“Refleksi tentang Generasi, Keteladanan, dan Tanggung Jawab Kita”
Oleh: Drh. Cut Susi Arita, M.A.P
KenNews.id – Ada sesuatu yang akhir-akhir ini sering membuat hati saya bertanya-tanya.
Di tengah dunia yang semakin maju, ilmu pengetahuan semakin luas, teknologi semakin canggih, dan komunikasi semakin mudah, mengapa hal-hal sederhana tentang adab, etika, dan akhlak justru terasa semakin menghadapi tantangan dalam kehidupan anak-anak kita?
Dahulu, anak-anak diajarkan untuk merendahkan suara di hadapan orang yang lebih tua. Diajarkan mengucapkan salam ketika bertamu. Diajarkan meminta izin, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika bersalah, dan menghormati siapa pun tanpa memandang kedudukan. Bukan karena mereka hidup dalam zaman yang sempurna, tetapi karena akhlak dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Hari ini, kita hidup di zaman yang berbeda. Anak-anak tumbuh bersama gawai, media sosial, dan arus informasi yang nyaris tanpa batas. Dalam hitungan detik, mereka dapat melihat banyak hal, baik maupun buruk. Mereka dapat belajar dari siapa saja. Namun, di sinilah persoalannya. Tidak semua yang terlihat layak untuk ditiru. Tidak semua yang ramai patut diikuti. Tidak semua yang menjadi tren pantas dijadikan teladan. Terkadang, kita terlalu sibuk menyalahkan generasi sekarang karena dianggap mulai kehilangan sopan santun. Kita mengatakan anak-anak zaman sekarang berbeda, tidak seperti anak-anak dahulu.
Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Siapa yang sedang mereka contoh?
Sebab seorang anak tidak hanya belajar dari nasihat yang kita ucapkan. Ia belajar dari cara kita berbicara, cara kita memperlakukan orang lain, cara kita menghargai yang lebih tua, cara kita meminta maaf, bahkan dari cara kita bersikap ketika sedang marah. Kita boleh seribu kali berkata, “Jadilah anak yang santun.” Tetapi jika setiap hari yang mereka lihat adalah orang dewasa yang mudah merendahkan orang lain, gemar mencaci, tidak menghargai perbedaan, dan merasa paling benar, maka nasihat itu dapat kalah oleh apa yang mereka saksikan. Karena keteladanan sering kali berbicara lebih keras daripada nasihat.
Akhlak tidak akan hilang dalam satu malam. Ia bisa memudar sedikit demi sedikit ketika keluarga mulai kehilangan waktu untuk berbicara. Ketika kesibukan membuat orang tua lebih sering hadir secara fisik, tetapi jauh secara emosional. Ketika pendidikan terkadang lebih fokus mengejar nilai akademik, sehingga penanaman nilai kemanusiaan perlu lebih dikuatkan lagi. Akhlak juga dapat terkikis ketika keberhasilan hanya diukur dari apa yang dimiliki seseorang, bukan dari bagaimana ia memperlakukan sesamanya. Kita mulai mengagumi kecerdasan, tetapi jangan sampai lupa mengajarkan kebijaksanaan. Kita bangga ketika anak berprestasi, tetapi terkadang lupa bertanya apakah ia sudah mampu menghormati orang lain. Kita ingin melahirkan generasi yang hebat, tetapi jangan sampai kita lupa bahwa hebat tanpa akhlak dapat kehilangan arah.
Lalu, apakah kita harus menyalahkan generasi sekarang? Menurut saya, bukan itu jawabannya.
Yang perlu kita lakukan adalah melihat persoalan ini sebagai tanggung jawab bersama. Perubahan tidak dapat dibebankan hanya kepada anak-anak dan remaja. Mereka tumbuh di tengah keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, dan perkembangan zaman yang semuanya ikut membentuk cara berpikir dan cara mereka bersikap. Karena itu, jika kita ingin melihat akhlak kembali tumbuh kuat dalam diri generasi muda, maka kita perlu hadir bersama-sama.
Bagi para orang tua, rumah dapat kembali menjadi tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar tentang akhlak. Bukan dengan tuntutan yang berat, tetapi melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak, mendengarkan cerita dan kegelisahan mereka tanpa terburu-buru menghakimi, makan bersama ketika memungkinkan, mengajarkan cara berbicara yang santun, membiasakan mengucapkan salam, meminta maaf dan berterima kasih, serta memberikan pendampingan yang sehat dalam penggunaan gawai dan media sosial. Anak-anak juga dapat dikenalkan kembali pada kegiatan yang menumbuhkan kepedulian, seperti membantu pekerjaan di rumah, menghormati tetangga, membantu orang yang membutuhkan, serta terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan.
