TAKENGON | KenNews.id – Dugaan raibnya atap dan mobiler SD Negeri 11 Linge, Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, mendapat klarifikasi dari pemerintah kampung setempat. Reje Kampung Pantan Nangka, Sadirman, membantah adanya pencurian aset sekolah sebagaimana informasi yang sebelumnya berkembang di masyarakat.
Menurut Sadirman, atap seng dan plafon bangunan sekolah tidak hilang maupun dicuri, melainkan sengaja dibongkar dan diamankan di gudang desa untuk dimanfaatkan kembali bagi kepentingan umum.
“Atap dan plafonnya tidak raib. Semuanya dikumpulkan di gudang desa. Sengaja dibongkar untuk nantinya digunakan bagi kepentingan umum seperti masjid atau bangunan fasilitas umum lainnya,” kata Sadirman kepada KenNews.id, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, pembongkaran tersebut dilakukan karena SD Negeri 11 Linge direncanakan akan dibangun kembali di lokasi baru yang dinilai lebih aman dari ancaman bencana.
Menurutnya, lokasi sekolah yang lama sudah tidak layak dipertahankan karena telah tiga kali diterjang banjir.
“Pembongkaran dilakukan karena akan dibangun gedung baru di lokasi baru untuk sekolah tersebut dan lokasi yang sekarang sudah tidak layak karena sudah tiga kali banjir,” ujar Sadirman.
Sadirman juga menyebutkan bahwa pembongkaran atap diketahui oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah saat itu, Sukardi, serta turut dibantu oleh personel TNI.
Terkait mobiler sekolah, Sadirman mengatakan sebagian besar meja, kursi, dan perlengkapan belajar telah rusak akibat terendam banjir dan tertimbun material tanah longsor, bukan karena dicuri.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah, Salim Syah, saat dikonfirmasi KenNews.id mengaku belum memperoleh informasi secara rinci mengenai persoalan tersebut.
“Saya belum mendapatkan informasi detail tentang itu,” ujar Salim Syah.
Meski telah ada penjelasan dari pemerintah kampung mengenai pembongkaran atap sekolah, kondisi pendidikan di SD Negeri 11 Linge hingga kini masih memprihatinkan. Memasuki bulan kesembilan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut, para siswa masih belum dapat belajar di ruang kelas permanen.
Berdasarkan informasi yang diperoleh KenNews.id, proses belajar mengajar saat ini masih berlangsung di tenda darurat dan di selasar masjid setempat. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa dampak bencana belum sepenuhnya teratasi, sementara para siswa dan guru tetap berupaya mempertahankan kegiatan belajar di tengah segala keterbatasan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat segera merealisasikan pembangunan gedung sekolah di lokasi baru sehingga para siswa tidak lagi harus belajar di tenda maupun memanfaatkan fasilitas umum sebagai ruang kelas sementara.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









