Oleh : Fathan Muhammad Taufiq
Memasuki usia pensiun atau lanjut usia (lansia) sering membuat sebagian orang merasa tidak nyaman, merasa tidak dihargai, merasa dikucilkan dan merasa tidak diperhatikan. Orang yang di mm asa aktifnya punya banyak kesibukan, banyak relasi, punya jabatan penting dan sering dicari orang, cenderung menjadi stress bahkan depresi, karena belum siap untuk memasuki kehidupan baru tanpa teman banyak, tanpa relasi,tanpa penghormatan bawahan, ini yang kemudian disebut dengan post power syndrome.
Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya, begitu yang sering kita dengar atau kita baca. Dan benar masa kejayaan seseorang ada batas waktunya, dan bagi orang yang bekerja baik di instansi pemerintah maupun swasta, pensiun adalah batas masanya. Bagi sebagian orang, pensiun justru berarti merdeka, bebas dari keterikatan, bebas dari aturan, dan bebas dari kegiatan rutin yang membosankan. Pun demikian, selama nafas masih dikandung badan, semua orang butuh kesibukan untuk menghilangkan rasa suntuk yang berpotensi menimbulkan stress. Tidak banyak orang yang mampu mengelola manajemen stress di masa pensiun, padahal sangat mudah untuk melakukannya, yaitu selalu berusaha untuk hidup senang dan tenang dalam kondisi apapun. Tidak melakukan aktifitas apapun dimasa pensiun, selain bisa menimbulkan stres, juga bisa mempercepat kepikunan yang dimulai dengan lupa pada hitungan, kata-kata dan ingatan.
Ada satu cara mudah, murah tapi efektif untuk mencegah stress dan pikun, yaitu mengembangkan hobi membaca dan menulis. Penelitian yang dilakukan para ahli menemukan jika hobi membaca dan menulis bermanfaat mencegah kepikunan di usia tua.
Membaca dan menulis juga bermanfaat membuat otak bekerja dengan baik bahkan ketika usia seseorang telah senja. Melansir dari laman liputan6.com, pada momentum Hari Otak Sedunia, dokter spesialis bedah Siloam Hospital Lippo Village (SHLV), dr Petra Octavian P Wahjoepramono, mengingatkan agar masyarakat lebih sadar untuk menjaga kesehatan otak. Dan salah satu cara termudah serta termurahnya adalah dengan membaca serta menulis. Kenapa? Karena menulis membuat tangan dan otak bekerja.
Dr. Petra mengatakan “Otak tetap harus dirangsang agar tetap sehat, misalnya dengan rutin membaca, menulis, berdiskusi atau menjalankan hobi yang bermanfaat dengan tujuan agar kesehatan mental tetap terjaga.”
Saat kesehatan otak lebih terjaga, ini akan membantu seseorang terhindar dari risiko pikun saat tua. Ini juga membuat seseorang terhindar dari masalah otak lain seperti penurunan kinerja otak atau melambatnya daya pikir. Seseorang yang menjaga kesehatan otaknya dengan baik juga berpotensi memiliki kebahagiaan yang baik dan terhindar dari stres.
Saat menulis, otak dipaksa menerima banyak informasi baru, sehingga daya ingat tetap aktif dan bisa mencegah atau mengurangi potensi kepikunan. Tidak hanya itu, ekspresi diri akan lebih mudah tersalurkan dengan menulis, dibandingkan dengan bentuk komunikasi verbal. Menulis juga dapat dilakukan kapan dan dimana saja, dan meski dalam kesendirian, aktifitas menulis bisa membuat kita seperti ditengah keramaian bersama teman, bersama alam, karena meski tangan yang bekerja, imajinasi kita bisa berkelana kemana-mana.
Pada orang yang mengalami pikun, gejala umum yang ditimbulkan adalah kesulitan melakukan aktivitas harian dengan baik, sering hilang ingatan dan sering bingung. Pada beberapa kasus, gejala pikun juga berupa kesulitan menemukan angka dan huruf, mengalami perubahan suasana hati dan mengalami perubahan perilaku.
