Breaking News
Satire  

Jangan Memacu Kuda Mati!

Ilustrasi kuda mati. Foto: Net

KenNews.id – Istilah “memacu kuda mati” dalam politik bukan sekadar ungkapan sinis—ia adalah gambaran telanjang tentang keputusasaan yang dibungkus harapan palsu. Dan dalam konteks Aceh Tengah serta Bener Meriah, istilah ini terasa bukan hanya relevan, tapi seperti cermin yang memantulkan kenyataan pahit.

Kita menyaksikan bagaimana figur-figur lama, yang pernah memegang kendali kekuasaan, kembali dipanggil, dielu-elukan, bahkan dimintai solusi. Padahal, rekam jejak mereka sudah cukup jelas: ketika kesempatan itu ada di tangan mereka, tak ada fondasi kuat yang ditinggalkan. Tidak ada warisan pembangunan yang berdampak luas. Yang tersisa justru lingkaran kecil kepentingan—keluarga, kroni, dan para penjilat kekuasaan.

Lalu kini, di tengah persoalan yang semakin kompleks, mereka dihadirkan kembali seolah-olah sebagai penyelamat. Ini bukan hanya ironi, tapi juga kemunduran cara berpikir. Bagaimana mungkin kita berharap perubahan dari mereka yang dulu gagal menciptakan perubahan?

Pendukung mereka mungkin datang dengan niat baik. Ada ketulusan dalam harapan, ada keyakinan bahwa pengalaman masa lalu bisa menjadi jawaban. Tapi niat baik tanpa ketepatan waktu adalah kesia-siaan. Politik bukan sekadar nostalgia, dan daerah ini tidak butuh dongeng lama yang diulang-ulang.

Cerita-cerita yang dibawa oleh para politisi tua itu mungkin indah didengar, penuh retorika dan kisah masa lalu. Namun pada akhirnya, semua itu lebih cocok menjadi pengantar tidur si buyung—meninabobokan, bukan membangunkan.

Aceh Tengah dan Bener Meriah hari ini tidak kekurangan cerita. Yang kurang adalah keberanian untuk meninggalkan masa lalu yang gagal, dan memberi ruang bagi gagasan baru, energi baru, serta kepemimpinan yang benar-benar bekerja, bukan sekadar berbicara.

Memacu kuda mati tidak akan pernah membawa kita ke mana-mana. Yang dibutuhkan adalah kuda baru—yang hidup, kuat, dan mampu berlari menuju masa depan.