Oleh: Tazkir, S.Pd., M.Pd.
KenNews.id – Bahasa Gayo bukan semata alat untuk berkomunikasi, melainkan cermin nilai luhur, adat istiadat, tata krama, dan sejarah masyarakat penuturnya yang diturunkan secara turun-temurun. Sebagai salah satu bahasa daerah di Aceh, bahasa Gayo menyimpan khazanah kosakata dan ungkapan.
Setiap kata di dalamnya tidak sekadar menyampaikan makna harfiah, tetapi juga memuat nilai, perasaan, dan pesan tersirat tertentu.
Salah satu wujud kekayaan itu tampak pada istilah yang digunakan masyarakat Gayo untuk menggambarkan cara seseorang memandang, yakni joreng dan rengeng.
Sekilas kedua kata ini tampak serupa karena sama-sama merujuk pada ekspresi tatapan mata yang tidak lazim.
Namun, jika ditelusuri lebih jauh, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar, baik dari segi makna, arah pandangan, pesan emosional yang terkandung, maupun konteks pemakaiannya.
Perbedaan ini memperlihatkan betapa cermatnya masyarakat Gayo dalam menuangkan sikap dan ekspresi seseorang ke dalam bahasa.
Joreng Tatapan Terbuka yang Menantang
Istilah joreng dalam bahasa Gayo merujuk pada cara memandang lurus ke depan dengan mata terbuka lebar atau melotot. Ekspresi ini umumnya muncul akibat perasaan tidak suka, marah, kesal, atau tidak setuju terhadap sesuatu.
Tatapan joreng bersifat langsung, tajam, dan terbuka, dengan arah pandangan tertuju lurus pada lawan bicara atau objek yang menjadi sumber ketidaksenangan.
Intensitas tatapan ini tergolong kuat kadang seseorang menatap tanpa berkedip atau hanya berkedip sesekali sehingga menimbulkan kesan menekan sekaligus menegaskan adanya penolakan atau keberatan.
Melalui joreng, seseorang seakan menyampaikan pesan tanpa kata bahwa dirinya tidak menerima, tidak menyukai, atau menentang sesuatu.
Dalam pergaulan masyarakat Gayo, kemunculan tatapan joreng kerap menjadi penanda adanya ketegangan atau ketidak nyamanan dalam suatu hubungan.
Orang yang menjadi sasaran tatapan tersebut biasanya dapat langsung memahami bahwa ada hal yang tidak berkenan di hati orang yang memandangnya.
Rengeng Tatapan Menyamping
Berbeda dengan joreng, rengeng menggambarkan cara memandang dari samping atau melalui sudut mata. Tatapan ini biasanya lahir dari perasaan kesal, tidak nyaman, tidak suka, atau tidak setuju, tetapi disertai keengganan untuk menunjukkan perasaan tersebut secara terang-terangan. Arah pandangan rengeng cenderung menyamping dan sering diiringi raut wajah yang menahan emosi, sehingga pesan yang tersampaikan terasa lebih halus dan tersamar dibandingkan joreng.
Dalam bahasa Gayo, istilah ini juga dikenal dalam bentuk kata kerja murengeng, berarti memandang dengan ujung atau sudut mata. Dalam pergaulan masyarakat Gayo, khususnya dalam kerangka adat sumang, perilaku murengeng dapat dinilai kurang santun karena berpotensi memicu kesalahpahaman, prasangka, atau tafsiran yang tidak diinginkan antarindividu. Jika joreng menampakkan ketidak senangan secara terbuka dan langsung, rengeng justru menyampaikan ketidak setujuan atau rasa tidak nyaman secara tidak langsung lewat sorot mata semata. Karena itu, penggunaan rengeng perlu memperhatikan situasi dan siapa lawan bicaranya, terlebih ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua atau berada dalam lingkungan yang menjunjung tinggi adat dan tata krama Gayo.
Perbedaan antara joreng dan rengeng menunjukkan betapa halus dan cermatnya masyarakat Gayo dalam menangkap nuansa ekspresi manusia melalui bahasa. Pemahaman terhadap kedua istilah ini tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga membantu generasi muda Gayo bersikap dan berkomunikasi secara lebih santun sesuai adat berlaku, sekaligus menjaga kelestarian bahasa daerah, pemahaman yang tepat mengenai kedua istilah ini penting dimiliki, terutama oleh generasi muda Gayo, agar penggunaannya dalam percakapan sehari-hari tetap sesuai konteks sekaligus turut melestarikan kekayaan bahasa dan budaya Gayo.bagian dari identitas budaya bangsa.
(Penulis guru SMA Negeri 1 Bukit)
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









