Breaking News

TIGATubuh yang Berdiri di Antara Dua Cinta

Puisi Esai
L K Ara

Malam itu
di halaman Mangkunegaran,
tiga tubuh berdiri
di bawah cahaya.

Tidak ada kata.

Tetapi tubuh
kadang lebih jujur
daripada mulut manusia.

Satu tubuh
seperti seorang anak
yang masih ingin
memegang tangan ibunya.

Satu tubuh lain
seperti seorang suami
yang telah berjanji
menjaga perempuan
yang memilih berjalan bersamanya.

Dan satu tubuh lagi—
entah siapa—
mungkin dirinya sendiri,
seorang laki-laki dewasa
yang berdiri
di antara dua cinta.


Barangkali begitulah
banyak laki-laki Indonesia
menjalani hidupnya.

Pagi menjadi anak.

Siang menjadi suami.

Malam menjadi ayah.

Kadang menjadi saudara,
kadang menjadi tempat
orang-orang menitipkan
harapan.

Ia belajar
bahwa menjadi laki-laki
bukan hanya tentang
berdiri tegak.

Ada saatnya
ia harus berdiri
ketika dua orang
yang sama-sama dicintainya
menarik hidupnya
ke arah yang berbeda.

Ibu di satu sisi.

Istri di sisi lain.

Ia tidak ingin
meninggalkan ibunya.

Ia juga tidak ingin
melukai istrinya.

Tetapi kehidupan
sering bertanya
dengan cara yang keras:

“Pilih siapa?”


Ia diam.

Sebab memilih ibu
bisa membuat istri terluka.

Memilih istri
bisa membuat ibu merasa
anaknya telah berubah.

Lalu ia berdiri
di tengah.

Tetapi berdiri di tengah
ternyata bukan penyelesaian.

Sebab dua tangan
tetap menarik.

Dua hati
tetap meminta.

Dan seorang laki-laki
bisa kehabisan tenaga
hanya karena ingin
semua orang tetap bahagia.

Di panggung itu
tiga tubuh bergerak.

Menarik.

Menekan.

Bertabrakan.

Jatuh.

Bangkit.

Kembali berdiri.

Aku melihat
bukan sekadar pertunjukan.

Aku melihat
sebuah rumah
yang tidak terlihat.

Di dalamnya
ada ibu.

Ada istri.

Ada anak.

Ada cinta
yang kadang berubah
menjadi tuntutan.


Dari tubuh-tubuh itu
terdengar jauh
gema Saman,
Seudati,
Rabbani,
dan Guel.

Bukan untuk mengulang
tari-tari lama.

Tradisi itu
seperti ingatan
yang masuk ke dalam tubuh:

ritme,

pengulangan,

napas,

kebersamaan,

dan kekuatan
untuk tetap bertahan.

Tubuh Aceh
tidak sedang berkata:

“Lihatlah aku.”

Ia seperti berbisik:

“Ingatlah
dari mana kita berasal.”


Lalu aku mengerti
mengapa namanya
TIGA.

Bukan dua.

Sebab hidup
tidak selalu selesai
dengan memilih
satu dari dua.

Ada kemungkinan lain:

mencari ruang
agar keduanya tetap ada.

Sebagai anak,
ia tetap mencintai ibu.

Sebagai suami,
ia tetap menjaga istri.

Sebagai laki-laki dewasa,
ia belajar membangun
sebuah jembatan
di antara keduanya.

Bukan siapa menang.

Bukan siapa kalah.

Tetapi bagaimana
cinta tidak berubah
menjadi alasan
untuk saling kehilangan.


Mungkin itu
yang paling sunyi
dari pertunjukan ini.

Ia tidak memberi
jawaban mutlak.

Tidak ada hakim.

Tidak ada yang sepenuhnya benar.

Tidak ada yang harus
diumumkan sebagai pemenang.

Hanya seorang manusia
yang berusaha
tetap berdiri.

Dan mungkin
itulah hidup.

Kita sering mengira
kedewasaan berarti
berani memilih.

Padahal kadang
kedewasaan adalah
berani menanggung
akibat dari cinta
tanpa membiarkan
satu cinta
menghancurkan cinta
yang lain.


Malam semakin larut.

Tiga tubuh itu
akhirnya berhenti.

Cahaya perlahan redup.

Tepuk tangan
datang dari kejauhan.

Lalu mereka menunduk.

Aku pun menunduk.

Bukan hanya
untuk pertunjukan.

Tetapi untuk semua
laki-laki yang pernah
berdiri di antara
ibu dan istri,

antara kewajiban
dan perasaan,

antara masa lalu
dan rumah
yang sedang dibangunnya.

Mereka mungkin
tidak pernah berkata
apa-apa.

Tetapi tubuh mereka
telah bercerita.

Dan cerita itu
sangat sederhana:

jangan paksa cinta
untuk memilih
siapa yang harus hilang.

Sebab seorang laki-laki
barangkali tidak selalu
harus menjadi dua.

Kadang ia harus
menemukan dirinya
yang ketiga—

menjadi jembatan,
menjadi penyangga,
menjadi tempat
dua kasih
tidak saling melukai.

Dan ketika tirai
akhirnya tertutup,

yang tinggal
bukan hanya pertunjukan.

