Begitulah seni.

Ia mengambil
apa yang tersisa
dari kehancuran,

lalu mencoba
memberinya kehidupan baru.

Maka jangan takut
jika hari ini
Aceh masih penuh lumpur.

Lumpur tidak selalu
menjadi akhir.

Kadang-kadang,
di dalam lumpur
sebuah benih
sedang menunggu musim.

Dan seniman
adalah orang
yang paling sabar
menunggu benih itu
menemukan cahaya.

Karena itu,

dari lumpur,
puisi harus tumbuh.

Dari puing,
lagu harus terdengar.

Dari air mata,
harapan harus belajar
menyebut namanya sendiri.

SELAMA MASIH ADA SUARA

Mampukah seniman Aceh bangkit
setelah dilanda bencana?

Aku ingin menjawab:

mereka mampu.

Sebab seorang seniman
selalu memiliki sesuatu
yang sulit dihanyutkan air:

imajinasi.

Air dapat membawa
rumahnya.

Lumpur dapat menutup
halamannya.

Bencana dapat merampas
alat-alatnya.

Tetapi selama
ia masih mampu mengingat,

selama ia masih mampu mendengar,

selama ia masih mampu bermimpi,

ia belum selesai.

Namun jangan salah.

Kita tidak boleh
membiarkan mereka sendirian
hanya karena kita percaya
mereka kuat.

Kebangkitan
adalah pekerjaan bersama.

Pemerintah harus hadir.

Masyarakat harus hadir.

Perguruan tinggi harus hadir.

Media harus hadir.

Anak-anak muda
harus hadir.

Dan para seniman
harus saling memegang tangan.

Sebab Aceh
tidak hanya membutuhkan
jalan yang kembali terbuka.

Aceh membutuhkan
jiwanya kembali.

Tidak hanya membutuhkan
jembatan yang tersambung.

Aceh membutuhkan
hubungan manusia
yang kembali erat.

Tidak hanya membutuhkan
rumah-rumah yang berdiri.

Aceh membutuhkan
lagu-lagu
yang kembali terdengar.

Barangkali,
suatu hari nanti,
ketika semua lumpur
telah dibersihkan,

orang-orang akan kembali
melewati jalan
yang sudah diperbaiki.

Mereka mungkin lupa
betapa sunyinya hari-hari
setelah bencana.

Tetapi seorang penyair
akan mengingat.

Seorang pelukis
akan menyimpannya
di dalam warna.

Seorang pemusik
akan menyimpan kesedihan itu
di dalam nada.

Seorang penari
akan menggerakkan tubuhnya
seperti bumi
yang pernah bergetar.

Dan seorang seniman tua
mungkin akan berkata:

“Aku masih di sini.”

Itulah kebangkitan.

Bukan ketika luka
sudah hilang.

Tetapi ketika manusia
masih berani berkata:

aku masih di sini.

Maka, Aceh,

jika suatu hari
kau merasa terlalu lelah
untuk bangkit,

dengarkanlah
seorang penyair
yang masih menulis.

Dengarkanlah
sebuah rapai
yang kembali berdentum.

Dengarkanlah
suara didong
yang kembali bersahutan
di malam yang dingin.

Di antara suara-suara itu,

Aceh sedang
membangun dirinya kembali.

Pelan-pelan.

Dengan tangan
yang masih gemetar.

Dengan mata
yang masih basah.

Dengan hati
yang belum sepenuhnya sembuh.

Tetapi tetap berjalan.

Sebab selama
masih ada seniman
yang menjaga ingatan,

masih ada lagu
yang menolak diam,

masih ada puisi
yang tumbuh dari lumpur,

Aceh belum kalah.

Dan selama Aceh
belum kehilangan bahasanya,

belum kehilangan nyanyiannya,

belum kehilangan seninya,

maka selalu ada jalan:

untuk pulang,

untuk berdiri,

untuk memulai,

dan untuk bangkit kembali.

Bencana boleh datang.

Air boleh meluap.

Tanah boleh runtuh.

Jembatan boleh putus.

Tetapi jangan biarkan
ingatan ikut hanyut.

Jangan biarkan
suara-suara kecil
tenggelam dalam lumpur.

Jangan biarkan
para seniman
bangkit sendirian.

Sebab ketika rumah-rumah
sedang dibangun kembali,

kita juga harus membangun
rumah bagi kebudayaan.

Ketika jalan-jalan
sedang diperbaiki,

kita juga harus membuka jalan
bagi para seniman.

Dan ketika lumpur
masih melekat
di halaman-halaman kehidupan,

kita harus percaya:

dari lumpur,
puisi harus tumbuh.

Kalanareh, Agustus 2026


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca