Oleh Isra Masjida
Dalam pergaulan sehari-hari, kita mungkin pernah menyaksikan seseorang yang sikapnya mendadak berubah ketika mendapat sedikit kelebihan materi, jabatan, atau panggung perhatian. Caranya membawa diri terkesan meninggi, bahasa tubuhnya enggan menunduk, dan tutur katanya selalu ingin terlihat paling dominan. Dalam khazanah bahasa dan kearifan lokal Gayo, fenomena perilaku ini kerap digambarkan dengan satu kata yang sarat makna: jengkat.
Secara bahasa, kata ini berakar dari medan makna yang sama dengan jingket—yaitu gerakan fisik berdiri atau berjalan di atas ujung jari kaki demi menaikkan tinggi tubuh secara buatan. Namun dalam ruang sosial dan rasa bahasa masyarakat Gayo, jengkat bergeser menjadi kiasan atas sikap sombong, gengsi berlebihan, dan perilaku “meninggi-ninggi” yang tidak berpijak pada kenyataan.
Jika diibaratkan dalam ranah spiritual, jengkat bukanlah sekadar masalah gaya hidup atau cacat etika pergaulan, melainkan sebuah penyakit hati (amradhul qalb). Sikap fisik yang berlebihan hanyalah gejala luar dari jiwa yang sedang sakit: jiwa yang dihinggapi rasa minder, dahaga akan pengakuan manusia, dan ketakutan mendalam jika terlihat biasa saja.
Ada perbedaan mendasar antara keteguhan diri yang sejati dengan penyakit jengkat. Kesombongan biasa sering kali berangkat dari rasa bangga atas apa yang benar-benar dimiliki. Namun jengkat lahir dari rasa kerdil yang ditutupi dengan topeng ketinggian yang rapuh. RasulullahSAW mengingatkan hakikat dari penyakit ini dalam sabdanya:
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)
Ketika penyakit jengkat menguasai dada, seseorang cenderung memandang sesama dari sudut “atas ke bawah”. Padahal dalam kacamata tauhid, sikap memaksakan diri tampil angkuh ini adalah kekeliruan fatal dalam memahami batas wewenang diri. Al-Qur’an secara tegas menegur gestur ini:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Teguran ini dipertegas lagi dalam Surah Al-Isra’ ayat 37, yang menyentil betapa kerdilnya usaha manusia saat berpura-pura perkasa: “…karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” Seberapa tinggi pun seseorang berjinjit (jengkat), ia tidak akan pernah sanggup menyamai tingginya gunung.
Dalam kearifan peri mestike (peribahasa) masyarakat Gayo, kepalsuan sifat jengkat ini disentil melalui kontras antara orang yang jengkat dengan pribadi yang beradab serta berjiwa pemimpin. Orangtua kita terdahulu mengajarkan bahwa orang yang berilmu ibarat pucuk rebung yang makin berisi makin menunduk. Sebaliknya, orang yang jengkat ibarat kayu lapuk yang ditegakkan—kelihatan tinggi dari jauh, tetapi jika disenggol sedikit saja langsung patah karena tak memiliki akar yang kuat.
Sikap ini mencederai prinsip mukemel (rasa malu yang positif untuk menjaga harga diri dan nilai Islam). Orang yang jengkat ibarat seseorang yang memakai jubah yang terlalu besar untuk tubuhnya; ia harus terus berdiri tegak dengan tumit terangkat agar ujung jubahnya tidak menyapu tanah. Kelihatannya gagah dari kejauhan, tetapi ia sedang tersiksa menahan beban yang bukan miliknya.
Lantas, jika jengkat adalah penyakit hati, apakah ada penawarnya? Agama dan kearifan tradisi menyediakan tiga penawar utama:
Menanamkan Kesadaran Tauhid (Mengetahui Batas Diri) Menyadari bahwa seluruh kelebihan—baik harta, ilmu, maupun jabatan—hanyalah amanah yang berbatas wewenang. Ketinggian sejati hanya milik Allah. Ketika seseorang sadar bahwa panggung dunia ini sementara, ia tidak akan merasa perlu berjinjit untuk mengejar pujian manusia.
Melatih Melazimi Kerendahan Hati (Tawadhu’)
Ibnu Ataillah as-Sakandari dalam Al-Hikam memberikan penawar yang sangat indah:
“Tanamlah dirimu dalam bumi tersembunyi (kerendahan hati). Sebab, sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam terlebih dahulu, hasilnya tidak akan sempurna.” Pohon yang kokoh tidak diukur dari seberapa cepat batangnya menjulang, melainkan seberapa dalam akarnya menghujam ke tanah. Belajar menunduk dan merasa cukup dengan diri sendiri adalah cara paling efektif meredakan kelelahan jiwa akibat berpura-pura tinggi.
Merawat Nilai Mukemel (Malu pada Kepalsuan)
Merawat rasa malu (mukemel) saat hendak memamerkan hal-hal yang bukan kapasitas kita. Lebih terhormat dikenal apa adanya dengan pijakan yang kokoh, daripada dikenal tinggi namun penuh kepalsuan.
Kearifan istilah jengkat warisan buah tutur leluhur kita adalah mutiara hikmah dan budi pekerti yang menjadi panduan dalam bersikap dan pengayaan kebijaksanaan dalam mendidik diri dan generasi. Ia telah sebagai cermin dan pengingat halus bagi kita semua. Kehormatan sejati tidak pernah didapat dari seberapa tinggi kita memaksakan diri berdiri di atas orang lain, melainkan dari seberapa tulus kita menapakkan kaki di bumi—menyadari batas diri, menjaga adab, dan tetap membumi di hadapan Sang Pencipta maupun sesama.
*) Penulis merupakan seorang ibu, PNS dan tinggal di Takengon
Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