Ada doa kecil
di dalam dada:

semoga rumah-rumah kita
tidak terlalu cepat
meminta seseorang memilih.

Semoga ibu tetap menjadi ibu.

Semoga istri tetap menjadi istri.

Dan semoga seorang anak
yang telah menjadi suami
masih menemukan jalan
untuk mencintai keduanya—
dengan adil,
dengan sabar,
dengan diam
yang panjang.

CATATAN KAKI

1. TIGA
“TIGA” merupakan pertunjukan teater tubuh kontemporer yang berbicara tentang seorang laki-laki dewasa yang berada di antara berbagai tanggung jawab keluarga: sebagai anak, suami, ayah, dan saudara. Angka tiga menjadi metafora tentang usaha mencari posisi ketiga ketika kehidupan seolah hanya menyediakan dua pilihan.

2. Ibu dan istri
Ketegangan antara ibu dan istri merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan keluarga. Seorang laki-laki dapat mencintai keduanya dengan bentuk tanggung jawab yang berbeda. Persoalannya bukan menentukan siapa yang lebih penting, melainkan bagaimana menjaga agar cinta kepada satu pihak tidak menjadi alasan untuk melukai pihak yang lain.

3. “Ia memilih menjadi tiga.”
Kalimat ini bukan berarti menambah jumlah orang dalam konflik, melainkan mencari kemungkinan lain di luar pilihan biner: memilih ibu atau memilih istri. “Menjadi tiga” adalah metafora tentang posisi dewasa yang berusaha menjadi jembatan, penyangga, sekaligus penanggung beban.

4. Tiga tubuh laki-laki
Tiga tubuh dalam pertunjukan bukan sekadar tiga tokoh. Tubuh dapat dibaca sebagai tiga lapisan pengalaman: anak yang memiliki ibu, laki-laki yang memiliki istri, dan manusia dewasa yang harus mengambil tanggung jawab atas pilihannya sendiri.

5. Saman
Saman merupakan kesenian tradisional masyarakat Gayo yang dikenal melalui kekompakan gerak, ritme, repetisi, dan hubungan erat antarpemain. Dalam “TIGA”, unsur tersebut tidak dimaksudkan sebagai reproduksi tari Saman secara utuh, melainkan sebagai salah satu sumber energi tubuh dan musikalitas gerak.

6. Seudati
Seudati merupakan seni pertunjukan tradisional Aceh yang kuat pada ritme tubuh, hentakan, pola gerak, dan kekompakan kelompok. Dalam konteks “TIGA”, jejak Seudati hadir sebagai energi tubuh, bukan sebagai peniruan bentuk tari tradisional.

7. Rabbani
Rabbani merujuk pada bentuk kesenian religius yang berkembang dalam tradisi masyarakat Aceh. Unsur ritme, pengulangan, kebersamaan, dan energi spiritualnya dapat menjadi sumber inspirasi bagi eksplorasi tubuh dalam pertunjukan kontemporer.

8. Guel
Tari Guel merupakan salah satu kekayaan seni tradisi Gayo. Geraknya memiliki hubungan dengan simbol, karakter, dan ekspresi tubuh dalam kebudayaan Gayo. Dalam “TIGA”, Guel ditempatkan sebagai sumber ingatan tubuh, bukan sebagai bentuk tari yang direproduksi secara utuh.

9. Tubuh Aceh
“Tubuh Aceh” dalam puisi ini tidak hanya berarti tubuh fisik para pemain. Ia adalah metafora bagi ingatan, sejarah, tradisi, nilai, dan pengalaman masyarakat Aceh yang dibawa ke ruang pertunjukan melalui gerak.

10. Dua puluh lima tahun eksplorasi
Pernyataan tentang 25 tahun merujuk pada perjalanan eksplorasi tubuh yang menjadi latar artistik karya-karya Aceh Performing Arts ISBI Aceh. Perjalanan tersebut mempertemukan tradisi dengan pencarian bentuk pertunjukan kontemporer.

11. Tiga puluh ribu penonton
Angka 30 ribu merujuk pada jumlah penonton yang disebut dalam keterangan pertunjukan. Dalam puisi, angka tersebut diperlakukan sebagai gambaran tentang luasnya perjumpaan karya dengan publik, bukan sekadar angka statistik.

12. Curtain Call
Curtain call adalah momen ketika para pemain kembali tampil setelah pertunjukan selesai untuk menerima penghormatan dan respons penonton. Dalam puisi ini, curtain call diperluas maknanya menjadi penghormatan kepada perjalanan, tubuh, tradisi, dan semua orang yang telah menjadi bagian dari proses penciptaan karya.

13. “Jangan paksa cinta untuk memilih siapa yang harus hilang.”
Kalimat ini merupakan inti reflektif puisi. Ia tidak dimaksudkan sebagai jawaban mutlak atas konflik keluarga, tetapi sebagai renungan tentang kemungkinan menghadirkan kasih, tanggung jawab, dan keseimbangan dalam hubungan manusia.

14. Mangkunegaran, Surakarta
Halaman Mangkunegaran menjadi ruang pementasan “TIGA” dalam Solo International Performing Arts (SIPA) 2026, pada malam 12 September 2026. Ruang pertunjukan tersebut menjadi titik pertemuan antara pengalaman artistik Aceh dan penonton di Surakarta.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca