Breaking News

Air Mata yang Mengetuk Langit

Syahrial berfoto bersama dengan masyarakat yang memberikan donasi untuk perbaikan jalan melalaui Jembatan Enang-Enang. Foto: LK Ara - Net

LK Ara

  • untuk Syahrial

Bukan umrah yang ditolak,
tetapi langit sedang mendengar
suara perut-perut
yang belum sempat kenyang.

Di tanah Gayo,
kabut pagi tak lagi sekadar embun,
ia menjelma doa
yang menggigil di bibir para ibu,
yang menyembunyikan lapar
agar anak-anak tetap percaya
bahwa esok masih ada harapan.

“Berikan kepada mereka, Pak…”

Kalimat itu
jatuh perlahan,
namun mengguncang langit.

Bukan karena nilainya,
melainkan karena hati
lebih luas daripada perjalanan
yang hendak ditempuh,

ketika di dalamnya
tersimpan kasih
untuk sesama manusia.

Aku melihat
setitik air mata
mengalir di sudut mata seorang lelaki.

Ia bukan air biasa.

Ia adalah sungai
yang menghubungkan bumi
dengan Arasy.

Sebab air mata
yang lahir dari keikhlasan,
tak pernah benar-benar jatuh ke tanah.

Allah menyimpannya
di dalam kitab rahmat-Nya.

Barangkali,
jalan menuju Baitullah
tak selalu dimulai
dengan pesawat yang terbang ke Makkah.

Kadang ia bermula
dengan mengenyangkan
satu keluarga yang lapar,
membelikan seragam
bagi seorang anak sekolah,
atau mengusap kepala
seorang yatim
yang kehilangan musim bahagia.

Maka,
jika hari itu
ada yang menangis di depan layar,
sesungguhnya bukan karena sedih.

Mereka sedang menyaksikan
bahwa kemuliaan
masih hidup
di dada manusia.

Ya Allah,
lipatgandakan rezeki
bagi setiap tangan
yang memilih memberi
ketika ia sendiri
berhak menerima.

Dan jadikanlah
setiap titik air mata
yang jatuh karena-Mu
sebagai mutiara cahaya
yang kelak menyala
pada hari ketika
tak ada lagi
yang mampu menolong
selain kasih sayang-Mu.


Catatan Kaki

Puisi esai ini terinspirasi oleh kisah nyata tentang seseorang yang mendapat hadiah menunaikan ibadah umrah, namun memilih mengalihkan dana perjalanannya untuk membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Keputusan tersebut lahir dari keyakinan bahwa menolong sesama yang membutuhkan merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Tokoh Syahrial dalam puisi ini menjadi simbol keikhlasan, empati, dan keberanian mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kepentingan pribadi. Adapun tanah Gayo dihadirkan sebagai latar sosial dan kultural yang merepresentasikan kehidupan masyarakat yang akrab dengan nilai gotong royong, kepedulian, dan semangat berbagi.

Puisi ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan nilai suatu ibadah dengan amal lainnya, melainkan untuk menegaskan bahwa kasih sayang, kepedulian, dan keikhlasan merupakan jalan mulia yang juga mengantarkan manusia kepada keridaan Allah SWT.