Oleh: Tazkir, S.Pd., M.Pd.
KenNews.id – Masyarakat Gayo mengenal kata “tajuk” sebagai nama bunga. Namun, Tajuk Enang-Enang bukanlah semata rangkaian mahkota yang mekar di lereng perbukitan. Ia adalah saksi bisu peradaban, sekaligus penghubung antara masa kolonial dengan denyut nadi kehidupan masyarakat hingga hari ini.
Jalur legendaris ini bukan pula buah dari pembangunan modern. Ia dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1903, dan baru benar-benar rampung pada rentang 1913 hingga 1914. Dapat dibayangkan, tanpa alat berat, tanpa beton instan, hanya bermodalkan cangkul, pahat, dan linggis ditempa dari besi kasar. Tangan-tangan kuli paksa berpadu dengan masyarakat setempat mencurahkan keringat, bahkan nyawa, di setiap kelokan tajam Lembah Enang-Enang.
Mengapa Belanda begitu berkeras hati membangun jalur ini? Sebab Enang-Enang merupakan urat nadi penghubung Bireuen menuju Takengon, sekaligus jalur strategis bagi logistik dan pengawasan militer di dataran tinggi Sumatera.
Namun, waktu tak pernah berbaik hati kepada sesuatu tak dirawat dengan sungguh-sungguh.
26 November 2025 Hari itu, langit Gayo seolah menangis meraung raung. Banjir bandang yang dahsyat melanda Aceh, menerjang Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah tanpa ampun. Air bukan sekadar merendam, ia menggerus, mengguncang,dan pada puncak amukannya, mematahkan ujung jembatan legendaris Tajuk Enang-Enang di Pintu Rime Gayo.
Bukan sekadar jembatan yang hilang. Itulah mata rantai kehidupan terputus. Jembatan telah berdiri kokoh lebih dari satu abad itu lenyap hanya dalam hitungan jam , tersisa hanyalah tebing terbelah dan sungai yang meluap murka.
Selama tujuh bulan setelah bencana itu, jalan tersebut menjadi lahan terbengkalai sangat menyedihkan. Tanah longsor menumpuk di kedua sisi jalan reruntuhan jembatan berserakan di dasar jurang, tidak ada pergerakan berarti Pemerintah sibuk mengumpulkan, sementara rakyat di ujung jalan mulai kehilangan asa.
Tekad Mantan Mukim yang Mengguncang Kesunyian.
Juni 2026 Di tengah keheningan itu, muncullah seorang lelaki paruh baya bernama Syahrial Abadi.. Ia bukan pejabat berpangkat, bukan pula kontraktor bermodal besar. Sahrial Abadi hanyalah mantan mukim, pemimpin adat yang hatinya tak pernah pensiun dari rasa tanggung jawab terhadap kampung halamannya dan daerah. dengan tekad barangkali dianggap nekat oleh sebagian orang, ia menggandeng beberapa warga sekitar untuk bergerak bersama.Tanpa proposal, tanpa janji proyek mereka hanya memiliki satu senjata, yaitu niat tulus. Ditambah satu unit ekskavator, boleh jadi hasil kemurahan hati para penyewa alat berat di daerah itu.
Mereka mulai membersihkan puing demi puing. Satu demi satu, tumpukan tanah longsor dipindahkan dengan telaten. Bekerja di bawah terik matahari, dan kadang diguyur hujan yang seolah mengingatkan kembali trauma yang belum sepenuhnya pulih.
Saat mesin ekskavator itu meraung di Lembah Enang-Enang, dunia seakan berbisik, “Lihatlah, begini caranya orang kampung membangun kembali mimpinya.”
Gelombang Bantuan dari Segala Penjuru
Mulanya hanya segelintir orang yang turun tangan. Namun, ketika kabar tersiar bahwa Sahrial Abadi bersama warganya telah mulai bergerak, bantuan pun perlahan berdatangan bagaikan suluh yang menyala di tengah malam gulita.
Dari masyarakat, organisasi, pengusaha, pendidikan dari berbagai penjuru daerah mengalirlah bantuan logistik, material, dan tenaga. Ada yang membawa semen, ada yang memberikan donasi uang, makanan bagi para pekerja, ada pula datang langsung mencangkul di bawah koordinasi swadaya yang murni.
Tidak ada kontrak, tidak pula tender. hanyalah rasa memiliki mendalam terhadap jalan leluhur bernama Enang-Enang.
2 Juli 2026 Alhamdulillah, Jalan Itu Kembali Bernyawa
Kini, setelah kerja keras tanpa mengenal lelah, jalan tersebut berangsur membaik. Memang belum sekokoh kejayaan jembatan kolonial pada masanya, tetapi setidaknya kini sudah dapat dilalui kembali.
Kendaraan kecil kembali melintas perlahan. Para pedagang kembali berani membawa hasil bumi ke kota. Anak-anak sekolah tak perlu lagi memutar jauh menembus hutan belantara.
Namun, perjuangan belum sepenuhnya usai.
Masyarakat terus bergotong royong memberikan bantuan hingga hari ini, sebab mereka memahami bahwa jalan bukanlah sekadar aspal dan beton, melainkan denyut kehidupan yang tak boleh berhenti berdetak.
Syair Enang-Enang untuk Generasi Mendatang
Izinkan saya menutup catatan ini dengan kutipan syair dari almarhum Ibrahim Kadir, budayawan Gayo yang gubahannya masih menggema hingga ke lembah ini.
Enang-enang, mersah ujung
Geluni Payung Buntul gelengang.
Syair itu bertutur tentang keindahan , kepada kita semua, janganlah pernah menanti pahlawan turun dari langit. Kadang, pahlawan itu bernama Sahrial Abadi, yang menggenggam tanah longsor dengan tangan kosong, lalu berkata, “Mari kita bersihkan. Ini jalan kita.”
(Penulis Guru SMA Negeri 1 Bukit)
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









