Di sebuah panggung yang tak sepenuhnya nyata—
antara lampu redup dan debu sejarah—
Panji Sepuh duduk bersila,
sementara Teater Kecil bernafas
dari papan, tirai, dan kenangan.
⸻
Panji Sepuh:
Aku datang dari sunyi yang panjang.
Dari hutan kata yang mulai kehilangan akar.
Kau ini siapa, wahai ruang yang berdenyut?
Teater Kecil:
Aku rumah bagi suara yang tak diberi tempat.
Aku tubuh bagi kata yang ingin hidup.
Aku kecil, tapi luka yang kutampung—tak pernah kecil.
⸻
Panji Sepuh:
Aku pernah melihat panggung jadi altar,
tempat manusia berlutut pada kebenaran.
Apakah kau masih menyimpan itu?
Teater Kecil:
Kadang.
Kadang hanya tersisa gema—
orang-orang datang bukan untuk mendengar,
tapi untuk terlihat mendengar.
⸻
Panji Sepuh:
Ah… zaman telah menukar makna dengan bayangan.
Di negeriku, kata-kata mulai dijual per baris,
dan puisi menjadi hiasan dinding kekuasaan.
Teater Kecil:
Di sini pun sama.
Aktor menangis bukan karena luka,
tapi karena jadwal pertunjukan.
Air mata pun punya tiket masuk.
⸻
Panji Sepuh:
Lalu, untuk apa kau bertahan?
Teater Kecil:
Untuk satu penonton yang benar-benar melihat.
Untuk satu jiwa yang pulang dengan gelisah.
Untuk satu kebenaran yang lolos dari sensor dunia.
⸻
Panji Sepuh:
Aku suka itu.
Satu lebih berarti daripada ribuan yang kosong.
Di Gayo, kami menyebutnya
zikir yang tak bersuara.
⸻
Teater Kecil:
Dan kau, Panji Sepuh—
mengapa masih berjalan membawa kata?
Panji Sepuh:
Karena diam terlalu ramai.
Dan dunia terlalu bising untuk tidak dilawan
dengan kesunyian yang jujur.
⸻
Lampu panggung berkedip pelan.
Tirai tak sepenuhnya tertutup.
Teater Kecil berbisik:
“Pertunjukan belum selesai.”
Panji Sepuh tersenyum:
“Memang tidak pernah selesai.”
⸻
Epilog kecil
Di antara kursi kosong
dan langkah yang pergi,
percakapan itu tetap tinggal—
menjadi nadi
bagi siapa pun yang masih percaya:
bahwa kata
belum mati.










