Breaking News
OPINI  

Sekolah Bukan Hanya Tempat Mencari Nilai, tetapi Belajar Beradab

Oleh: Tazkir, S.Pd., M.Pd.

Menyaksikan berbagai persoalan di kalangan pelajar dewasa ini, muncul pertanyaan penting: sudah saatnya sekolah kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai tempat mencari nilai, tetapi juga sebagai tempat belajar berkarakter dan beradab?

Pelajar adalah generasi penentu masa depan bangsa. Karena itu, mereka tidak cukup hanya memiliki nilai akademik tinggi, tetapi juga perlu memiliki kepribadian baik, menghargai orang lain, bertanggung jawab, memiliki rasa malu terhadap perbuatan tercela, serta memahami batas antara hak dan kewajiban. Kepandaian tanpa moral dapat menjadi persoalan apabila tidak diiringi tanggung jawab dan keadaban.

Pendidikan pada hakikatnya tidak sekadar mencerdaskan peserta didik secara akademik, tetapi juga membentuk manusia berkarakter, berakhlak, dan mampu hidup berdampingan dengan sesama. Sekolah semestinya menjadi ruang untuk menanamkan ilmu sekaligus menumbuhkan adab dan moral.

Sayangnya, keberhasilan pendidikan masih sering diukur dari angka di rapor. Padahal, nilai akademik yang tinggi tidak otomatis mencerminkan kematangan sikap dan budi pekerti seorang siswa.

Fenomena tawuran, perkelahian antarpelajar, ejek-mengejek, perundungan, tutur kata kasar, hingga sikap melawan guru menunjukkan bahwa pendidikan karakter masih menghadapi tantangan serius. Perselisihan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog kerap berujung pada kekerasan. Ejekan yang dianggap candaan pun dapat berkembang menjadi konflik.

Ini menjadi pengingat bahwa nilai rapor yang baik tidak cukup apabila tidak diiringi sikap hormat dan tenggang rasa.

Pendidikan moral dan agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter. Nilai-nilai Pancasila mengajarkan keimanan dan ketakwaan, penghormatan terhadap sesama manusia, persatuan, musyawarah, serta keadilan. Nilai-nilai tersebut sangat relevan sebagai fondasi keadaban di lingkungan sekolah.

Kita tentu tidak menghendaki sekolah hanya melahirkan siswa yang pandai menjawab soal, tetapi kurang menghormati guru, atau generasi berprestasi akademik tinggi tetapi mudah melakukan kekerasan terhadap teman.

Karena itu, sekolah, keluarga, dan masyarakat harus membangun keseimbangan antara kecerdasan, keterampilan, moral, dan akhlak. Keadaban bukan pelengkap prestasi akademik, melainkan fondasi yang memberi makna pada prestasi.

Penguatan pendidikan karakter juga harus disesuaikan dengan tantangan zaman. Materinya dapat dikaitkan dengan persoalan nyata yang dihadapi siswa, seperti perundungan, tawuran, penggunaan media sosial, penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, etika berbicara, penghormatan kepada guru, serta tanggung jawab sebagai pelajar.

Guru, orang tua, dan masyarakat memiliki peran yang sama penting. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi juga teladan. Cara guru berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, dan menghargai siswa akan menjadi contoh. Orang tua pun harus memperkuat pendidikan moral di rumah, sebab pendidikan karakter tidak akan berhasil apabila sekolah berjalan sendiri.

Sekolah juga perlu membangun budaya yang membiasakan siswa mengucapkan salam, menghormati guru, menghargai teman, menjaga kebersihan, disiplin, bertanggung jawab, serta menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Sudah saatnya tawuran, perkelahian, ejekan, perundungan, dan sikap tidak menghormati guru tidak lagi dianggap sekadar kenakalan biasa. Semua itu merupakan tanda bahwa pendidikan karakter dan keadaban perlu diperkuat.

Pendidikan boleh berubah mengikuti zaman. Teknologi boleh semakin maju dan metode pembelajaran semakin modern. Namun, adab, akhlak, persatuan, tanggung jawab, kejujuran, dan nilai-nilai Pancasila jangan sampai ditinggalkan.

Sebab bangsa besar tidak hanya membutuhkan generasi cerdas, tetapi juga generasi bermoral yang mampu menghargai sesama.

Pada akhirnya, sekolah yang baik bukan hanya melahirkan lulusan dengan nilai tinggi, melainkan pribadi yang santun, jujur, bertanggung jawab, dan beradab.

Nilai di rapor mungkin menunjukkan seberapa baik seorang siswa menjawab soal. Tetapi adab menunjukkan seberapa baik ia memahami kehidupan.

Karena itu, penguatan pendidikan karakter di sekolah dan di rumah harus menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat demi melahirkan generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, beradab, dan bermartabat.

Penulis adalah guru SMA Negeri 1 Bukit Bener Meriah.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca