Puisi Esai LK Ara
Di langit Gaza, hujan turun dari baja dan api—
bukan dari awan,
melainkan dari pabrik senjata yang dibaptis demokrasi.
Setiap roket bukan sekadar dentum,
melainkan kutukan bagi anak-anak
yang belum sempat mengeja kata “merdeka”.
Mereka tak tahu apa itu veto¹.
Tak pernah diajarkan apa itu geopolitik.
Yang mereka tahu:
rumah bisa lenyap dalam detik,
ibu bisa diam selamanya di pangkuan reruntuhan,
dan sekolah hanyalah bangunan dengan dinding bolong.
Sementara itu, di tanah seberang lautan,
ada hujan lain—
hujan yang tak membunuh dengan suara,
tapi dengan kesunyian yang korup.
Di Indonesia, langit pun menangis,
bukan karena perang,
melainkan karena anggaran yang menguap
lebih cepat dari air sungai di musim kemarau.
Korupsi² bukan peristiwa,
melainkan musim panjang yang tak pernah usai.
Ia turun dalam bentuk proyek fiktif,
bansos yang disulap³,
jalan rusak yang katanya “belum waktunya diperbaiki.”
Dan rakyat—
adalah ladang luas untuk dijanjikan,
dan dilupakan.
Apa bedanya dua hujan ini?
Gaza terbakar karena penindasan yang terang-terangan.
Indonesia digerogoti oleh tikus berbaju resmi⁴.
Keduanya membuat orang kehilangan rumah—
satu kehilangan dinding dan atap,
satu kehilangan harga diri dan masa depan.
Dan pada akhirnya,
dua negeri ini mungkin akan berdoa kepada Tuhan yang sama,
dengan bahasa yang berbeda,
namun luka yang serupa:
luka karena kekuasaan
yang selalu lupa
cara menjadi manusia.
Kalanareh, April 2025
Catatan Kaki:
1. Veto Dewan Keamanan PBB: AS secara konsisten menggunakan hak veto untuk menggagalkan resolusi terhadap agresi Israel di Gaza, meski terjadi krisis kemanusiaan yang masif.
2. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia: Pada 2023, Indonesia mengalami penurunan skor menjadi 34 dari skala 100 (Transparency International).
3. Skandal Bansos & Proyek Fiktif: Sejumlah kasus seperti korupsi bantuan sosial oleh pejabat kementerian dan proyek-proyek pembangunan fiktif menunjukkan lemahnya integritas birokrasi.
4. Korupsi Struktural: Diibaratkan sebagai “tikus berdasi” atau “tikus birokrasi”—korupsi di Indonesia bukan hanya persoalan individu, melainkan sistem yang memelihara keserakahan.