Sebab anak bukan hanya membutuhkan aturan untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka juga membutuhkan pendampingan agar memahami mengapa kebaikan itu penting. Dan yang tidak kalah penting, orang tua perlu menyadari bahwa anak-anak lebih banyak melihat daripada mendengar. Mereka melihat bagaimana orang tuanya berbicara. Mereka melihat bagaimana orang tuanya memperlakukan orang lain. Mereka melihat bagaimana orang tuanya menyelesaikan masalah dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Maka, sebelum meminta anak menjadi teladan bagi orang lain, mari terlebih dahulu menunjukkan keteladanan itu di hadapan mereka.
Bagi para pendidik, sekolah bukan hanya tempat untuk mencerdaskan pikiran, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan karakter.
Pendidikan akhlak tidak harus selalu hadir dalam bentuk pelajaran khusus. Ia dapat tumbuh melalui budaya sekolah sehari-hari.
Bagaimana guru menyapa siswa dengan penuh kasih, bagaimana siswa menghormati gurunya, bagaimana perbedaan disikapi dengan bijak, bagaimana kesalahan diberikan ruang untuk diperbaiki, dan bagaimana kepedulian terhadap sesama dibangun, semuanya merupakan bagian dari pendidikan karakter. Kegiatan gotong royong, bakti sosial, kegiatan keagamaan, pembinaan karakter, literasi, diskusi mengenai etika bermedia sosial, serta berbagai kegiatan yang melatih tanggung jawab dan kepedulian dapat terus diperkuat sebagai bagian dari proses tersebut.
Anak-anak perlu diberi ruang untuk belajar bahwa menjadi berprestasi dan menjadi manusia yang baik bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satunya. Ilmu dan akhlak seharusnya berjalan beriringan.
Bagi pemerintah daerah dan lingkungan masyarakat, upaya menjaga akhlak generasi muda juga dapat semakin diperkuat dengan menciptakan lingkungan yang positif serta menyediakan ruang bagi remaja untuk tumbuh dan berkontribusi. Pemerintah daerah dapat terus mendukung kegiatan kepemudaan, olahraga, seni dan budaya, literasi, kegiatan keagamaan, pelatihan keterampilan, kegiatan sosial, serta ruang-ruang kreatif yang sehat dan aman bagi anak dan remaja.
Tokoh masyarakat, tokoh agama, sekolah, keluarga, organisasi kepemudaan, dan berbagai unsur masyarakat dapat berjalan bersama untuk menciptakan lingkungan yang memberikan contoh baik.
Bukan dengan menghakimi generasi muda, tetapi dengan hadir di tengah mereka, mendengarkan mereka, membimbing mereka, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan bahwa mereka juga mampu melakukan sesuatu yang berarti. Karena remaja tidak hanya membutuhkan seseorang yang mengatakan kepada mereka, “Jangan lakukan itu.” Mereka juga membutuhkan seseorang yang mengatakan, “Mari, kita lakukan hal yang lebih baik bersama-sama.”
Mungkin di sinilah kita perlu mengubah cara pandang. Jangan hanya melihat remaja dari kesalahan yang mereka lakukan, tetapi lihat pula potensi kebaikan yang dapat kita tumbuhkan dalam diri mereka.
Berikan ruang untuk bertanya. Berikan ruang untuk belajar dari kesalahan. Berikan ruang untuk mencoba. Dan berikan ruang untuk berkontribusi. Sebab karakter tidak dibentuk hanya melalui nasihat, tetapi melalui kebiasaan, pengalaman, lingkungan, dan keteladanan yang terus-menerus.
Orang tua menanamkan nilai di rumah. Pendidik menguatkannya di sekolah. Masyarakat menjaganya di lingkungan. Pemerintah memberikan ruang dan dukungan agar nilai-nilai itu dapat tumbuh.
Jika semuanya berjalan bersama, kita tidak hanya berharap lahir generasi yang cerdas dan berprestasi, tetapi juga generasi yang memiliki kepedulian, rasa hormat, tanggung jawab, dan akhlak yang baik.
