Puisi Esai
L K Ara
Ada penghargaan
yang datang membawa nama.
Tetapi ada nama
yang seharusnya
dikembalikan kepada kota.
Sebab seorang pemimpin
tidak pernah bekerja
sendirian.
Di belakangnya
ada warga,
ada doa,
ada tangan-tangan
yang ikut membangun,
dan ada kota
yang diam-diam
menjadi saksi.
Nama itu
adalah Illiza Sa’aduddin Djamal.
Dan penghargaan
Swara Cantika 2026
sebagai Pelopor dan Penggerak
Ruang Publik,
barangkali bukan sekadar
sebuah bingkai
untuk diletakkan
di dinding.
Ia seperti pertanyaan
yang dititipkan zaman:
ruang seperti apa
yang hendak kita tinggalkan
untuk anak-anak Banda Aceh?
⸻
Saya teringat
Taman Putroe Phang.
Taman yang menyimpan
jejak masa lalu,
tempat sejarah
pernah berjalan
bersama angin.
Di sana
Illiza membuka kembali
ruang perjumpaan
dengan warga.
Bukan dari balik meja
yang tinggi,
tetapi di tengah
orang-orang
yang datang membawa
keluhan, gagasan,
dan harapan.
Forum Suara Warga
menjadikan ruang terbuka
sebagai ruang percakapan
antara pemerintah
dan masyarakat. (Diskominfo Banda Aceh Kota)
Di situlah
ruang publik
mendapat maknanya:
bukan hanya
tempat manusia berkumpul,
tetapi tempat
suara manusia
didengarkan.
Sebab kota
yang baik
bukan kota
yang hanya pandai
membangun.
Kota yang baik
adalah kota
yang mau mendengar.
⸻
Illiza juga pernah
mengenang Taman Putroe Phang
sebagai tempat
festival seni budaya
yang pernah digelar
secara rutin.
Kini ruang itu
dihidupkan kembali
dengan suasana berbeda:
warga datang
membawa suara.
Di sana
pemerintah tidak hanya
berbicara kepada rakyat,
tetapi mencoba
mendengarkan rakyat.
Dan mungkin
itulah salah satu
arti menjadi
penggerak ruang publik:
membuka pintu
agar pemerintah
tidak kehilangan
suara jalanan.
⸻
Ada pula
ruang publik
yang harus dijaga
dari keserakahan.
Ketika bangunan usaha
mengambil badan jalan,
ketika ruang yang semestinya
menjadi milik bersama
perlahan dipagari
kepentingan pribadi,
Illiza turun
menertibkannya.
Bukan semata-mata
soal membongkar bangunan.
Tetapi soal
mengembalikan
ruang bersama
kepada masyarakat. (Diskominfo Banda Aceh Kota)
Sebab ruang publik
yang sedikit demi sedikit
direbut,
pada akhirnya
membuat rakyat
menjadi tamu
di kotanya sendiri.
Di sinilah
pembangunan menemukan
ujian moralnya:
untuk siapa kota
dibangun?
⸻
Pada 2026
gagasan itu kembali
terlihat dalam
Banda Aceh City Expo.
Illiza mengajak warga
bukan sekadar
datang sebagai penonton,
tetapi ikut menjadi
bagian dari cerita kota.
Produk lokal,
ruang interaksi,
seni,
pertunjukan,
dan berbagai kegiatan
dihadirkan untuk
menghidupkan kembali
perjumpaan warga
dengan kotanya. (Diskominfo Banda Aceh Kota)
Kota,
kata-kata itu seolah
berbisik,
bukan benda
yang selesai dibangun.
Kota adalah
sesuatu yang
harus dihidupi.
⸻
Maka penghargaan
Swara Cantika 2026
kepada Illiza
menjadi lebih berarti
jika dibaca dari sana.
Bukan karena
seorang perempuan
menerima penghargaan.
Tetapi karena
seorang perempuan
sedang berada
di ruang kepemimpinan,
dan ruang itu
dipakainya untuk
membuka ruang lain:
ruang bagi warga,
ruang bagi komunitas,
ruang bagi kebudayaan,
ruang bagi anak muda,
ruang bagi perempuan,
ruang bagi percakapan.
Itulah sebabnya
saya tidak ingin
menulis penghargaan ini
sebagai mahkota.
Saya lebih suka
menyebutnya:
amanah.
Sebab mahkota
diletakkan di kepala.
Amanah
diletakkan di dada.
⸻
Illiza,
barangkali
inilah yang harus
selalu diingat
oleh siapa pun
yang diberi kesempatan
memimpin sebuah kota:
lampu panggung
akan padam.
Tepuk tangan
akan selesai.
