Breaking News

HARGA SEORANG PENYAIR

L. K. Ara

Setiap puisi mempunyai jalan lahirnya sendiri. Ada yang lahir dari kegembiraan, ada yang muncul dari kesedihan, ada pula yang datang setelah menyaksikan begitu banyak kenyataan yang tidak lagi sanggup dipikul oleh hati. Puisi “Harga Seorang Penyair” saya tulis karena kegelisahan yang telah lama saya simpan. Kegelisahan itu bukan semata-mata tentang diri saya sebagai penyair, melainkan tentang nasib penyair pada umumnya—mereka yang menghabiskan seluruh hidup untuk menjaga api kebudayaan, tetapi sering kali dilupakan ketika bangsa sibuk menghitung nilai segala sesuatu dengan ukuran materi.

Saya telah menjalani kehidupan yang panjang bersama sastra. Puluhan tahun saya berjalan dari satu kota ke kota lain, dari satu panggung ke panggung yang lain, dari perpustakaan ke perpustakaan, dari sekolah ke sekolah, membawa puisi sebagai bekal hidup. Saya bertemu banyak penyair. Ada yang wafat dalam kesunyian. Ada yang meninggalkan dunia tanpa sempat melihat bukunya dicetak dengan layak. Ada pula yang sepanjang hidupnya tetap menulis, meskipun tidak pernah memperoleh penghargaan yang pantas. Mereka tidak berhenti berkarya karena bagi mereka puisi bukan pekerjaan, melainkan ibadah kebudayaan.

Pengalaman-pengalaman itulah yang akhirnya menjelma menjadi puisi Harga Seorang Penyair. Saya ingin mengatakan bahwa di negeri ini ada sesuatu yang jauh lebih murah daripada beras, garam, atau komoditas apa pun. Yang paling murah adalah umur yang dihabiskan untuk setia. Betapa banyak orang mengorbankan puluhan tahun hidupnya demi sastra, tetapi pengorbanan itu sering dianggap tidak bernilai karena tidak menghasilkan kekayaan.

Kita hidup dalam zaman ketika segala sesuatu diukur dengan angka. Kesuksesan dihitung dari besarnya rumah, mahalnya kendaraan, banyaknya pengikut di media sosial, atau tebalnya rekening bank. Dalam ukuran seperti itu, penyair hampir selalu tampak gagal. Ia tidak memiliki apa yang disebut kemewahan dunia. Tetapi sesungguhnya ia sedang mengumpulkan kekayaan yang lain—kekayaan batin, kekayaan bahasa, kekayaan pengalaman kemanusiaan, dan kekayaan sejarah yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Saya percaya bahwa penyair adalah penjaga ingatan sebuah bangsa. Ketika sebuah peristiwa mulai dilupakan, puisi akan mengingatkannya. Ketika sejarah mulai dipalsukan, puisi akan menyimpan kebenaran. Ketika hati manusia mulai mengeras, puisi akan mengetuknya dengan kelembutan kata. Itulah sebabnya saya menulis bahwa penyair memungut kata-kata yang tercecer, lalu menjahitnya menjadi ingatan bangsa. Kata-kata itu bukan sekadar rangkaian bunyi. Ia adalah jejak kehidupan manusia.

Saya berasal dari tanah Gayo, sebuah wilayah yang mengajarkan saya bahwa kata mempunyai martabat. Dalam tradisi Didong, syair bukan sekadar hiburan. Ia adalah petuah, pendidikan, kritik sosial, doa, bahkan jalan menuju kebijaksanaan. Saya tumbuh dalam lingkungan yang memperlakukan bahasa sebagai amanah. Karena itu, ketika saya memilih menjadi penyair, saya sesungguhnya sedang melanjutkan warisan kebudayaan yang telah hidup jauh sebelum saya dilahirkan.

Perjalanan hidup memperlihatkan kepada saya bahwa menjadi penyair berarti memilih jalan yang sunyi. Jalan ini tidak selalu dipenuhi tepuk tangan. Tidak jarang ia dipenuhi keraguan, kesepian, dan keterbatasan. Ada masa ketika buku-buku puisi sulit diterbitkan. Ada masa ketika penyair harus membiayai sendiri penerbitan karyanya. Ada masa ketika acara sastra hanya dihadiri segelintir orang. Namun, penyair tetap menulis. Kesetiaan itulah yang saya maksud sebagai harga yang sesungguhnya.

Saya mengenal banyak tokoh sastra Indonesia yang mengabdikan hidupnya bagi kebudayaan. Mereka tidak pernah menjadikan puisi sebagai alat mencari keuntungan. Mereka percaya bahwa sastra mempunyai tanggung jawab moral. Seorang penyair boleh miskin harta, tetapi ia tidak boleh miskin keberanian. Ia harus mampu mengatakan yang benar ketika banyak orang memilih diam. Ia harus tetap menjaga nurani ketika kekuasaan berusaha membeli suara-suara kritis.

Puisi Harga Seorang Penyair juga merupakan kritik terhadap cara masyarakat memandang kebudayaan. Kita sering bangga ketika seorang penyair memperoleh penghargaan internasional. Kita memuji namanya setelah ia terkenal. Tetapi ketika ia masih berjuang, kita sering membiarkannya berjalan sendirian. Kita menikmati hasil kerja kebudayaannya, tetapi lupa menghargai proses panjang yang telah dilaluinya.

Padahal, sebuah puisi tidak lahir dalam semalam. Di balik beberapa bait yang tampak sederhana terdapat puluhan tahun pengalaman hidup. Ada air mata yang tidak pernah diketahui pembaca. Ada perjalanan yang tidak pernah diceritakan. Ada doa yang dipanjatkan dalam kesunyian. Ada kegagalan yang diterima dengan sabar. Semua itu menjelma menjadi kata-kata yang kemudian dibaca hanya dalam beberapa menit.