Jika ingin anak-anak menghormati orang tua, maka mari kita tunjukkan bagaimana menghormati orang lain.
Jika ingin mereka santun dalam berbicara, mari kita jaga ucapan kita.
Jika ingin mereka tidak mudah merendahkan orang lain, mari kita berhenti menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan ejekan.
Jika ingin mereka gemar membantu, mari kita perlihatkan bahwa membantu sesama bukan sesuatu yang memalukan.
Jika ingin mereka memiliki hati yang lembut, mari kita ajarkan bahwa menjadi kuat tidak berarti harus keras kepada semua orang.
Dan jika kita ingin mereka memiliki adab, jangan hanya mengajarkan adab melalui kata-kata. Hidupilah adab itu di hadapan mereka.
Sebab generasi yang baik tidak lahir hanya dari sekolah yang baik. Ia tumbuh dari rumah yang memberi keteladanan, lingkungan yang menjaga nilai, guru yang menginspirasi, masyarakat yang peduli, dan orang-orang dewasa yang bersedia menjadi contoh.
Kita mungkin tidak mampu mengendalikan seluruh isi dunia yang dilihat oleh generasi muda. Kita tidak mungkin menutup semua pintu dari pengaruh zaman.
Tetapi kita masih dapat memberikan kepada mereka satu tempat untuk kembali: nilai-nilai yang kuat dalam dirinya.
Ajarkan kepada mereka bahwa sopan santun bukan tanda kelemahan. Bahwa meminta maaf bukan berarti kalah. Bahwa mengucapkan terima kasih bukan sekadar formalitas. Bahwa menghormati orang lain tidak akan mengurangi harga diri. Dan bahwa ilmu yang tinggi akan jauh lebih indah apabila berjalan bersama akhlak yang mulia.
Mari kita berhenti hanya berkata, “Generasi sekarang sudah berubah.” Barangkali yang lebih penting adalah bertanya, “Apa yang sudah kita wariskan kepada mereka?”
Sebab setiap generasi sesungguhnya sedang menulis jejaknya sendiri. Dan kita, yang hidup di antara generasi terdahulu dan generasi yang akan datang, memiliki tanggung jawab untuk menjadi jembatan.
Mewariskan bukan hanya cerita tentang bagaimana orang-orang dahulu hidup dengan kesederhanaan dan kesantunan, tetapi juga menunjukkan melalui perbuatan bahwa nilai-nilai itu masih layak hidup di zaman sekarang.
Jangan biarkan adab menjadi kenangan. Jangan biarkan etika hanya menjadi teori. Jangan biarkan akhlak hanya menjadi kata yang indah di dalam buku.
Mari kita hidupkan kembali melalui hal-hal kecil: salam yang tulus, senyum yang ramah, ucapan yang santun, tangan yang suka menolong, hati yang mau menghargai, dan keberanian untuk meminta maaf ketika bersalah. Karena mungkin kita tidak akan melihat langsung seperti apa wajah generasi beberapa puluh tahun mendatang. Namun, kita sedang ikut menentukan wajah mereka melalui contoh yang kita tinggalkan hari ini.
Dan pada akhirnya, warisan terbesar yang dapat kita berikan kepada generasi setelah kita bukanlah harta yang banyak, bukan pula nama yang besar. Melainkan jejak kebaikan yang membuat mereka tahu bagaimana menjadi manusia.
Mari menjadi teladan sebelum menuntut keteladanan. Mari menanam sebelum berharap mereka memanen. Mari memperbaiki diri sebelum meminta generasi berikutnya berubah. Sebab akhlak yang baik tidak akan punah selama masih ada manusia yang bersedia menjaganya, menjalankannya, dan mewariskannya.
Dan mungkin, perubahan besar itu tidak perlu dimulai dari siapa-siapa. Cukup dimulai dari diri kita. Hari ini. Dari satu sikap baik. Dari satu ucapan yang santun. Dari satu keteladanan yang sederhana.
Karena generasi yang akan datang sedang belajar dari langkah-langkah yang kita tinggalkan hari ini.
BM, 27092026/15.05
CSA
👑
© CSA | 2026
Karya orisinal. Hak cipta dilindungi.
Dilarang menyalin, menggandakan, mengubah, menerbitkan ulang, atau mengklaim tulisan ini sebagai karya sendiri tanpa izin penulis.
Untuk membagikan tulisan, silakan gunakan fitur Share dan tetap mencantumkan nama penulis.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