Berita
akan berganti.
Foto
akan masuk arsip.
Tetapi jalan
tetap akan dilalui rakyat.
Taman
tetap akan menjadi
tempat anak-anak bermain.
Pedagang kecil
tetap mencari nafkah.
Perempuan
tetap berjalan
membawa keluarganya.
Anak muda
tetap mencari
tempat untuk
berkarya.
Dan warga
tetap membutuhkan
pemimpin
yang mau mendengar.
Maka biarlah
penghargaan itu
menjadi cahaya kecil,
bukan cahaya
yang membuat seseorang
merasa paling terang,
tetapi cahaya
yang menunjukkan
ke mana langkah
berikutnya harus diarahkan.
⸻
Banda Aceh
telah melewati
begitu banyak zaman.
Kesultanan.
Perdagangan.
Perang.
Kehancuran.
Tsunami.
Rekonstruksi.
Dan sekarang,
sebuah kota
sedang belajar
menata masa depannya.
Di tengah perjalanan itu
Illiza berdiri
sebagai salah satu
pemegang amanah
pada zamannya.
Bukan pemilik kota.
Bukan pemilik suara rakyat.
Melainkan seseorang
yang untuk sementara
diberi kesempatan
menjaga rumah bersama.
Dan rumah bersama
tidak boleh
hanya indah
dari halaman depan.
Ia harus mempunyai
pintu yang terbuka.
Jendela yang cukup.
Halaman yang luas.
Dan ruang
untuk setiap orang
merasakan dirinya
sebagai bagian
dari rumah itu.
⸻
Karena itu,
selamat atas penghargaan itu
bukanlah akhir.
Ia justru
sebuah awal.
Semoga Illiza
tetap membuka ruang.
Tetap mendengar.
Tetap mengajak
warga berjalan bersama.
Sebab pemimpin
yang membuka ruang
sesungguhnya
sedang membuka
kemungkinan.
Kemungkinan
bagi kota
untuk tumbuh.
Kemungkinan
bagi warga
untuk percaya.
Kemungkinan
bagi perbedaan
untuk duduk
di satu halaman.
Dan kemungkinan
bagi Banda Aceh
untuk menemukan
masa depannya sendiri.
Akhirnya,
jangan tanyakan
seberapa tinggi
penghargaan itu
diletakkan.
Tanyakanlah:
berapa banyak pintu
yang terbuka
setelah penghargaan itu
diterima?
Sebab sejarah
tidak akan mengingat
tepuk tangan terlalu lama.
Sejarah akan mencari
jejak.
Dan mudah-mudahan
jejak Illiza
bukan hanya
sebuah nama
di atas panggung,
melainkan
ruang-ruang yang pernah
dibukanya untuk manusia.
⸻
CATATAN PINGGIR
[1] Tentang Swara Cantika 2026.
Illiza Sa’aduddin Djamal tercatat sebagai penerima Apresiasi Swara Cantika 2026 dalam kategori Pelopor & Penggerak Ruang Publik. Apresiasi tersebut diselenggarakan oleh PT Tempo Inti Media Tbk dan diumumkan pada September 2026. (Diskominfo Banda Aceh Kota)
[2] Taman Putroe Phang.
Forum Suara Warga yang melibatkan Illiza berlangsung di Taman Putroe Phang pada Mei 2025. Forum tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan pemerintah dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. (Diskominfo Banda Aceh Kota)
[3] Ruang publik dan penataan kota.
Pada 2025, Illiza memimpin penertiban sejumlah bangunan usaha yang menggunakan area yang seharusnya berfungsi sebagai ruang publik. Pada 2026, penataan bangunan liar di kawasan Rukoh juga dikaitkan dengan upaya menghadirkan ruang publik yang nyaman, bersih, dan representatif. (Diskominfo Banda Aceh Kota)
[4] Kota sebagai ruang hidup.
Dalam Banda Aceh City Expo 2026, Illiza mengajak warga tidak hanya menjadi pengunjung, tetapi menjadi bagian dari cerita kota. Kegiatan tersebut menghadirkan ruang interaksi publik, seni, produk lokal, dan kegiatan masyarakat. (Diskominfo Banda Aceh Kota)
[5] Catatan seorang penyair.
Saya membaca semua itu bukan sebagai pujian kepada kekuasaan.
Saya membacanya sebagai
sebuah percobaan:
ketika seorang pemimpin
membuka pintu,
apakah warga
akan masuk membawa
ketakutan,
atau membawa
keberanian untuk berkata:
“Kota ini milik kita bersama.”
Di situlah
ruang publik
berubah menjadi
ruang peradaban.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










