Puisi Esai oleh L. K. Ara
Dalam dunia yang kian materialistik, puisi ini mengingatkan bahwa harta hanyalah titipan, dan bahwa memberi bukanlah soal jumlah, melainkan kesediaan hati untuk melepaskan, karena yakin bahwa yang sejati tak pernah hilang bila dititipkan kembali kepada Allah.
1
“Semua ini bukan milik kita,”
kata seorang guru tua di surau kecil pinggir sawah.
Ia menatap ladang yang menguning,
seperti sedang membaca lembar kitab yang terbuka di bumi.
“Bahkan harta yang kau kumpulkan bertahun-tahun,
itu pun hanya singgah,
seperti hujan yang mampir,
lalu kembali ke langitnya.”
Kami diam,
tertunduk di bawah cahaya lampu minyak.
Bicaranya perlahan,
tapi menembus seperti pisau tajam ke dalam dada.
“Memberi,” katanya lagi,
“bukan karena kita lebih kaya dari yang lain,
melainkan karena kita tahu—
segala sesuatu yang ada padamu,
hanyalah titipan Allah.”[^1]
2
Aku teringat wajah ibu,
yang dahulu selalu berbagi meski dapurnya hampir kosong.
Seekor ayam terakhir pun bisa berpindah ke tangan tetangga,
karena ada bayi yang menangis di rumah mereka.
Ibu tak pandai bicara,
tapi dalam sunyinya,
ia mengajarkanku:
bahwa memberi bukan tentang isi dompet,
tapi tentang isi hati.
Kini, ketika tangan ini punya sesuatu,
aku belajar membuka,
meski masih sering ragu,
masih dihantui rasa takut akan kekurangan.
Tapi di situlah medan perjuangan:
menaklukkan ego,
dan percaya bahwa Allah
tak pernah membiarkan tangan yang ikhlas tetap kosong.[^2]
3
Ikhlas adalah seni meluruhkan rasa memiliki.
Sebab tak ada yang abadi,
tak juga rumah besar,
emas yang mengkilap,
atau kendaraan mewah di garasi.
Semua bisa hilang dalam sekejap,
seperti embun yang lenyap saat matahari datang.
Yang tinggal hanyalah jejak:
apakah kita pernah memberi
atau hanya menyimpan?
4
Di desa kami,
ada seorang kakek penjual tempe
yang setiap Jumat selalu menyisihkan lima bungkus
untuk anak yatim di meunasah.
Padahal jualannya tak seberapa.
Saat ditanya, ia hanya tersenyum:
“Tempe ini bukan milikku.
Allah yang menitipkan—aku cuma antar ke alamat yang tepat.”
Ah, betapa ringan hidupnya.
Betapa lapang hatinya.
Aku malu sendiri,
sering kali menghitung terlalu banyak
sebelum memberi sehelai uang receh pun.
5
Sungguh,
memberi adalah cara kita menyalakan cahaya di jalan gelap.
Bukan untuk mereka saja yang menerima,
tapi juga untuk diri sendiri—
agar tak tersesat dalam keserakahan,
agar hati tak menjadi batu.
Sebab yang ikhlas memberi,
tak pernah benar-benar kehilangan.
Ia justru mendapat sesuatu yang tak terlihat,
tapi terasa:
ketenangan, keberkahan, dan cinta dari langit.
Catatan Kaki:
[^1]: Dalam tradisi Islam, segala sesuatu yang dimiliki manusia dianggap sebagai amanah atau titipan dari Allah. Ini selaras dengan nilai zuhud dan ridha yang diajarkan para sufi dan ulama tasawuf.
[^2]: Dalam kitab al-Hikam karya Ibn ‘Athaillah, disebutkan bahwa “tidak akan merasa takut kehilangan orang yang telah menyerahkan semua urusannya kepada Allah.” Prinsip ini menjadi fondasi dari keikhlasan dalam amal dan pemberian.










