Oleh Tazkir, S.Pd., M.Pd.
KenNews.id – Dalam khazanah peribahasa Gayo tersimpan sebuah ungkapan sarat makna, kerap menjelma cermin bagi kritik sosial “omong pesot”. Secara harfiah kiasan Gayo “omong” berarti bicara, sementara “pesot” merujuk pada sesuatu kosong dan hampa. Digabungkan, omong pesot tak lain adalah omong kosong, perkataan tanpa bobot, janji tanpa bukti, wacana dan opini yang melayang jauh dari kenyataan.
Peribahasa Melayu “tong kosong nyaring bunyinya” atau “besar pasak daripada tiang” mengalunkan makna serupa. Ungkapan ini bukan sekadar istilah usang, melainkan bahasa kiasan Gayo agar senantiasa menjaga marwah antara tutur dan laku.
Istilah omong pesot kerap terlontar sebagai sindiran halus kepada rekan, kolega, atau pemberi jani berkinerja kosong belaka. Sindiran ini tumbuh dari akar yang nyata.
Omong pesot menggambarkan diskusi bertele-tele, retorika berputar-putar tanpa pernah berlabuh pada eksekusi, jurang menganga antara ucapan dan pelaksanaan.
Dengan demikian, omong pesot bukan semata soal isi pembicaraan, melainkan soal konsistensi kata dan perbuatan.
Dalam denyut kehidupan sehari-hari, omong pesot tampil dalam beragam wajah. Di lingkungan kerja ia berwujud rapat tanpa keputusan dan tindak lanjut. Di ruang keluarga ia hadir sebagai nasihat hampa keteladanan.
Bahkan dalam pergaulan sesama teman, omong pesot menyelinap sebagai obrolan penghibur tanpa membawa perubahan apa pun. Bila dibiarkan berakar, seluruh bentuk ini akan menggerogoti kepercayaan dan meruntuhkan tatanan sosial pelan-pelan, bagai rayap melumat kayu dari dalam.
Bahasa Gayo dikenal berjenjang santun, sarat tata krama, dan menghormati lawan bicara. Maka ketika bahasa sekaya dan sesantun itu justru dijadikan kendaraan kebohongan dan janji palsu, omong pesot bukan lagi sekadar cacat akal sehat melainkan jauh dari nilai adat sekaligus ajaran agama.
Mengapa omong pesot berbahaya? Pertama, ia membunuh kepercayaan pelan-pelan. Masyarakat yang berulang kali disuguhi janji kosong lambat laun kehilangan harapan kepada teman, pemimpin dan institusi.
Kedua, ia memboroskan energi dan waktu diskusi tanpa keputusan tak ubahnya menabur pasir ke lautan.
Ketiga, marwah itu runtuh seketika tutur katanya tak lagi layak dipercaya.
Bagaimana melawan omong pesot? Pertama, berbicaralah dengan data dan fakta setiap pernyataan harus siap dipertanggungjawabkan.
Kedua, hentikan kata-kata, mulailah bekerja tindakan nyata jauh lebih berharga daripada seribu janji manis.
Ketiga, budayakan evaluasi setiap janji perlu diukur capaiannya, bukan sekadar dikenang keindahan bunyinya.
Keempat, kembalikan bahasa Gayo kepada fungsi luhurnya sebagai jembatan penyampai kebenaran dan perekat kebersamaan.
Omong pesot adalah cermin buram, mesti segera dipoles hingga bening kembali. Jika dibiarkan berkarat, generasi mendatang akan mewarisi kebiasaan berbicara tanpa makna, berjanji tanpa bukti, dan berdiskusi tanpa solusi.
Mari tinggalkan omong pesot, gantikan dengan tutur berisi kata-kata lahir dari kesadaran, dikawal kerja nyata, dan menebar manfaat bagi sesama.
Sebab pada akhirnya bukan panjang bicara menentukan bobot seseorang, melainkan kedalaman makna terkandung di dalamnya. bertutur menyejukkan, bertindak menyejahterakan, dan berjanji tak pernah berujung omong pesot.
(Penulis Guru SMA Negeri 1 Bukit )
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









