Breaking News

“Sedehhe Jelen Gayoku” Jalan dan Jembatan Belum Pulih

Kondisi jalan dari Bireuen menuju Bener Meriah yang masih susah dilewati. Foto: Tazkir

BENER MERIAH | KenNews.id. – Ungkapan pilu “sedehhe jelen Gayoku” menggambarkan kondisi jalan di wilayah Gayo hingga kini masih memprihatinkan. Lima bulan pasca banjir yang melanda Aceh, sejumlah ruas jalan utama lintas provinsi dan jembatan di Bener Meriah masih dalam kondisi rusak parah.

Seperti terlihat di beberapa titik, badan jalan berubah menjadi hamparan batu dan lumpur. Jembatan darurat yang dibangun hanya mampu dilewati dengan risiko tinggi.

Wilayah seperti Weh Porak, Tenge Besi, Enang-Enang (belum dapat dialui), hingga Weh Kulus menjadi contoh nyata betapa akses transportasi belum sepenuhnya pulih.

Masyarakat setempat mengaku kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari. Kendaraan roda empat, termasuk bus dan angkutan barang, harus ekstra hati-hati saat melintas. Bahkan, tidak jarang kendaraan terpaksa berhenti karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan.

Yang lebih memprihatinkan , ketika hujan turun meski hanya sebentar Weh Porak, air langsung meluap ke badan jalan. Arus menjadi deras dan membuat akses tidak dapat dilalui sama sekali. Kondisi ini membuat masyarakat semakin terisolasi, terutama di daerah pedalaman.

“Kalau hujan sedikit saja, jalan langsung tertutup air. Kami tidak berani melintas,” ujar Hardi salah satu warga.

Pantauan KenNews.id hingga saat ini 11 April 2026, belum terlihat tanda-tanda perbaikan permanen pada infrastruktur jembatan dan jalan tersebut. Perbaikan yang dilakukan masih bersifat sementara jika hujan sedikit saja air langsung menutupi jalan dan belum mampu menjawab kebutuhan jangka panjang masyarakat

Padahal ini jalan utama lintas Provinsi menuju Banda Aceh dan Medan, jalan dan jembatan tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan berbagai daerah serta mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan berdampak lebih luas terhadap perekonomian dan akses pendidikan.

Masyarakat tidak menuntut banyak. Mereka hanya berharap adanya perhatian serius dari pemerintah untuk segera memperbaiki jalan dan jembatan secara permanen. Harapan sederhana ini terus digaungkan di tengah keterbatasan mereka hadapi setiap hari.

“Sedeh he jelen Gayoku” bukan sekadar ungkapan, tetapi jeritan hati masyarakat merindukan akses yang layak dan aman untuk kehidupan mereka.

Penulis: Tazkir