TAKENGON | KenNews.id – Nasib SD Negeri 11 Linge di Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, kian memprihatinkan. Setelah diterjang banjir bandang dan tanah longsor pada akhir 2025, sekolah tersebut kini diterpa persoalan baru. Atap bangunan serta sejumlah mobiler sekolah diduga hilang sehingga memperparah kerusakan yang telah ditimbulkan bencana.
Hingga memasuki bulan kesembilan pascabencana, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di tenda darurat. Murid-murid terpaksa mengikuti pelajaran di bawah tenda karena ruang kelas yang semestinya dapat digunakan tidak lagi layak ditempati.
Sejumlah warga dan wali murid menduga hilangnya atap bangunan bukan semata-mata akibat bencana. Mereka menilai terdapat dugaan pencurian atau pembongkaran yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab setelah bencana terjadi.
Selain atap bangunan, sejumlah mobiler sekolah seperti meja, kursi, dan perlengkapan belajar juga disebut-sebut telah hilang. Kondisi tersebut membuat proses pemulihan sekolah menjadi semakin berat, sementara para siswa harus terus belajar dalam keterbatasan.
“Kalau hanya karena bencana, mungkin masih ada ruangan yang bisa dibersihkan dan digunakan. Tetapi sekarang atapnya sudah tidak ada dan sejumlah barang sekolah juga ikut hilang,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya kepada KenNews.id, Senin, 13 Juli 2026
Warga berharap aparat penegak hukum segera melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab hilangnya aset sekolah tersebut. Menurut mereka, jika benar terjadi pencurian atau pengambilan aset tanpa prosedur, pelakunya harus dimintai pertanggungjawaban agar tidak menambah penderitaan masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari bencana.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah, Salim Syah, saat dikonfirmasi KenNews.id mengaku belum memperoleh informasi secara rinci mengenai dugaan hilangnya atap maupun mobiler di SD Negeri 11 Linge.
“Saya belum mendapatkan informasi detail tentang itu,” ujar Salim Syah singkat.
Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya mempercepat pembangunan kembali gedung sekolah yang rusak akibat bencana, tetapi juga mengusut dugaan hilangnya aset negara tersebut. Mereka menilai, anak-anak di Kampung Pantan Nangka sudah cukup lama menjadi korban bencana. Jangan sampai mereka kembali menjadi korban akibat dugaan pencurian fasilitas pendidikan yang seharusnya melindungi masa depan mereka.
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.









