Breaking News

Rom Tajuk, Harapan Baru Untuk Tingkatkan Ketahanan Pangan Di Gayo

Padi Gogo yang dikenal di Gayo dengan nama Rom Tajuk. Foto: Fathan Muhammad Taufiq

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq

KenNews.id – Ditengah upaya pemulihan pasca bencana hidrometeorologi yang terjadi beberapa bulan yang lalu, ada kabar baik datang dari kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terkait dengan upaya meningkatkan cadangan pangan di wilayah Gayo. Kabar baik itu tentang upaya masyarakat yang secara swadaya mulai mengembangkan padi Gogo atau padi ladang yang di dataran tinggi Gayo dikenal dengan sebutan Rom Tajuk.

Dibimbing dan dibina oleh para penyuluh pertanian dari BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Ketol, para petani di beberapa desa/kampung di kecamatan Ketol seperti desa Blang Mancung, Jalan Tengah, Rejewali, Pondok Balik dan Buter, memanfaatkan lahan bekas tanaman cabe untuk budidaya padi Gogo ini.

Menurut Koordinator BPP Ketol, Zulkarnain, pertumbuhan dan produktivitas padi Gogo di wilayah ini cukup bagus. Dari hasil panen pada musim tanam sebelumnya, produktivitas padi Gogo varietas Impago ini bisa mencapai 4 ton gabah kering panen (GKP). Sementara sampai dengan bulan ini, sudah ada sekitar 10 hektar lahan bekas cabe yang sudah ditanami padi Gogo, sebagian sudah menjelang berbuah.

Tentunya ini masih merupakan luas areal tanam yang masih kecil, tapi setidaknya bisa menjadi penggerak bagi petani lain untuk mengikuti para pelopor ketahanan pangan ini, sehingga perlahan luas areal pertanaman padi Gogo ini semakin besar.

Bencana hidrometeorologi yang baru lalu telah mengajarkan kita perlunya wilayah Gayo memiliki cadangan pangan sendiri, sehingga bisa mengurangi ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah.

Tentunya pengembangan padi Gogo ini merupakan terobosan yang sangat baik untuk meningkatkan cadangan pangan guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, mengingat wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah hanya memiliki luas lahan sawah yang sangat terbatas.

Sejatinya ada dua keuntungan menanam padi Gogo di lahan bekas tanaman cabe ini. Selain bisa menjadi lumbung pangan bagi petani, penanaman padi di lahan bekas tanaman cabe ini juga bisa memutus siklus hama dan penyakit tanaman cabe, sehingga ketika selesai panen padi, dan lahan itu akan kembali ditanami cabe, potensi serangan hama dan penyakit tanaman cabe akan jauh berkurang, ini tentu menguntungkan petani karena bisa mengurangi biaya produksi. Kenapa bisa demikian? Karena pada saat lahan ditanami padi Gogo, hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman cabe, terputus mata rantai makanannya, sehingga akan mati atau setidaknya populasinya berkurang secara signifikan, karena cabe dengan padi merupakan tanaman yang berbeda jenis.

Sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan ditengah keterbatasan areal lahan sawah, pengembangan padi Gogo ini tentu merupakan sebuah terobosan bagus, apalagi jika bisa dikembangkan pada areal yang lebih luas. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Ir. Nasrun Liwanza, MP memberikan respon positif terhadap upaya ini. Nasrun menuturkan, pihaknya sedang menunggu kedatangan benih padi Gogo yang nantinya akan dikembangkan di wilayah kecamatan Ketol dan Linge, namun tidak tertutup kemungkinan untuk dikembangkan di kecamatan-kecamatan lain yang memiliki potensi lahan.

Jika kabupaten Aceh Tengah mampu mengembangkan seribu hektar saja areal penanaman padi Gogo, diprediksi 4.000 ton gabah kering panen bisa dihasilkan, ini setara dengan 2.000 sampai 2.400 ton beras. Artinya ketergantungan pasokan beras dari daerah pesisir, secara bertahap akan bisa dikurangi. Secara ekonomis, tentu ini sangat baik, karena akan lebih banyak uang yang berputar di daerah ini.


Dari penelusuran yang pernah penulis lakukan ke kabupaten Bireuen, Pidie Jaya dan Pidie, setiap tahun wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah membutuhkan pasokan beras antara 50.000 sampai 70.000 ton dari ketiga kabupaten penghasil beras tersebut.
Ketika jalur logistik normal, mungkin itu tidak begitu menjadi masalah, tapi ketika jalur logistik terhambat akibat bencana misalnya, ketahanan pangan masyarakat Gayo ikut terganggu, dan itu sudah kita rasakan ketika daerah kita dilanda bencana hidrometeorologi beberapa waktu yang lalu.

Dari hasil penelusuran tersebut, bisa dicermati bahwa wilayah Gayo masih butuh areal pertanaman padi, baik padi sawah maupun padi ladang (Gogo) minimal 15.000 sampai 20.000 hektar. Ini bisa dicapai dengan memanfaatkan lahan kering secara optimal sebagai areal pertanaman padi Gogo, disamping intensifikasi lahan sawah yang ada.


Itulah sebabnya, seluruh stakeholder terkait harus berupaya maksimal untuk melakukan terobosan-terobosan baru guna meningkatkan cadangan pangan kita. Dan usaha tani padi Gogo ini menjadi harapan baru bagi masyarakat Gayo untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri, khususnya kebutuhan beras.

Semoga tulisan singkat ini mendapat respon dari para pemangku kebijakan, sehingga bisa menjadi program prioritas dalam perencanaan pembangunan daerah.