oleh : Fathan Muhammad Taufiq
Saat kusunggingkan senyum di bibir,
Sejatinya aku sedang menutupi luka,
Yang tak kutau kapan akan sembuh,
Aku hanya mampu membalutnya dengan do’a.
Saat tawaku terlihat lepas,
Sejatinya aku sedang menyimpan duka,
Yang tak kutau kapan akan bisa kulupa,
Aku hanya berusaha menerimanya dengan ikhlas.
Kenangan demi kenangan bersamamu,
Selalu melintas dalam ingatanku,
Dan aku memang tak ingin melupakannya,
Karena itu bagian dari lembaran sejarah kita.
Kutahu bahwa semua yang bersatu akan berpisah,
Tapi aku tak pernah merasa siap menerimanya,
Meski hati telah mencoba ikhlas menerima,
Tetap saja kenangan itu menyesak didada.
Bukan canda tawa bahagia kita,
Yang selalu menggoda untuk dikenang,
Tapi saat saat kita melewati masa sulit bersama,
Itu yang begitu sulit kulupa.
Meski sederet do’a kupanjatkan setiap hari,
Tapi rindu ini tetap saja tak terobati,
Karena bukan saja dirimu yang pergi,
Tapi separuh jiwaku juga ikut pergi bersamamu.
Kini hanya pusaramu sebagai pengobat rindu,
Yang bisa kujenguk sewaktu waktu,
Meski setiap kali mengunjungimu,
Tak mampu kutahan air mataku.
Takengon, akhir Oktober 2026.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










