L K Ara
Aku tidak menulis puisi ini untuk membuka wajah siapa pun.
Aku menulisnya agar hatiku sendiri tidak kehilangan wajah.
Ada masa ketika manusia lebih sibuk merapikan topeng daripada membersihkan nuraninya. Senyum dipoles seperti cat pada dinding yang retak. Kata-kata dipilih bukan lagi agar benar, melainkan agar terdengar indah. Dan pujian menjadi cermin tempat banyak orang lupa melihat dirinya sendiri.
Di situlah puisi ini mulai mengetuk pintu batinku.
Aku melihat topeng-topeng bergantungan. Mula-mula kukira mereka sedang menunggu pesta. Ternyata mereka sedang menunggu wajah-wajah yang lelah menjadi dirinya sendiri.
Sejak lama aku percaya bahwa seorang penyair bukan pemburu kesalahan manusia. Ia hanyalah pejalan sunyi yang sesekali memungut cahaya yang tercecer di jalan, lalu meletakkannya kembali di dalam kata-kata. Jika cahaya itu sempat menyentuh hati seseorang, maka puisi telah menemukan rumahnya.
Karena itu aku tidak berdiri sebagai hakim.
Aku memilih menjadi debu.
Debu tidak memiliki nama yang megah. Ia hanya ikut beterbangan bersama angin, lalu diam di telapak kaki orang-orang yang sedang mencari jalan pulang. Mungkin justru dari kerendahan itulah manusia lebih mudah mengenal langit.
Usia mengajarkanku bahwa yang paling cepat menua bukan tubuh, melainkan kejujuran yang terlalu lama disembunyikan. Rambut boleh memutih, tetapi hati yang masih mencintai cahaya akan selalu muda. Sebaliknya, wajah yang setiap hari berganti topeng perlahan akan lupa kepada dirinya sendiri.
Aku ingin tiba di penghujung umur dengan wajah yang sama seperti ketika doa pertama diajarkan ibuku: sederhana, rapuh, dan tidak pandai berpura-pura.
Sebab aku percaya, pada hari segala topeng tanggal dengan sendirinya, tidak ada lagi yang dapat dibanggakan selain hati yang pernah berusaha jernih.
Maka biarlah puisi ini berjalan sendiri.
Ia bukan batu untuk melempari siapa pun.
Ia hanyalah sehelai cermin yang kutegakkan di tengah kesibukan zaman. Siapa pun yang singgah di depannya, mungkin akan melihat orang lain. Namun jika cermin itu benar-benar bening, ia akhirnya akan berjumpa dengan dirinya sendiri.
Dan bila kelak aku dipanggil pulang, jangan sibuk mencari topeng untuk menutup wajahku.
Biarkan saja wajah itu kembali menjadi tanah.
Doakan agar yang bangkit menghadap-Nya bukan rupa yang pernah dipuji manusia, melainkan hati yang, meski berkali-kali terluka, tidak pernah selesai belajar menjadi cahaya.
Jakarta, Agustus 2026
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.











