Breaking News
UMUM  

Gajah Terusir dari Hutan, Konflik Meluas: FK-PECI Sindir “Rumah Gajah” dan Kebijakan Pagar

TAKENGON|KenNews.id Gajah terus bergerak. Bukan karena mereka ingin mendatangi manusia, tetapi karena ruang hidupnya semakin sempit.

Konflik manusia dan gajah di Lanskap Peusangan kini memasuki babak yang semakin mengkhawatirkan. Setelah lebih dari satu dekade, wilayah konflik yang sebelumnya hanya mencakup enam kampung kini disebut telah meluas hingga dua kali lipat.

Yang lebih mengkhawatirkan, pergerakan gajah kini semakin mendekati kawasan dengan kepadatan penduduk yang lebih tinggi di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.

Forum Koordinasi Peusangan Elephant Conservation Initiative (FK-P) dalam pernyataan persnya, Minggu (30/8/2026), menilai situasi tersebut sebagai alarm keras bagi pemerintah.

Sebab, selama ini penanganan konflik lebih banyak berkutat pada satu pola: gajah digiring, kebun dipagari, lalu ketika gajah muncul di tempat lain, kembali digiring.

Seperti permainan pingpong.

“Gajah dari sebelah barat Krueng Peusangan digiring ke bagian timur. Demikian sebaliknya,” tulis FK-P.

Pertanyaannya kemudian sederhana: sampai kapan gajah harus terus digiring?

Dari 75 Ekor, Kini Tinggal Separuh?

FK-P memperkirakan pada 2015 masih terdapat lebih dari 75 ekor gajah di sekitar Lanskap Peusangan.

Kini jumlah tersebut diperkirakan telah berkurang hampir separuhnya.

Di saat populasi gajah menyusut, wilayah konflik justru meluas.

Pada 2015–2016, konflik tercatat terjadi di sekitar enam kampung yang berada dalam tiga kemukiman, dua kecamatan dan dua kabupaten.

Sepuluh tahun kemudian, kampung terdampak disebut telah bertambah menjadi dua kali lipat.

Ironisnya, konflik bukan semakin menjauh dari manusia.

Gajah justru semakin dekat.

Pagar Berhasil Menyelamatkan Kebun, Tapi Menyisakan Pertanyaan: Gajah Makan Apa?

Berbagai metode telah dicoba.

Parit dibangun. Pagar listrik dipasang. Gajah digiring.

Untuk sementara, kebun mungkin menjadi lebih aman.

Tetapi ada satu persoalan yang tidak bisa diusir dengan pagar:

gajah tetap harus makan.

Menurut FK-P, ketika kebun-kebun tertentu sudah dipagari, gajah akan mencari kawasan lain yang lebih mudah dimasuki.

Akibatnya, konflik bergeser.

Dari satu kebun ke kebun lain.

Dari satu kampung ke kampung berikutnya.

Dari kawasan yang relatif jarang penduduknya menuju wilayah yang semakin padat.

“Jika seluruh kebun telah dipasang listrik, gajah kembali mencari kawasan lain yang lebih mudah dijangkau,” tulis FK-P.

Dengan kata lain, pagar mungkin menghentikan gajah memasuki satu kebun, tetapi belum tentu menghentikan konflik.

Ia hanya memindahkan konflik ke halaman tetangga.

Parit Dibangun, Gajah Mencari Jalan Lain

Parit penghalang gajah juga tidak luput dari kritik.

FK-P menyebut pembangunan parit memang sempat berhasil menahan pergerakan gajah. Tetapi gajah kemudian menemukan jalur lain yang tidak memiliki penghalang.

Persoalan lain muncul ketika konstruksi parit mengalami pendangkalan atau longsor akibat tergerus air.

FK-P menilai model parit berbentuk huruf “U” lebih rentan terhadap persoalan tersebut dan mengusulkan model berbentuk “L” agar lebih tahan.

Namun, persoalan terbesarnya bukan sekadar bentuk parit.

Sebab ketika satu kawasan ditutup, gajah akan mencari kawasan lain.

Konflik pun berpindah, bukan selesai.

30 Agustus: Gajah Makin Dekat ke Jantung Ketol

Peringatan itu kini semakin nyata.

Pada Minggu (30/8/2026), informasi mengenai gajah yang memasuki kawasan permukiman lebih padat di Kecamatan Ketol beredar luas di media sosial.

FK-P menyebut gajah bergerak menjauh dari kawasan Bergang–Karang Ampar dan mengarah mendekati ibu kota Kecamatan Ketol.

Padahal, menurut FK-P, sudah cukup lama kawasan tersebut tidak terdengar sebagai lokasi kemunculan gajah.

Tahun lalu, gajah mulai muncul di kawasan Pantan Reduk.

Kini arahnya semakin ke selatan.

Dan semakin dekat dengan manusia.

Jika tidak segera ditemukan solusi, FK-P memperingatkan kerusakan lahan pertanian akan semakin meluas.

Hutan Ketol: Koridor Gajah atau Koridor Ekonomi?

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius.

