Breaking News

ELEGI JEMBATAN ENANG-ENANG

L K Ara

Untuk beberapa waktu,
Jembatan Enang-Enang hanyalah kenangan.

Ia tidak lagi membentang di atas sungai,
tidak lagi menyambut roda-roda pagi,
tidak lagi mendengar langkah anak sekolah,
atau derit gerobak petani yang pulang menjelang senja.

Ia rebah.

Seperti sebatang pohon tua
yang tumbang diterjang badai.

Air bah datang tanpa salam,
membawa lumpur, batu, dan amarah alam,
lalu menyeret tubuhnya ke dalam arus,
hingga yang tersisa hanyalah kesunyian.

Di tepinya berdiri orang-orang kampung.

Mereka memandang ke arah sungai,
seakan mencari sesuatu yang hilang.

Bukan hanya kayu dan besi.

Bukan hanya jalan yang putus.

Tetapi juga kemudahan hidup
yang selama ini mereka kenal.

Tujuh bulan berlalu.

Tujuh bulan yang panjang.

Tujuh bulan yang mengajarkan
betapa berharganya sebuah jembatan.

Anak-anak harus berjalan lebih jauh.
Petani harus memutar jalan yang panjang.
Pedagang harus menghitung kembali untung dan rugi.
Dan warga harus belajar bersabar
di tengah penantian yang tak kunjung selesai.

Setiap sore sungai tetap mengalir.

Seakan tidak tahu
bahwa di kedua tepinya
ada kerinduan yang sedang tumbuh.

Kerinduan kepada sebuah jembatan.

Kerinduan kepada kehidupan yang normal.

Namun kesedihan tidak selamanya tinggal.

Di tengah penantian itu,
lahirlah cahaya kecil.

Syahrial dan beberapa sahabatnya
memilih berdiri ketika banyak orang mulai letih menunggu.

Mereka datang bukan membawa janji.

Mereka datang membawa tekad.

Dan tekad itu menjalar
dari satu hati ke hati yang lain.

Warga berdatangan.

Ada yang membawa tenaga.
Ada yang membawa kayu.
Ada yang membawa paku.
Ada yang membawa makanan.

Ada pula yang hanya membawa doa.

Tetapi kadang-kadang,
doa adalah sumbangan yang paling kuat.

Maka di tepi sungai itu,
yang semula hanya ada kesedihan,
mulailah tumbuh harapan.

Palu berbunyi.

Kayu disusun.

Tangan-tangan bekerja.

Dan perlahan-lahan,
Jembatan Enang-Enang bangkit kembali
dari luka yang panjang.

Hari itu sungai tetap mengalir.

Namun airnya seakan lebih bening.

Anginnya seakan lebih teduh.

Dan langit tampak lebih lapang.

Karena yang berdiri kembali
bukan hanya sebuah jembatan.

Yang berdiri kembali adalah keyakinan
bahwa manusia masih mampu saling menolong.

Bahwa persaudaraan belum mati.

Bahwa gotong royong masih hidup
di dada masyarakat.

Kini Enang-Enang kembali membentang.

Kendaraan kembali melintas.

Anak-anak kembali berangkat sekolah.

Petani kembali membawa hasil panen.

Dan kehidupan kembali menemukan jalannya.

Tetapi bagi mereka yang pernah menyaksikan peristiwa itu,
Enang-Enang tidak lagi sekadar jembatan.

Ia adalah pelajaran.

Ia adalah kenangan.

Ia adalah doa yang menjelma kayu dan paku.

Ia adalah air mata yang berubah menjadi harapan.

Dan ketika suatu hari nanti
anak cucu bertanya tentang dirinya,

maka katakanlah:

“Di tempat itu pernah berdiri sebuah jembatan yang roboh karena bencana. Tetapi ia bangkit kembali karena cinta manusia kepada sesamanya.”

Sebab besi dapat berkarat.

Kayu dapat lapuk.

Bangunan dapat berubah.

Namun kebaikan yang pernah dilakukan bersama
akan tetap hidup

di dalam ingatan,

lebih lama daripada usia sebuah jembatan.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca