Breaking News

PYRAMIDA GAYO

Keindahan Kala Nami. Foto: LK Ara
  • dari Kalanami, memandang Bur Mesir

Di lengkung bunga yang diam berzikir,
aku berdiri—
di antara daun-daun yang hafal angin,
di antara warna yang tak pernah lupa pada asalnya.

Jalan kecil ini
bukan sekadar batu yang disusun rapi,
ia adalah niat
yang mengantar kaki menuju pandang yang dalam.

Di sana—
Pyramida Gayo berdiam tanpa suara,
di Bur Mesir ia tidak menjulang untuk dibanggakan,
melainkan untuk diingatkan:
bahwa tinggi bukan tentang langit,
tapi tentang seberapa dalam kita pulang.

Kita saksikan dari Kalanami,
seperti menyaksikan diri sendiri
yang perlahan menjadi bayang-bayang,
lalu cahaya,
lalu hilang dalam makna.

Gunung tidak berkata apa-apa,
namun diamnya lebih keras
dari seribu khutbah yang kehilangan jiwa.

Dan rumah kecil di lereng itu—
seperti dada manusia
yang menyimpan rindu,
yang menunggu seseorang kembali
tanpa perlu dipanggil.

Wahai Pyramida Gayo,
engkau bukan bangunan,
engkau adalah arah—
yang menuntun hati
dari ramai menuju roboh,
dari roboh menuju sujud.

Dan di bawah lengkung bunga ini,
aku mengerti:
segala yang indah
hanyalah pintu—

sedang pulang
adalah rahasia.