FK-P menyoroti aktivitas pembukaan kawasan hutan di Kecamatan Ketol yang beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial.

Sejumlah alat berat disebut terlihat bergerak menembus kawasan permukiman menuju belantara hutan, dengan perlengkapan yang diangkut menuju lokasi.

Menurut FK-P, saat itu otoritas menyebut aktivitas tersebut bukan pertambangan, melainkan pembukaan kebun kopi masyarakat.

Namun, FK-P menyatakan belakangan ditemukan lokasi-lokasi yang telah digali dan dinilai menyerupai aktivitas pertambangan.

Bagian ini tentu membutuhkan pemeriksaan dan verifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Namun ada persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar label “tambang” atau “bukan tambang”.

Hutan Ketol disebut FK-P merupakan jalur lintasan gajah dari Lanskap Peusangan menuju Pameu.

Jika jalur tersebut terganggu oleh pembukaan hutan maupun aktivitas ekstraktif, gajah bisa kehilangan jalur pergerakannya.

Dan ketika jalur hutan tertutup, ke mana gajah harus pergi?

Ke kampung.

“Rumah Gajah” Jangan Sampai Hanya Jadi Nama

FK-P juga menyoroti kawasan Karang Ampar yang disebut sebagai “rumah gajah” setelah adanya lahan yang diberikan Presiden Prabowo untuk kepentingan tersebut.

Tetapi FK-P mengingatkan:

Rumah tidak cukup hanya memiliki alamat. Rumah harus memiliki makanan, ruang gerak dan kondisi yang membuat penghuninya mau tinggal.

Karena itu, pembangunan kawasan khusus gajah harus dibarengi dengan perlindungan koridor alami serta penyediaan sumber pakan yang memadai.

Kalau koridor terputus, habitat terdesak dan sumber makanan berkurang, gajah tetap akan keluar mencari makan.

Maka jangan heran jika suatu hari “rumah gajah” berdiri, tetapi gajah justru memilih tinggal di kebun masyarakat.

FK-P: Jangan Jadikan Gajah Sebagai Masalah yang Terus Didorong ke Tetangga

FK-P menilai pembangunan fencing, parit dan penggiringan tidak akan cukup untuk menyelesaikan konflik apabila tidak disertai percepatan penetapan kawasan preservasi khusus gajah.

Diperlukan zona inti yang menyediakan pakan, habitat yang mendukung serta koridor alami yang tetap terjaga.

Masyarakat juga harus diperkuat melalui program agroforestri yang lebih tahan terhadap konflik gajah.

Sebab persoalannya bukan hanya bagaimana mengusir gajah.

Persoalannya adalah bagaimana manusia dan gajah bisa berbagi ruang.

Jangan Lawan Gajah dengan Listrik Tegangan Tinggi

Di tengah meningkatnya konflik, FK-P meminta masyarakat tidak mengambil tindakan yang justru dapat membahayakan manusia maupun gajah.

Jerat, kabel listrik bertegangan tinggi dan penggunaan mercon untuk menghalau gajah harus dihindari.

Masyarakat diminta tidak panik, tidak memperlakukan gajah secara kasar, menjaga jarak serta berkoordinasi dengan BKSDA.

FK-P juga mengingatkan pentingnya menggali kembali kearifan lokal masyarakat terdahulu dalam menghadapi kemunculan gajah.

Barangkali ada pengetahuan yang selama ini terlupakan dan masih bisa digunakan untuk menghadapi konflik tanpa melukai satwa.

Pemerintah Diminta Jangan Hanya Datang Saat Gajah Sudah Masuk Kampung

FK-P mendesak pemerintah pusat, Pemerintah Aceh serta pemerintah kabupaten di wilayah Lanskap Peusangan—Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen dan Aceh Utara—untuk duduk bersama mencari solusi lintas wilayah.

Termasuk melibatkan lembaga konservasi dan masyarakat sipil.

Menurut FK-P, akar persoalan harus diselesaikan dari hulu: tata ruang, perizinan, perlindungan koridor satwa dan penyadartahuan masyarakat.

Sebab gajah tidak mengenal batas administrasi.

Gajah tidak tahu mana wilayah Aceh Tengah, mana Bener Meriah, mana Bireuen.

Ia hanya mengikuti jalur yang secara ekologis telah digunakannya sejak lama.

Dan ketika jalur itu tertutup, manusia yang berada di ujung jalurnya akan menerima akibatnya.

Konflik ini akhirnya bukan lagi sekadar cerita tentang gajah masuk kebun.

Ini adalah cerita tentang siapa yang sebenarnya sedang kehilangan ruang hidup.

Manusia kehilangan rasa aman.

Gajah kehilangan habitat.

Dan jika pemerintah terus menyelesaikan konflik hanya dengan menggiring dan memasang pagar, maka bukan tidak mungkin sepuluh tahun ke depan pertanyaannya bukan lagi:

“Bagaimana mengusir gajah dari kampung?”

Tetapi:

“Mengapa gajah akhirnya sampai ke ibu kota kecamatan?”


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca