Breaking News
UMUM  

6 Bulan Pasca Bencana, Normalisasi Sungai Jamboe Aye di Linge Tak Kunjung Datang, Warga Bergerak Sendiri

Salah satu jembatan yang dibangun di atas sungai Weh Ni Dusun Jamat. Foto: Screenshot Kominfo Aceh Tengah

TAKENGON | KenNews.id– Hampir enam bulan pasca bencana hidrometeorologi yang menghantam wilayah Kecamatan Linge Kabupaten Aceh Tengah, kondisi Sungai Jamboe Aye justru semakin mengkhawatirkan. Alur sungai berubah liar, sedimentasi menumpuk, dan ancaman banjir susulan terus menghantui warga yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS).

Alih-alih mendapatkan penanganan serius dari pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh, hingga kini normalisasi sungai yang sangat dibutuhkan belum juga terealisasi.

Perubahan fisik sungai terlihat drastis. Jalur aliran air tidak lagi stabil dan terus berpindah, memperbesar risiko luapan saat hujan turun. Sedimen yang menumpuk di dasar sungai memperparah kondisi, membuat kapasitas aliran air semakin sempit.

Warga pun hidup dalam kecemasan.

Setiap hujan turun, mereka harus siaga. Barang-barang berharga mulai dibungkus, keluarga bersiap mengungsi. Rasa aman seolah hilang sejak bencana melanda.

Tak hanya ancaman banjir, dampak lain juga tak kalah parah. Infrastruktur dasar hancur total. Jalan dan jembatan yang selama ini menjadi akses utama menuju lahan perkebunan kini tak lagi bisa digunakan. Sumber air irigasi untuk sawah pun lenyap, memutus denyut ekonomi warga.

“Setiap hujan kami dalam kondisi takut. Tidak ada kepastian kapan normalisasi dilakukan,” ungkap Kepala Mukim Wih Dusun, Iliyas Pasa.

Dalam kondisi serba terbatas, warga tak tinggal diam. Bersama Kepala Mukim, mereka melakukan normalisasi secara swadaya di aliran Sungai Jamat—sebuah upaya darurat untuk mengurangi risiko yang setiap saat mengancam.

Namun, langkah ini jelas bukan solusi jangka panjang.

Normalisasi sungai seharusnya menjadi prioritas utama dalam pemulihan pasca bencana. Selain mengembalikan aliran sungai ke jalur semula, kegiatan ini juga membuka peluang bagi warga untuk memperbaiki irigasi dan lahan pertanian mereka, terutama jika didukung dengan alat berat dari pemerintah.

Tanpa intervensi serius, situasi ini berpotensi menjadi bencana berulang.

Enam bulan bukan waktu yang singkat. Ketika warga sudah bergerak sendiri karena merasa ditinggalkan, pertanyaan besar pun muncul: di mana peran negara dalam menjamin keselamatan dan pemulihan warganya?

Normalisasi Sungai Jambu Aye bukan lagi sekadar kebutuhan—ini adalah keadaan darurat yang tak boleh terus diabaikan.