Catatan : Fathan Muhammad Taufiq
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, hujan di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, turun lebih cepat, padahal di daerah lain musim kemarau masih berlangsung, sehingga banyak mengakibatkan kekeringan dan kebakaran hutan.
Dalam istilah klimatologi, ini termasuk anomali cuaca (kondisi cuaca yang melenceng dari kebiasaan).
Pengalaman saya selama 10 tahun mencatan data curah hujan harian di wilayah Aceh Tengah, anomali cuaca seperti ini sangat jarang terjadi. Dari pengalaman saya, puncak curah hujan di wilayah tengah ini biasa terjadi pada tiga bulan terakhir (Oktober, November dan Desember) dan bisa berlanjut ke Januari tahun berikutnya.
Curah hujan yang terjadi diluar kebiasaan itu sulit diprediksi, baik intensitas, durasi maupun waktu turunnya. Ini yang harus diwaspadai oleh semua pihak, karena pasca bencana hidrometeorologi akhir tahun lalu belum sepenuhnya pulih. Kondisi bagian hulu yang cenderung masih labil, berpotensi terjadinya banjir bandang dan longsor susulan di beberapa titik rawan.
Belum stabilnya kondisi di hulu, dapat kita lihat dari kejadian jika terjadi hujan lebat dalam waktu agak lama, sungai-sungai kembali meluap dengan kondisi air keruh bercampur lumpur. Begitu juga dengan pemukiman yang kondisi drainasenya kurang baik, mudah tergenang air yang bercampur lumpur dan sampah.
Beberapa informasi menyebutkan, sungai dibawah jembatan Tenge Besi, Bener Meriah dikabarkan kembali meluap, sehingga menyulitkan kendaraan besar untuk melintas. Begitu juga perkampungan di Aceh Tengah seperti Mendale dan Toweren juga dikabarkan tergenang air kiriman dari hulu, meskipun volumenya tidak besar.
BMKG juga memprediksi, curah hujan masih akan terus terjadi di wilayah Aceh, khususnya di dataran tinggi Gayo dalam beberapa hari kedepan. Bahkan beberapa hari yang lalu, BMKG sempat mengeluarkan early warning (peringatan dini) terhadap kemungkinan terjadinya banjir bandang di dataran rendah akibat tingginya curah hujan di bagian hulu (dataran tinggi).
Belajar dari bencana hidrometeorologi tahun lalu, mestinya hujan lebat yang terjadi dua hari terakhir ini, menjadi sinyal bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan. Perlu juga kiranya edukasi mitigasi kepada masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana, khususnya tentang upaya evakuasi diri jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan. Tentunya ini butuh koordinasi dan sinergi stakeholder terkait, supaya tidak ada sikap saling menyalahkan, karena bencana harus dicegah dan ditanggulangi secara bersama.
Saran saya, tetap ikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG dan sedapat mungkin pihak terkait bisa cepat menginformasikan kepada masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi cuaca ekstrim, seperti hujan lebat dalam durasi lama.
Semoga kita semua terhindar dari bencana, kewaspadaan kita semua adalah kunci dari keselamatan kita.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









