Breaking News
OPINI  

Rajin dan Malas Sama-Sama Naik Kelas

Ilustrasi siswa rajin dan malas. Foto: AI

Oleh: Tazkir, S.Pd., M.Pd.

Di pagi hari setelah selesai senam kesegaran jasmani, bel masuk ke kelas dimulai. Pak guru memanggil satu persatu siswa untuk diabsensi. Panggilan untuk siswa pertama, setiap hari hadir, pak, kata siswa menjawab. Panggilan kedua sering alpa, panggilan ketiga suka bolos.

Ada ironi tumbuh pelan-pelan, bagai ilalang di sela taman. Siswa tekun belajar, rajin mengerjakan tugas, dan hormat kepada guru duduk sebangku dengan siswa abai dan malas. Ketika tahun ajaran usai, keduanya sama-sama naik kelas. Seakan-akan peluh kesungguhan dan debu kemalasan tidak berbeda, yang berbeda hanya nilainya di mata pendidikan. Esai ini berpendapat bahwa kenaikan kelas tanpa memperhitungkan proses dan hasil belajar bukan hanya melemahkan semangat siswa, melainkan juga mengikis wibawa guru.

Persoalan pertama terletak pada hilangnya alasan untuk berjuang. Untuk apa belajar dengan tekun jika bermalas-malasan pun tetap naik kelas? Untuk apa bersusah payah menyelesaikan tugas jika mengabaikannya tidak berakibat apa-apa? Pertanyaan itu mungkin tak pernah terucap, tetapi bisa tumbuh diam-diam dalam benak siswa. Pendidikan semestinya menyalakan api perjuangan, tetapi justru berisiko menumbuhkan budaya serba mudah. Proses dianggap tak penting, sebab tujuan utamanya bukan lagi menguasai ilmu, melainkan melewati tahun pelajaran. Naik kelas menjadi pelabuhan tujuan, sementara pengetahuan, keterampilan, disiplin, dan akhlak hanya menjadi hiasan dalam rapor.

Dampak berikutnya merembet pada cara sebagian siswa memandang guru. Ketika nasihat dianggap angin lalu, teguran dipandang gangguan, dan aturan dianggap boleh dilanggar, wibawa guru terkikis seperti tebing digerus ombak. Dahulu, sepatah teguran cukup membuat siswa berpikir dua kali sebelum mengulangi kesalahan. Kini, di beberapa sekolah, guru harus berhadapan dengan siswa berani membantah dan bersikap kurang santun. Guru mengingatkan dicap galak, mendisiplinkan dinilai tidak menyenangkan, dan bersikap tegas disangka penghalang kebebasan. Inilah salah satu sebab sebagian siswa kurang menghargai guru. Ketika kemalasan tetap berujung pada kenaikan kelas, nasihat, teguran, dan penilaian guru terasa tidak lagi memiliki akibat apa pun, dan hormat pun perlahan kehilangan alasannya.

Tentu tidak semua siswa demikian. Masih banyak anak santun dengan semangat belajar berkobar. Namun, merosotnya disiplin dan rasa hormat kepada pendidik tidak boleh dipandang sebelah mata. Kita perlu bertanya, adakah yang keliru dalam cara kita membangun budaya pendidikan?

Menghormati guru tidak berarti takut berlebihan. Guru tidak memerlukan rasa takut akibat ancaman, tetapi penghormatan bersemi dari kesadaran. Kesadaran itu perlu disemai melalui keteladanan, aturan konsisten, dan konsekuensi adil. Guru patut dihormati, tetapi guru pun wajib menghargai hak dan martabat peserta didik.

Karena itu, sekolah tidak boleh menjadikan kenaikan kelas sekadar formalitas administratif. Keputusan tersebut semestinya mempertimbangkan ketercapaian kompetensi, perkembangan siswa, dan hasil evaluasi belajar. Siswa belum mencapai kompetensi perlu dibimbing dan diberi remedial. Jika setelah pembinaan memadai mereka tetap belum memenuhi syarat, keputusan harus diambil secara objektif, transparan, dan sesuai ketentuan. Tidak naik kelas memang bukan tujuan pendidikan, sebab tujuannya memastikan siswa benar-benar belajar. Akan tetapi, jika semua siswa dinaikkan tanpa melihat penguasaan kompetensi, kita berisiko melahirkan generasi penggenggam ijazah, tetapi hampa kemampuan.

Pendidikan pun bukan beban guru seorang diri, orang tua harus menanamkan disiplin dari rumah. Sekolah perlu menegakkan aturan dengan konsisten. Pemerintah mesti menghadirkan kebijakan berpihak pada mutu, bukan sekadar angka keberhasilan. Guru sendiri perlu terus memperbaiki cara mengajar agar pembelajaran lebih bermakna dan mampu memantik motivasi siswa. Jangan sampai kita terlena oleh tingginya angka kelulusan, lalu lupa memeriksa mutu ilmu dan karakter di baliknya. Jangan pula guru dibiarkan berjuang sendirian menjaga disiplin di tengah sistem minim dukungan.

Pada akhirnya, naik kelas seharusnya menjadi pengakuan atas tumbuhnya kemampuan, bukan hadiah otomatis karena telah melewati satu tahun. Siswa rajin harus dihargai, sekolah adalah tempat menempa manusia berilmu, berakhlak, disiplin, dan bertanggung jawab.

Jika rajin dan malas terus diperlakukan sama, jangan salahkan siswa bila api semangatnya meredup. Dan ketika hormat kepada guru memudar, jangan hanya menuding generasi muda. Barangkali sistem pendidikan kita perlu dibenahi bersama. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya siswa naik kelas, melainkan dari banyaknya siswa sungguh-sungguh tumbuh dalam ilmu, karakter, dan tanggung jawab.

“Inilah salah satu sebab sebagian siswa kurang menghargai guru. Ketika kemalasan tetap berujung pada kenaikan kelas, nasihat, teguran, dan penilaian guru terasa tidak lagi memiliki akibat apa pun, dan hormat pun perlahan kehilangan alasannya.”

(Penulis guru SMA Negeri 1 Bukit)


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca