Breaking News

Balada Cahaya Penjaga Ruh Bangsa

Tepian danau laut tawar setelah bencana banjir yang melanda kawasan tersebut. Foto: koleksi LK Ara

(Untuk guru, seniman, dan penjaga ruh di tanah yang berkabut doa)

Di tanah tinggi yang diselimuti kabut,
di lereng sunyi tempat angin berzikir,
guru berjalan tanpa suara,
menyusuri jejak yang ditinggalkan leluhur.

Ia bukan sekadar manusia—
ia adalah titipan cahaya
yang turun bersama embun pagi,
menetes perlahan ke dalam qalbu
anak-anak yang belum mengenal arah.

Di tepian Danau Laut Tawar,
air beriak seperti tasbih yang tak putus,
menyebut nama-Nya
dalam bahasa yang hanya dimengerti hati.

Guru duduk di antara desir angin,
mengajarkan diam sebagai jalan pulang,
sebab dalam sunyi itulah
Tuhan berbicara tanpa kata.

O, cahaya penjaga ruh bangsa,
engkau menjelma kabut—
tak tergenggam,
namun menyelimuti segalanya.

Seniman Gayo memainkan didong malam hari,
bukan sekadar bunyi yang bergema,
melainkan denyut yang memanggil ruh
untuk kembali ingat
pada asalnya yang satu.

Tangannya bergerak seperti doa,
suara yang lahir dari dada yang luka,
menyulam duka menjadi dzikir
yang menembus langit yang tak terlihat.

Di antara tepuk dan syair,
ia mencari wajah-Nya
yang bersembunyi di balik segala bentuk.

O, cahaya penjaga ruh bangsa,
engkau bergetar
di antara nada dan jeda.

Budaya di tanah ini bukan milik zaman,
ia adalah amanah dari gunung ke gunung,
dari satu ruh ke ruh yang lain,
yang dijaga dalam adat
dan disucikan dalam doa.

Barang siapa melupakannya,
ia tersesat di tanah sendiri—
asing di rumah yang diwariskan
oleh darahnya sendiri.

O, cahaya penjaga ruh bangsa,
engkau tumbuh
di akar kopi yang memeluk bumi.

Teknologi datang seperti arus deras,
menembus hutan dan bukit yang sunyi,
namun jiwa yang tak berzikir
akan hanyut tanpa arah.

Di layar yang terang,
banyak mata lupa memejamkan hati;
maka guru dan seniman berdiri—
seperti pohon tua di tengah badai,
menahan angin agar akar tak tercerabut.

O, cahaya penjaga ruh bangsa,
engkau adalah ingat
yang bernafas dalam dada.

Kami bersumpah di bawah langit Gayo,
yang birunya menyimpan rahasia,
bahwa kami akan menjaga cahaya ini—
meski tubuh rapuh
dan zaman tak lagi ramah.

Kami berjalan di jalan kabut,
menyebut nama-Mu di setiap langkah,
membiarkan diri larut dalam dzikir
hingga “aku” luruh
dan hanya Engkau yang tinggal.

Dan bila suatu hari
suara didong tak lagi terdengar,
biarlah ruhnya tetap hidup
dalam dada yang beriman—
seperti danau yang diam,
namun menyimpan langit di dalamnya.

O, cahaya penjaga ruh bangsa,
engkaulah rahasia
yang dititipkan pada tanah ini—
dari leluhur,
untuk mereka yang masih mau mengingat.

Kalanareh, 2025