Breaking News

Balada Si Bedul

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq

Syahdan, di sebuah daerah di negeri abrakadabra, sang kepala daerah punya hajat menikahkan putrinya dan menggelar pesta resepsi besar dengan ribuan undangan.

Dari sebulan sebelum hari H, kesibukan sudah terlihat di lingkungan pendopo yang bakal jadi tempat hajatan besar itu.

Berbagai persiapan sudah dimatangkan, banyak pejabat yang dengan sukarela menyumbang bermacam kebutuhan pesta, mulai dari bahan makanan, tenda, pelaminan, panggung hiburan sampe souvenir untuk para tamu, pokoknya sang penguasa tinggal terima bersih.

Sehari menjelang hajatan besar itu, di sudut kota, di sebuah kantor, sang kepala kantor sedang mengumpulkan semua anak buahnya, baik yang punya jabatan maupun yang cuma staf biasa, “Saudara-saudara sekalian, sebagaimana kita ketahui bersama, besok bapak besar kita akan menggelar hajatan pesta pernikahan putri beliau” begitu kata sang kepala kantor membuka arahannya, “Untuk itu, saya perintahkan saudara-saudara sekalian dapat berpartisipasi aktif dalam acara ini, besok pagi sebelum tamu undangan datang, saudara-saudara harus sudah stand by di TKP, membantu menyiapkan meja prasmanan, mengatur kursi, mengelap meja untuk undangan khusus dan nanti kalo sudah mulai datang tamu, saudara-saudara harus gerak cepat untuk mengangkat dan memindahkan piring-piring bekas makan para tamu dan sebagian membantu cuci piring di belakang” lanjut sang kepala.

Semua pegawai yang hadir manggut-manggut dan menyatakan siap melaksanakan perintah.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali para pegawai dari kantor itu sudah terlihat di lokasi pesta, yang laki-laki mengenakan baju batik terbaik mereka, sementara yang perempuan juga tampil dengan gaun bagus plus make-upnya supaya terlihat cantik didepan orang ramai.

Tapi ada satu pegawai yang tidak terlihat disana, Bedul nama pegawai itu, dia cuma staf biasa meski sudah mengabdi puluhan tahun. Dia memilih untuk datang ke kantor, karena dia tau hari itu tidak ada seorangpun di kantor, dia khawatir kalau-kalau ada masyarakat yang datang ke kantor membutuhkan pelayanan.

Meski cuma sendiri di kantor, dia tetap mengerjakan tugas rutin seperti biasa, karena baginya tugas sebagai pelayan masyarakat itu yang lebih utama.

Pada jam istirahat siang, diapun beranjak ke pendopo, bukan untuk ikut-ikutan teman-temannya, juga bukan hadir sebagai undangan, dia cuma ingin melihat apa yang dikerjakan oleh teman-temannya disana.

Dari jarak yang tidak begitu jauh tapi agak terlindung oleh layar tenda, dia melihat tamu undangan sudah mulai ramai, dia juga melihat beberapa temannya yang punya eselon sedang sibuk memunguti piring-piring bekas makan tamu dan mengantarnya ke belakang, badan dan wajah mereka terlihat berkeringat dan baju batik yang mereka kenakan tidak lagi terlihat rapi karena sudah mulai kusut.

Tiba-tiba matanya terbelalak, melihat kepala kantornya sedang memunguti gelas plastik air minum yang berserakan dimana-mana karena dibuang sembarangan oleh sebagian tamu yang habis makan, dia tersenyum kecut. Perlahan dia melangkah ke bagian belakang, disana dia melihat beberapa temannya bahkan sudah membuka baju batiknya karena harus mencuci piring kotor, sementara para pegawai perempuan yang sudah berdandan cantik pun harus rela make-up nya luntur oleh keringat karena harus bolak balik mengangkat piring dan sendok dari belakang ke meja prasmanan.

Sebenarnya Bedul juga kepingin bantu-bantu di tempat hajatan itu sebagaimana dia sering membantu para tentangga ketika mereka punya hajatan. Tapi kali ini dia merasa bahwa momentumnya berbeda, yang datang membantu di hajatan bapak besar itu rata-rata karena ada pamrih, ingin naik jabatan atau ingin jabatannya terus bertahan, bukan karena ikhlas ingin membantu.

Bedul juga melihat sudah banyak sekali orang yang membantu disitu, berbeda dengan kalau yang punya hajatan itu cuma orang biasa, akhirnya dia mengurungkan niatnya.

Lagi-lagi Bedul tersenyum kecut, kemudian melangkah pergi meninggalkan pendopo untuk pulang makan siang ke rumahnya, kemudian kembali ke kantor untuk melanjutkan aktifitas rutinnya.