Saya percaya bahwa penyair bekerja seperti petani. Petani menanam padi dengan penuh kesabaran. Ia tidak dapat memanen keesokan harinya. Ia harus menunggu musim. Demikian pula penyair. Ia menanam kata, menyiramnya dengan pengalaman, memupuknya dengan perenungan, lalu menunggu waktu yang tepat agar kata-kata itu berbuah menjadi makna.

Karena itu, saya tidak pernah menganggap puisi sebagai hiburan belaka. Puisi adalah cara saya berdialog dengan Tuhan, dengan alam, dengan bangsa, dan dengan diri sendiri. Melalui puisi saya belajar memahami penderitaan manusia. Melalui puisi saya belajar mencintai tanah kelahiran. Melalui puisi saya belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Dalam usia yang tidak lagi muda, saya semakin yakin bahwa yang akan tinggal bukanlah kekayaan, melainkan karya. Rumah dapat roboh. Jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berganti. Tetapi kata-kata yang lahir dari kejujuran mempunyai kemungkinan hidup jauh lebih lama daripada penulisnya sendiri. Karena itulah saya terus menulis.

Saya tidak pernah berharap semua orang menyukai puisi saya. Saya hanya berharap ada seseorang, entah kapan dan di mana, yang menemukan sebaris kalimat dari puisi saya, lalu merasa tidak sendirian menghadapi hidup. Jika itu terjadi, maka seluruh perjalanan panjang saya sebagai penyair tidaklah sia-sia.

Puisi Harga Seorang Penyair juga saya persembahkan kepada generasi muda. Saya ingin mereka mengetahui bahwa menjadi penyair bukanlah jalan menuju kemasyhuran yang cepat. Menjadi penyair adalah memilih kesetiaan. Kesetiaan kepada bahasa, kepada budaya, kepada bangsa, dan kepada hati nurani. Kesetiaan itu sering kali tidak memperoleh imbalan yang besar, tetapi justru di situlah letak kemuliaannya.

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan lebar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para guru, seniman, budayawan, penyair, dan semua orang yang menjaga rohnya. Peradaban tidak dibangun hanya dengan beton. Peradaban dibangun oleh gagasan, nilai, dan imajinasi. Penyair ikut meletakkan batu-batu kecil bagi bangunan besar yang disebut peradaban itu.

Saya menulis puisi ini bukan untuk mengeluhkan nasib penyair. Saya juga tidak sedang meminta belas kasihan. Yang saya inginkan hanyalah mengajak masyarakat melihat bahwa sastra mempunyai peran yang jauh lebih besar daripada yang sering dibayangkan. Ketika sastra dihormati, sesungguhnya yang dihormati adalah kemampuan manusia untuk tetap berempati, berpikir, dan menjaga kemanusiaannya.

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh kebencian, fitnah, dan perebutan kepentingan, penyair tetap percaya kepada kekuatan kata. Kata yang jujur mungkin tidak langsung mengubah dunia, tetapi ia dapat mengubah hati seseorang. Dan ketika hati berubah, sejarah pun perlahan berubah.

Bagi saya pribadi, puisi adalah jalan panjang menuju keikhlasan. Semakin lama saya menulis, semakin saya sadar bahwa penyair hanyalah perantara. Kata-kata yang baik bukan milik penyair semata. Ia adalah anugerah yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu saya selalu berusaha menulis dengan hati yang jernih, sebab saya percaya bahwa setiap kata kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Harga Seorang Penyair pada akhirnya bukanlah puisi tentang kemiskinan penyair. Ia adalah puisi tentang kemuliaan kesetiaan. Kesetiaan kepada nilai-nilai yang tidak dapat dibeli oleh uang. Kesetiaan kepada kebudayaan yang tidak boleh dijual demi keuntungan sesaat. Kesetiaan kepada nurani yang tetap menyala meskipun dunia sedang gelap.

Saya percaya bahwa selama masih ada orang yang menulis dengan jujur, bangsa ini tidak akan kehilangan harapan. Selama masih ada penyair yang memilih memelihara nurani daripada mengejar pujian, kebudayaan kita akan tetap hidup. Dan selama masih ada pembaca yang bersedia membuka hati terhadap puisi, kata-kata akan terus menjadi jembatan antara manusia dengan kemanusiaannya.

Akhirnya, saya menulis Harga Seorang Penyair sebagai ungkapan syukur sekaligus amanah. Syukur karena Tuhan masih memperkenankan saya mencintai kata hingga usia senja. Amanah karena saya percaya bahwa setiap bait yang lahir harus membawa manfaat bagi orang lain. Jika suatu hari nama saya dilupakan, saya berharap puisi-puisi saya masih dapat berbicara. Jika wajah saya tidak lagi dikenang, biarlah kata-kata saya tetap berjalan dari mulut ke mulut, dari buku ke buku, dari hati ke hati.

Sebab sesungguhnya harga seorang penyair bukan ditentukan oleh seberapa banyak penghargaan yang diterimanya, bukan pula oleh seberapa tinggi kedudukannya di mata dunia. Harga seorang penyair ditentukan oleh kesediaannya menghabiskan umur untuk setia kepada kebenaran, kepada kebudayaan, kepada bangsanya, dan kepada Tuhan. Kesetiaan itulah yang ingin saya abadikan melalui puisi ini. Dan selama napas masih berhembus, saya akan terus percaya bahwa kata-kata yang lahir dari hati yang tulus tidak akan pernah sia-sia. ‎


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca