Oleh: Tazkir, S.Pd., M.Pd.
KenNews.id – Pagi itu, seperti biasa, saya berdiri di gerbang sekolah bersama rekan guru piket. Tugas kami sederhana: memantau dan mencatat siswa yang datang terlambat. Namun, pagi itu saya menemukan lebih dari sekadar deretan nama dan catatan waktu kedatangan. Beberapa siswa terjaring dalam pemeriksaan. Melalui sejumlah pertanyaan, terurailah benang kusut yang selama ini tersembunyi rapi di balik seragam dan tas sekolah mereka.
Rata-rata dari mereka baru membuka mata menjelang pukul 07.30 WIB. Bayangkan, bel masuk sekolah telah lama berdentang, sementara mereka masih terbuai dalam pelukan bantal. Lebih memprihatinkan lagi, ada yang mengaku tidak melaksanakan salat Subuh. Pengakuan itu menorehkan luka di dada saya. Anak-anak yang kelak menjadi penerus bangsa ini mulai kehilangan sentuhan dengan salah satu kewajiban paling mendasar dalam kehidupan beragama.
Saya lalu bertanya, siapa yang membangunkan mereka pada pagi hari?
Sebagian besar menjawab lirih, “Tidak ada.” Sebagian lainnya mengaku dibangunkan orang tua. Namun, ketika dibangunkan, mereka menjawab, “Sebentar lagi, masih mengantuk,” lalu kembali terlelap. Ada pula yang terbangun sendiri, atau lebih tepatnya tersentak panik ketika jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB.
Ini bukan semata-mata soal alarm yang gagal berbunyi. Ada persoalan yang lebih mendasar: kehadiran dan keterlibatan orang tua dalam membangun kebiasaan anak sejak awal hari. Pagi merupakan waktu penting ketika disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran beribadah semestinya ditanamkan.
Lalu, apa yang membuat mereka tidur larut malam hingga sulit bangun pada pagi hari?
Jawabannya hampir seragam: gawai.
Ponsel telah menjelma menjadi penguasa malam, melumpuhkan kesadaran sebagian siswa terhadap tugas dan tanggung jawab mereka sebagai pelajar. Mereka begadang, bermain gim, dan berselancar di media sosial hingga dini hari. Akibatnya, mereka terlambat bangun dan terlambat tiba di sekolah.
Persoalannya tidak berhenti sampai di situ. Sesampainya di kelas, sebagian siswa justru terkulai di atas meja. Mereka menguap, menahan kantuk, dan menunjukkan wajah lelah. Bahkan, tidak sedikit yang tertidur ketika pembelajaran berlangsung.
Rantai sebab-akibat itu terus berulang tanpa putus. Waktu malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat habis untuk hiburan di layar ponsel. Waktu pagi yang semestinya menjadi awal untuk beribadah dan mempersiapkan diri menuntut ilmu justru berlalu dalam keterlambatan dan ketergesaan.
Sungguh disayangkan, harapan masa depan bangsa justru terlena oleh hiburan sesaat. Gawai yang semestinya menjadi sahabat belajar dapat berubah menjadi candu yang menggerogoti waktu tidur, mengganggu kebiasaan beribadah, dan merampas kesempatan untuk belajar secara optimal.
Di titik inilah saya menyadari sebuah kenyataan pahit: pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.
Di sekolah, siswa dituntut menaati aturan, menjaga disiplin, dan menghormati tata tertib. Namun, jika fondasi pembiasaan di rumah rapuh, berbagai upaya yang dilakukan guru berisiko kehilangan daya pengaruhnya. Sekolah setiap pagi menggelar apel untuk menanamkan kedisiplinan. Guru menegur siswa yang terlambat dan mengingatkan mereka agar bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
Akan tetapi, apa artinya semua itu jika anak datang ke sekolah dalam keadaan kurang tidur, tidak siap belajar, dan minim pendampingan dari keluarga?
Ibarat membangun rumah megah di atas tanah yang labil, pendidikan karakter akan mudah goyah apabila fondasinya tidak kokoh. Sekolah dapat membangun dinding kedisiplinan, tetapi keluarga harus ikut memperkuat fondasinya.
Dalam konteks ini, Q.S. An-Nisa ayat 9 patut menjadi bahan renungan bagi kita semua. Ayat tersebut mengingatkan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah dan mengajarkan pentingnya rasa takut akan masa depan anak-anak yang berada dalam tanggung jawab kita.
Jangan sampai kita mewariskan generasi yang lemah dalam iman, rapuh dalam disiplin, dan kehilangan ketangguhan karakter. Anak-anak tidak cukup hanya dibekali pengetahuan akademik. Mereka juga membutuhkan keteladanan, pendampingan, dan pembiasaan yang konsisten, baik di rumah maupun di sekolah.
Pagi itu mengajarkan saya bahwa keterlambatan sejumlah siswa bukanlah perkara sepele. Ia hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang jauh lebih dalam: lemahnya pengawasan dan pendampingan keluarga, terutama dalam penggunaan gawai yang perlahan menggerogoti waktu istirahat dan kebiasaan anak.
Guru memang bertugas menegur siswa di gerbang sekolah. Namun, orang tua memiliki tanggung jawab yang tidak kalah penting untuk menanamkan disiplin sejak dari rumah. Membatasi penggunaan ponsel pada malam hari, memastikan anak beristirahat cukup, membiasakan bangun pagi, serta mendampingi mereka dalam menjalankan kewajiban beribadah merupakan langkah sederhana yang dapat membawa perubahan besar.
Tentu saja, gawai bukanlah musuh yang harus dijauhi sepenuhnya. Teknologi tetap memiliki manfaat besar apabila digunakan secara bijak. Persoalannya terletak pada bagaimana orang tua mendampingi, anak mengendalikan diri, dan sekolah memperkuat pendidikan karakter secara berkelanjutan.
Karena itu, tanggung jawab ini tidak boleh dipikul oleh guru seorang diri. Orang tua, pendidik, dan masyarakat harus berjalan bersama. Kita perlu merebut kembali malam agar anak-anak memperoleh istirahat yang cukup, sekaligus mengembalikan makna fajar sebagai awal kehidupan yang tertib, sehat, dan penuh tanggung jawab.
Jangan biarkan ponsel terus menjadi penguasa malam, sementara anak-anak kita kehilangan fajar. Sebab, masa depan tidak dibangun hanya dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari disiplin, keteladanan, iman, dan kepedulian yang kita tanamkan sejak dini.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