Para ahli mengungkapkan jika cara termudah mencegah pikun adalah dengan rutin membaca, menulis, melukis atau melakukan aktivitas yang mengasah kreativitas. Selain itu, olahraga dan istirahat Selain itu, olahraga dan istirahat cukup juga sangat diperlukan. Yang terpenting lagi adalah penuhi nutrisi dan gizi tubuh secara baik. Pastikan untuk senantiasa bahagia dan menghindari stres apalagi depresi.
Mengapa menulis (dan membaca) bisa mencegah kepikunan dan mengaktifkan daya ingat? Saat menulis, otak dipaksa memproses dan menyaring informasi baru maupun lama yang tersimpan dalam ingatan. Aktifitas menulis juga merangsang sinkronisasi otak kiri dan otak kanan. Aktivitas ini membuat belahan otak kiri (logika) dan otak kanan (kreativitas) bekerja secara bersamaan dan seimbang, kebiasaan menulis juga bisa menjaga ketajaman mental. Kebiasaan menulis, seperti membuat buku harian, menulis opini atau artikel, menulis feature dan fiksi, membuat essay, dapat mencegah penyusutan fungsi kognitif agar tidak terjadi terlalu cepat di usia senja.
Saya punya teman penulis yang juga saya anggap sebagai “guru”, namanya Tjiptadinata Effendi, atau lebih akrab dipanggil Om Tjip, usianya saat ini sudah 83 tahun. Pria keturunan Tionghoa kelahiran 21 Mei 1943 ini sampai sekarang masih aktif menulis di berbagai media, tulisannya selalu aktual, ilmiah dan up to date, menunjukkan bahwa dalam usia setia itu beliau jauh dari kata pikun. Pemilik sasana kebugaran batin Waskita Reki ini juga sering memberi nasehat kepada yang lebih muda untuk tidak berhenti menulis, karena berhenti menulis sama saja dengan “membunuh” otak kita.
Dalam khazanah keislaman, menulis juga merupakan hal yang sangat dianjurkan. Sahabat Rasulullah yaitu sayyidina Ali bin Abi Talib Radhiyahu Anha pernah mengatakan “Ikatlah ilmu dengan menulis”, itu artinya ilmu apapun akan lebih langgeng atau abadi jika ditulis (dalam bentuk buku).
Imam Syafi’i juga menekankan pentingnya menulis, beliau mengatakan “Kalau ilmu itu ibarat hewan buruan, maka menulis adalah tali pengikatnya”, secara logika sangat mudah dipahami bahwa hewan buruan yang sudah ditangkap, akan lepas kembali jika tidak diikat dengan tali, begitu juga dengan ilmu, jika tidak ditulis akan hilang. Itulah sebabnya, meski beliau sudah lama meninggalkan kita, tapi kita masih bisa mempelajari ilmu beliau dari kitab yang beliau tulis, Al ‘Um adalah salah satu kitab yang beliau tulis yang sampai sekarang jadi pedoman bagi pengikut madzhab Syafi’i.
Begitu juga dengan para ulama besar, ilmuwan dan para penemu pengetahuan terkenal di dunia, bisa kita ketahui jejaknya karena ilmunya ditulis dalam buku.
Jadi, kalau ingin tetap enjoy di masa pensiun atau masa tua, terhindar dari pikun, jauh dari stress, maka mulailah menulis (dan membaca). Tidak ada kata terlambat untuk memulai, karena tidak ada batasan usia untuk mulai menulis. Tidak mesti menulis di media, membuat catatan harian juga merupakan aktivitas menulis yang bisa mencegah kepikunan dan stress di masa tua. Selain itu, menulis juga akan memberi manfaat bagi orang lain, dan ketika kita bisa terus bermanfaat bagi sesama, disitulah kebahagiaan hakiki dapat kita raih.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










