Breaking News

MENGAPA SAYA MENULIS PUISI SYAIR SURAT UNTUK PRABOWO

Oleh L. K. Ara

Saya menulis puisi ini
seperti orang Gayo menunggu kabut turun—
perlahan,
tanpa suara,
namun menutup seluruh pemandangan
dengan rahasia.

Dari dataran tinggi yang sunyi,
di antara kebun-kebun kopi
yang akarnya mencengkeram ingatan leluhur,
saya mendengar sesuatu yang tidak diucapkan—
suara tanah
yang lelah dipijak tanpa didengar.

Puisi ini bukan lahir dari kemarahan,
melainkan dari rasa yang terlalu dalam
untuk disebut sekadar sedih.

Ia seperti Danau Lut Tawar
yang tampak tenang di permukaan,
namun menyimpan kedalaman
yang tidak bisa dijangkau mata.

Kepada Prabowo Subianto,
saya tidak mengirim kata-kata,
melainkan gema.

Gema dari gunung-gunung
yang menyimpan sumpah lama:
bahwa manusia diciptakan bukan untuk berkuasa,
tetapi untuk menjaga.

Di tanah Gayo, kami belajar
bahwa kopi tidak pernah berbohong.
Ia pahit jika memang pahit,
dan harum jika dirawat dengan sabar.

Mengapa kekuasaan tidak bisa seperti itu?

Puisi ini saya tulis
seperti petani menanam di lereng:
tanpa jaminan panen,
namun dengan keyakinan
bahwa bumi tidak pernah mengkhianati usaha yang jujur.

Di pagi hari, kabut turun
seolah Tuhan ingin mengingatkan:
bahwa yang terlihat belum tentu yang sejati,
dan yang tersembunyi
sering kali lebih dekat kepada kebenaran.

Saya melihat negeri ini
seperti ladang yang terlalu sering dipanen
tanpa sempat dipulihkan.

Rakyat menjadi tanah—
yang terus memberi,
meski sering dilupakan untuk dirawat.

Puisi ini bukan tuduhan.
Ia adalah cermin dari embun:
jernih,
diam,
tetapi memantulkan wajah siapa pun
yang berani mendekat.

Saya tidak berteriak,
karena di gunung, suara keras hanya akan kembali
sebagai gema yang sama.

Saya memilih sunyi,
sebab dalam sunyi
kita tidak bisa berbohong kepada diri sendiri.

Jika kekuasaan adalah perjalanan,
maka ia seperti mendaki puncak Burni Telong:
semakin tinggi engkau melangkah,
semakin tipis udara kesadaran—
dan semakin mudah lupa
pada mereka yang tinggal di bawah.

Puisi ini adalah pengingat
bahwa setiap langkah ke atas
harus diimbangi dengan kerendahan hati ke dalam.

Sebab tanah Gayo mengajarkan:
yang tinggi tanpa akar
akan tumbang oleh angin yang paling kecil.

Saya menulis ini sebagai zikir—
bukan zikir yang dilafalkan dengan suara,
tetapi zikir yang ditanam dalam kata.

Agar setiap bait
menjadi biji yang suatu hari tumbuh
menjadi kesadaran.

Dan jika puisi ini sampai,
biarlah ia dibaca
seperti orang membaca tanda-tanda alam:
tidak tergesa,
tidak sombong,
dan tidak merasa paling tahu.

Sebab pada akhirnya,
kita semua akan kembali
seperti kabut yang naik dari danau—
hilang dari pandangan,
namun tetap tercatat
dalam rahasia Tuhan.

Saya menulis puisi ini
karena saya percaya:

selama tanah masih menyimpan doa,
selama kopi masih diseduh dengan sabar,
dan selama manusia masih mau menundukkan hati—

negeri ini belum benar-benar kehilangan arah.