Breaking News

Pacuan Kuda: Pantaskah di Tengah Musibah?

Kuda Yakuza SS dengan Joki Suwardi sedang beraksi. Foto: Untuk KenNews.id

L K Ara

Di tanah yang masih menyimpan jejak air mata, pertanyaan ini bukan sekadar wacana, melainkan suara nurani: pantaskah pacuan kuda digelar ketika luka belum benar-benar sembuh?

Bagi masyarakat Gayo, pacuan kuda bukan hanya hiburan. Ia adalah warisan, identitas, bahkan semacam ritus kebudayaan yang menyatukan manusia dengan tanahnya. Di arena pacuan, kita melihat bukan sekadar kecepatan kuda, tetapi denyut sejarah, harga diri, dan kebersamaan. Tradisi ini telah lama menjadi simbol kegembiraan kolektif—sebuah pesta rakyat yang menghidupkan ekonomi, mempererat silaturahmi, dan menegaskan jati diri.

Namun, musibah mengubah cara kita memandang waktu dan perayaan. Ketika jembatan masih rusak, rumah belum sepenuhnya pulih, dan sebagian masyarakat masih berjuang bangkit dari kehilangan, menggelar pesta dapat terasa seperti ketidaksensitifan. Bukan karena tradisinya salah, tetapi karena konteksnya belum tepat.

Di sinilah letak dilema moral dan sosial itu.

Di satu sisi, pacuan kuda bisa menjadi cara untuk bangkit. Ia memberi harapan, menggerakkan ekonomi lokal, dan menjadi ruang pelepas penat bagi masyarakat yang dilanda duka. Dalam perspektif ini, tradisi justru menjadi alat penyembuh—mengembalikan semangat hidup yang sempat runtuh.

Namun di sisi lain, jika pelaksanaannya mengabaikan kondisi korban, tidak disertai empati, atau bahkan menggunakan sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk pemulihan, maka ia berpotensi melukai rasa keadilan. Perayaan di tengah penderitaan bisa terasa seperti ironi yang pahit.

Maka, pertanyaannya bukan lagi “boleh atau tidak”, tetapi “bagaimana dan kapan”.

Jika pacuan kuda dilaksanakan dengan kesadaran sosial—disertai solidaritas, penggalangan bantuan, penghormatan terhadap korban, dan tidak mengganggu proses pemulihan—maka ia bisa menjadi simbol kebangkitan. Namun jika ia berdiri sendiri sebagai pesta tanpa rasa, maka ia berisiko menjadi cermin keterputusan antara elite dan rakyat.

Musibah mengajarkan kita untuk menimbang kembali makna kebersamaan. Tradisi tetap penting, tetapi empati lebih utama. Kegembiraan tetap perlu, tetapi tidak boleh menghapus luka yang masih terbuka.

Barangkali yang paling bijak adalah menunda gemuruh, memberi ruang pada sunyi untuk pulih, lalu suatu hari nanti—ketika tanah sudah lebih tenang—membiarkan kuda-kuda itu berlari kembali, bukan di atas luka, tetapi di atas harapan yang telah diperbaiki bersama.

Karena pada akhirnya, sebuah perayaan yang lahir dari kepedulian akan terasa lebih bermakna daripada sekadar keramaian tanpa jiwa.