Breaking News

NASIHAT REJE LINGE UNTUK TAMAN BUDAYA NEGERI GAYOImajiner

L K Ara

Jangan
bangun
gedung
lebih dahulu.

Bangunlah
jiwa
yang akan
menghidupinya.

Sebab
rumah budaya

bukan
tempat
menyimpan
benda-benda tua.

Melainkan
tempat
masa depan
belajar
mengingat.

Jangan
jadikan
Taman Budaya

sebagai
etalase.

Jadikan ia
mata air.

Tempat
anak-anak Gayo
datang
bukan
untuk
berfoto,

tetapi
untuk
menemukan
asal-usul
suaranya.

Tanamlah
didong,

bukan hanya
di panggung,

tetapi
di dada.

Peliharalah
bahasa Gayo,

sebab
bahasa
yang hilang

adalah
kuburan
yang paling sunyi.

Jangan
malu
membaca
mantra
leluhur,

selama
ia
mengajarkan
adab,

kejujuran,

dan
kasih sayang.

Sebab
adat

yang sejati

tidak pernah
bermusuhan
dengan
agama.

Ia
berjalan
bergandengan.

Biarkan
penyair,

penari,

pemusik,

pelukis,

pemahat,

penenun,

dan
pendongeng

menjadi
penjaga
api.

Karena
bangsa

tidak runtuh

ketika
kehabisan
emas.

Bangsa
runtuh

ketika
kehabisan
cerita.

Wahai
Taman Budaya
Negeri Gayo,

jangan
sekadar
megah.

Jadilah
rumah.

Rumah
yang pintunya
terbuka

untuk
setiap anak
yang ingin
pulang

kepada
jati dirinya.

Sebab
Negeri Gayo

tidak akan
hilang

selama
budayanya
tetap
bernapas

di dalam
manusia.

Dan
itulah,

nasihat
seorang
Reje Linge,

yang memahami
bahwa
mahkota

bukan
terletak
di kepala,

melainkan

di hati
yang setia
menjaga
marwah
negeri.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca